Archive for December, 2013

Temu Blogger Kampus

Posted in Opini with tags , , , , on December 31, 2013 by mr.f

temublogger4

Sebelum mulai, perkenan kami mengucap basmalah.
the medium is message | Marshall Mc Luhan.

Temans, setelah melalui bincang-bincang ringan dan diskusi dengan beberapa temen Daeng Blogger, maka insya Allah kita berencana membuat KOPDAR bulanan. Tapi bahasannya mungkin agak lebih besar.

‘TEMU BLOGGER KAMPUS’. Kami beri nama untuk kopdar kali ini. Kita akan mengundang semua individu blogger maupun blogger komunitas (blog Bidik Misi, blog UKM, blog HIMA/BEM/MAPERWA, termasuk juga FLP Chapter di setiap kampus), dan semua yang merasa bahwa menulis adalah bagian dari menjaga kewarasan.

Temans sekalian, kami minta partisipasinya untuk mengundang semuanya. Silahkan saja. Pesertanya bebas. Semua kampus boleh ikut. Kami juga tidak begitu menginginkan antusiasme langsung besar dengan jumlah peserta yang besar. Dibuat santai saja.

Kami pun tidak bisa menebak apa desakan pemikiran yang muncul nantinya. Apakah akan membuat sebuah blog komunitas ‘BLOGGER KAMPUS’ yang lebih besar seperti contohnya komunitas ‘BLOGGER ANGING MAMIRI’ citizen reporter besar di kota ini. Ataukah hanya ajang silaturrahim. Bukanlah jadi masalah.

‘TEMU BLOGGER KAMPUS’
Tanggal: Sabtu 11 Januari 2014
Waktu: Pukul 15.30 WITA
Tempat: Menara Phinisi Lantai I

Oh iya, satu hal lagi. Temans di Daeng Blogger sendiri, mohon datangki kasi rame-rame. Hehe. Penanggung jawab kopdar kali ini Akhmad Saputra Syarif.
Silahkan kirimkan Nama_Jurusan/Fakultas_Universitas, ke no: 089652114428.

Burung Penunggu Pagi (Surat ke-2)

Posted in Opini, Penalaran with tags , , , , , on December 30, 2013 by mr.f

rumahnalar

Pada subuh yang masih sangat rapuh. Hentakan mesin jam mengusik sunyi. Juga, lamat-lamat burung penunggu pagi berbagi kicau. Tulus, serupa kasih ibu. Udara yang bisu mulai tersentuh.

Kicau burung penunggu pagi adalah pengikat batin saya dengan Rumah Nalar. Semacam cincin kawin sepasang kekasih. Pertemuannya hanya di pagi. Setelah itu; saya, pagi, Rumah Nalar dan burung penunggu pagi masing-masing punya cara mengisi hari.

Kondisi terindah memang bukanlah milik pagi dan burung penunggu-nya. Pagi dan batin saya tak pernah lengkap bila burung penunggu gagal berkicau atau sekedar bersiul sesekali. Surat tak lengkap ini mungkin hanyalah sampah di alam kata.

Burung penunggu pagi pun tak pernah tahu cara membaca surat. Juga demikian dengan Rumah Nalar yang lebih banyak bersabar. Saya hanya yakin di buta aksara-nya burung penunggu pagi dan Rumah Nalar, di sanalah terselip kunci kesaksian atas beberapa kejadian yang dirahasiakan Tuhan di mata manusia.

Mungkin ada yang mengingat, kejadian penting di Rumah Nalar hanya disaksikan oleh burung penunggu pagi. Rumah Nalar hanya meringis saat disayat sembilu oleh kebisuan manusia di dalamnya. Burung penunggu pagi menangis dengan menyamarkannya lewat kicauan. Mereka saksi yang diam saat manusia mulai bicara tentang kekeliruan.

Isyarat kicau dan tegarnya Rumah Nalar, tak pernah benar-benar dimaknai lewat aksi. Sejauh ini hubungan Rumah Nalar dengan burung penunggu pagi adalah hubungan yang saling meng-indah-kan. Burung penunggu pagi menyukai bersih, indah, dan nyaman. Rumah Nalar adalah penikmat keindahan. Manusia suka menodainya. Menyiakan simbol-simbol kebahagian yang ditawarkan oleh keduanya. Manusialah yang buta dan bisu pada pertanda.

Selamat pagi, untuk burung penunggu pagi dan Rumah Nalar yang setia menuggu tangan halus manusia untuk menjamahnya. Rumah Nalar, rumahnya peneliti muda. Rumah Nalar “Rumah Peradaban“.

ditulis di Rumah Nalar, 30 Desember 2013

Terasing di Pulau Gili Trawangan – Lombok

Posted in Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Run Away with tags , , , , on December 26, 2013 by mr.f

IMG_3440

Awan lebih sering menutup katub langit. Mentari menjadi malu dan tersipu. Di permulaan Desember inilah nampak jelas wajah langit yang mulai murung. Gelap, tidak jelas, seringkali meneteskan air mata. Tafsir atas air mata adalah tafsir yang sangat subjektif dan emosional, pendefinisiannya digantung pada perasaan yang berkelabat di dalamnya.

