Kepergian Tak Pernah Sejati

IMG_3222

Jangan pernah mengucapkan “selamat tinggal” yang di dalamnya kita meyakini akan meninggalkannya sampai mati. Mungkin suatu saat kita akan kembali dan berjumpa di kehidupan dunia ini. Kita tak pernah benar-benar tahu bagaimana cara kita akan kembali dalam pelukan.

Pesan kepergian tak pernah sejati hingga mati, suatu saat kita akan tahu rasanya dilupakan ataukah di suatu sore yang hampir petang orang-orang yang kita tinggalkan telah mengingat kita kembali. Itulah kepergian dan perpisahan  yang sulit ditebak kapan kita akan kembali dan kapan kita akan hilang kendali.

Oleh karena itulah, saya selalu menyiapkan sedikit ruang di ingatan bilamana suatu saat, kepergian yang lama itu harus saya datangi. Memeluk mereka yang dulunya adalah tumpuan, memekarkan senyum kerinduan pada mereka yang mengantarkan jauh hingga bermalam-malam.

IMG_3136

Saya kembali, setalah hampir enam tahun yang lalu, di awal tahun 2008 saya melambaikan tangan untuk meninggalkan. Di sini, di Teluk Santong, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa. Tempat kerabat dan banyak saudara saya menggali hidupnya. Di kampung pesisir yang digelari “Gerbang Mas”. Kampung yang cukup jauh dari rumah saya di Sulawesi. Tapi inilah keluarga yang tidak terbatasi oleh jarak.

IMG_3151

Kampong teluk yang lautnya nyaris dilingkari oleh semenanjung daratan yang menjorok keluar. Kampong pesisir yang tak ada pantainya, karena seluruh pantai menjadi pemukiman. Kampung yang ubur-uburnya sebesar ember. Kampung kecil tapi punya dermaga besar. Semangat hidupnya bernapas di laut. Kampung yang cuacanya selalu panas, memutlakkan kulit terlihat “hitam-manis”.

IMG_3169

Nene’ dan bibi saya menyambut dengan pelukan ramah. Orang –orang di sini banyak mengenal saya kerena peristiwa enam tahun silam. Pada waktu yang telah lampau itu, saya dihinggapi nyamuk malaria yang menidurkan saya cukup lama. Hampir sebulan dalam masa penyembuhan sebelum saya terbang ke Sulawesi. Maklumlah, kawasan timur Indonesia terkenal dengan nyamuk mematikan sang satu ini, malaria.

Didiagnosa oleh bidan desa,  diobati dokter di Puskesmas, disembur banyak dukun kampung, bahkan didatangi orang sakti mandraguna yang katanya mampu berkomunikasi secara spiritual dengan tujuh penguasa gunung tertinggi di Indonesia. Orang yang didatangkan jauh dari Sumbawa Kota.

Orang sakti inilah yang seingat saya, orang terakhir menyerahkan beberapa “bahan magic”  yang harus saya bawah ke Sulawesi. Sebagai simbol bala dari Pulau Sumbawa yang harus saya buang di muara sungai  kampong saya sendiri. Properti serupa siri, kapur dan buah pinang.

Belakangan saya telusuri, ternyata memang ketika seseorang dijangkit gejala ataupun penyakit malaria, maka sistem saraf akan diserang dan menimbulkan efek halusinasi. Puncaknya, saya tidak tersadar beberapa jam dan ketika saya telah membuka mata, rumah telah terisi penuh orang sekampung. Saya terkenal, karena disangka hampir mati, katanya kasus terakhir yang sejenis dengan yang saya alami nyawanya tidak terselamatkan.

Orang-orang menganggap saya kesurupan roh mendiang kakek saya yang telah wafat beberapa belas tahun yang lalu. Menilai saya sebagai cucu yang kurang sopan karena tidak bersiarah di pusaranya.

Menghubungkan aktifitas terakhir saya sebelum terkapar di pembaringan, saya dianggap lancang karena berani berenang di dermaga yang terkenal angker dengan penunggu lautnya. Mungkin lupa menyapa dan memberi salam pada “penjaga” kampong.

Lalu saya pulang dengan kondisi yang belum pulih betul, Ibu saya di Sulawesi sudah teramat khawatir , saya harus secepatnya meninggalkan kampong ini. Nama saya di Teluk Santong cukup santer hingga beberapa saat.

Maka, saat saya kembali memeluk kerabat  dan orang yang dulunya berperan dalam penyembuhan, tersenyum dan enggan untuk membahas peristiwa enam tahun lalu itu.

Pertemuan dan perpisahan, mungkin seperti dua sisi koin yang saling mengindahkan. Suatu saat, yang kita nampakkan adalah sisi perpisahan, dan suatu saatnya lagi yang belum diketahui, koin akan berbalik dan menunjukkan sisi pertemuannya. Untuk membalikkan koin itu, tentu butuh usaha. Begitu hingga ingatan kita benar-benar mati tentang pertemuan ataukah perpisahan.

Advertisements

2 Responses to “Kepergian Tak Pernah Sejati”

  1. […] Perjalanan ke Sumbawa adalah perjalanan tanpa destinasi, semakna dengan tulisan saya sebelumnya Kepergian Tak Pernah Sejati. Menjawab keinginan untuk melintasi empat pulau. Selebihnya seperti menuruti keinginan saya untuk […]

  2. […] cerita sebelumnya Kepergian Tak Pernah Sejati dan Menembus Pantai Pink – Lombok adalah bagian dari petualangan empat pulau ini yang […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: