Kawan Seperjalanan

MG_2862

Selalu ada yang saya lupa dalam sebuah tulisan. Selalu ada kata yang hilang. Benar saja, bahwa Tuhan akan mengenalkan kita dengan rupa-rupa kawan baru di tempat yang kita namai perjalanan. Selain rupa itu, Tuhan mempersilakan kita mencicipi berjuta kemungkinan pada kesempatan-kesempatan yang kita tangkap.

Tuhan selalu adil dalam menemukan kawan dalam berjalan. Untuk hal yang berbau syukur, maka takkan ada tolok ukur yang terukur. Kembali pada kesadaran tertinggi kita dalam memaknai kepergian dan pemberian. Saya tidak terlalu baik dalam memberi definisi sebuah kata. Definisi membuat keterbatasan. Kata kawan, teman, karib, kerabat, sahabat, dan sekawannya, adalah contohnya. Kata-kata inilah yang lalu hadir mengisi ruang kata yang hilang itu. Saya benar-benar lupa mengenalkan ini dalam bab-bab pertama cerita petualangan ini.

Perkenalkan, nama kawan saya Zuhda Maulana, dia pernah bercerita panjang tentang rencananya melestarikan nama-nama kelurga yang akan dia wariskan kemudian. Sebut saja, nama ayahnya, berawalan Z, nama adiknya-adiknya juga berawalan Z. Sayangnya nama-nama mereka saya tidak mampu mengingatnya dalam sekali ucapan saja. Niatnya, nama anak yang dilahirkan dari rahim istrinya kelak juga akan diberi nama berawalan huruf Z. Sungguh terorganisir nama-nama awalan Z ini.

Kawan ini adalah kawan yang Tuhan pertemukan di Pare Institute Dormitory, salah satu asrama, camp, atau dormy terbaik yang ada di Kampung Inggris Pare Kediri. Saya dengan Zuhda atau Yuda, bersebalahan kamar. Kamarnya adalah satu-satunya kamar di dormy ini yang menggantung kipas angin cukup besar.

Alasan kipas angin itulah, saya akhirnya sering ngadem di kamarnya. Mulai hal remeh dan basi, hingga hal yang filosofis dan privasi. Tentunya percakapan kami adalah menggunakan percakapan bahasa Inggris yang sering dibantu dengan kalimat “How to say?”. Di kamar inilah lahir ide petualangan empat pulau. Kami sepakat menyebutnya “Four Islands Journey”. Jawa, Bali, Lombok, dan Sumbawa.

Dua cerita sebelumnya Kepergian Tak Pernah Sejati dan Menembus Pantai Pink – Lombok adalah bagian dari petualangan empat pulau ini yang kemudian bertambah satu pulau lagi yakni Pulau Gili Trawangan, jadilah lima pulau yang kami jajal dalam delapan hari petualangan.

Dalam testimoni yang saya tuliskan untuk dia, pendek saja, saya cuma bilang di kamus poket itu, kurang lebih semaksud ini:

“Saya beruntung dikenalkan dengan kawan yang takut dosa, apalagi jadi kawan perjalanan yang sangat pengertian”

Di akhir testimoni itu saya menitip doa,

“semoga Tuhan mempertemukan kita kembali pada rute petualangan yang lebih liar dan menantang”

Waktu itu di kepala saya menuruti keinginan dia – menaklukkan Taj Mahal, India. Sebuah rute yang menurut saya bukan hanya rute petualangan fisik yang menantang tapi juga sebuah penaklukkan atas keinginan menyelenggarakan sebuah perjalanan spiritual. Karena saya tahu, India adalah tanah Hindu yang sangat spiritualis.

Bahkan, perbincangan-perbincangan yang mengakhiri kebersamaan kami, seperti sudah terjadi kesepakatan untuk melakukan sebuah pertemuan kembali sebelum kami akan bersama merantai perjalanan spiritual itu. Bagi dia, India punya banyak kelebihan dibanding kota spiritual lainnya.