Wajah langit memang murung. Wajah ini justru menghantarkan saya pada sebuah ucapan syukur. Pada perjalanan empat pulau yang saya lakukan di delapan hari pertama bulan Desember. Berkah langit jatuh beruntun mengguyur penjuru bumi. Sedang cerah langit selalu memayungi pada saat yang benar-benar tepat. Panas tak ganas, hujan tercurah tak menyusahkan.

Karena wajah langit ini pulalah, jalan panjang yang saya lalui bersama kawan seperjalanan menaklukkan empat pulau sangat patut dibahagiakan. Perjalanan dengan menunggangi roda dua adalah perjalanan yang banyak bertumpuh cuaca. Hujan yang deras bisa menjadi blokade, panas yang terik juga mampu menambah rasa perih. Jadi, saat yang tepat adalah ketika wajah langit sedang murung, tapi tak juga sedang menangis.

Pada hari ke tujuh petualangan, langit kembali member izin. Hujan hanya merintih-rintih, tepatnya rintik-rintik. Sudah jam delapan pagi. Matahari di Mataram benar-benar tersipu malu. Ini waktu yang tepat mengorbitkan kenyataan, kami menambah satu pulau lagi yang harus di saksikan alamnya, Pulau Gili Trawangan.

IMG_3340

Jam sebelas jelang siang, saya sudah terasing di sana. Tak ada wajah yang pernah saya temui. Asing. Apalagi separuh rupa di sana adalah rupa-rupa asing. Saya hanya coba bayangkan, serupa inilah mungkin rupa yang akan saya temui bila di luar negeri. Paha sampai pangkalnya adalah pemandangan lumrah, bahkan ada yang tak berbenang sehelai pun.

Saya ingat nasihat seorang kerabat, bila berada di lingkungan asing semcam itu, pakailah kacamata hitam. Di negeri Kanguru, katanya seseorang bisa saja dipidanakan bila memelototi organ tubuh orang lain. Tapi sebenarnya bukan itu yang jadi alasan seringnya saya memakai kacamata. Sengatan panas yang tiba-tiba datang, akan membuat mata menjadi perih. Maka, kacamata adalah aksesoris yang lumrah bagi seorang pejalan.

Pulau Gili Trawangan, adalah pulau yang belakangan baru saya kenali. Pernah, rekan di kursusan Elfast Kampung Inggris, mempresentasikan Tourism Place-nya, NTB, maka tersebutlah Pantai Pink, Pantai Senggigi, dan Pulau Gili Trawangan yang menjadi andalannnya waktu itu. Pengetahuan dasar itu pulalah yang membuat kami nekat Menembus Pantai Pink – Lombok dan Terasing di Pulau Gili Trawangan – Lombok.

Mengunjungi pulau ini memang jauh lebih muda dibanding Menembus Pantai Pink – Lombok. Jalan mulus sedikit kelok dan turunan-tanjakan dari Pantai Senggigi akan menuntun kita sampai di keramaian penyeberangan Bangsal. Mata terpuaskan dari sisi kiri jalan, pasir putih mencerahkan. Nyiur melambai, bau laut mengudara.

IMG_3315

Penyeberangan dari Bangsal ke Pulau Gili Trawangan harganya juga tidak menguras. Parkirlah motor di tempatnya, dan membayar lima ribu. Impas. Aman. Menyeberanglah dengan boat yang terus stanby di sana jangan lupa banyak tiket pink sebesar lima belas rupiah. Sekali lagi, pakailah kacamata saat berada di atas laut. Sekalipun langit murung, kacamata akan memberi manfaat.

Di atas boat, akan banyak rupa di sana. Berbaur atau terasing. Suara saya menjadi begitu mahal untuk sekedar keluar dan berbasa basi. Orang nampak berkelompok-kelompok. Tapi lebih banyak yang memilih diam tak bersuara. Hanya setengah jam di atas boat dan sampailah saya di pulau kecil yang padat aktivitas ini.

Sudah masuk jam dua belas siang, jendela langit masih tertutup. Hanya sedikit rintik yang tertumpah. Karena, destinasi perjalanan ini sifatnya additional, kami tak bisa berlama dalam keterasingan. Saya hanya yakin, banyak juga orang yang merasa asing seperti saya di sini. Sayangnya, semua orang menikmati keterasingan. Kami pun larut di keterasingan.

Kemurungan langit yang semula hanya terlihat mengancam, akhirnya benar-benar menangis. Air mata langit tertumpah. Kami pulang bermandi hujan.

IMG_3346

IMG_3363

gili trawangan

IMG_3397

IMG_3375

IMG_3369

IMG_3405

IMG_3427

IMG_3378