Dia enggan memberikan opsi perjalanan, Arab Saudi, kota suci umat Islam, sudah pernah ditaklukkan dalam sebuah rangkaian perjalanan spiritual bersama keluarganya. Bagian ini sangat jarang dia bicarakan. Mungkin dia menghindari dosa riya’ dan berbangga diri.

Tentunya, setiap insan punya celah dalam dirinya. Tapi sangat tidak elok menggambarkan itu disini, di ranah umum yang memang dilarang untuk dibicarakan kepada orang lain. Kelemahan adalah soal bagaimana kita memahaminya dan itu jelas adalah buah persepsi yang orang lain berikan.

Oh iyya, sekali lagi hal yang hampir lalai saya cantumkan, perkiraan saya, selama perjalanan mungkin sekitar 50 % – 70 % percakapan kami menggunakan bahasa Inggris. Maklum saja, kami ini masih sangat segar sebagai telur-telur yang dikeluarkan dari Kampung Inggris Pare Kediri.

Ada hal menarik selama perjalanan bersama dia, seorang gadis yang begitu ingin “memahaminya” juga hadir mengisi perbincangan kami. Lalu, saya menjadi batu loncatan untuk dia dan gadis itu. Saat itulah saya harus bisa memposisikan diri. Sesekali menjembatani, sesekali menghubungkan. Sulitnya adalah dua orang ini tidak saling memahami dan tidak pernah bertemu muka. Sekarang saya meninggalkan urusan itu kepada masing-masing mereka.

Itulah kawan perjalanan yang tak pernah cukup hanya dengan selebar atau dua lembar catatan reduksi. Pastilah masih banyak hikmah yang belum saya mengerti dan belum mampu saya petik dari tangkai-tangkai pertemuan. Sekali lagi, Tuhan selalu tepat mempertemukan kita dengan kawan seperjalanan.

Advertisements

3 Responses to “Kawan Seperjalanan”

  1. […] kami (saya dan kawan seperjalanan – Zuhda). Petualangan ini tak perlu tergesa-gesa, tak ada yang kami kejar di tiga pulau yang akan […]

  2. mujahidzulfadli Says:

    ccccc kkkkk,,,kesimpulan: keren sekali bahasa ta’. Pendek-pendek, ringkas, tapi ngena. Prosa. Seakan satu kalimat mewakili kesimpulan dari sebuah kejadian. Bisa jadi tafsir. Tapi ini malah membuka pelbagai tafsir lain bagi orang yang membacanya. inimi menariknya.

    “Selalu ada yang saya lupa (luput sepertinya) dalam sebuah tulisan. Selalu ada kata yang hilang”. (persepsi sy: mungkin bisa menjangkau keumuman “Selalu ada yang luput dalam sebuah tulisan. Selalu ada kata yang hilang”)

    “Ada hal menarik selama perjalanan bersama dia, seorang gadis yang begitu ingin “memahaminya” juga hadir mengisi perbincangan kami….Sekarang saya meninggalkan urusan itu kepada masing-masing mereka” (cobaki bayangkan imaji org yg baca ini. dgn paragraf yg pendek-pendek).

    “Itulah kawan perjalanan yang tak pernah cukup hanya dengan selebar atau dua lembar catatan reduksi….Tuhan selalu tepat mempertemukan kita dengan kawan seperjalanan”.

    tiga bukunya AW (titik nol) semua membicarakan peneman dia dalam perjalanan. menceritakan orang2 yang membantunya bertualang.

    • hahah, janganlah dibilang bagus broh. saya hanya berusaha mengendalikan lompatan ide yang masih menjadi masalah dalam mengarahkan alur cerita yang saya buat. itu hasilnya. pendek-pendek. saya lagi berusaha membuat tulisan gaya observer, tapi itu sepertinya saya butuh banyak usaha untuk kesitu.

      kendala diksi, juga masih mendominasi. kebanyakan diksi yang saya gunakan berulang pada setiap tulisan. hasil bacaan sangat sementara, abis baca hilang. huaahhh.

      salam blogger,
      terus aja gelorakan resolusi-revolusi.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: