Ber-Tengger di Bromo

bromo5

Pengalaman memang harus dibeli, mungkin dibeli dengan uang, atau ditukar dengan waktu, bahkan terkadang untuk merasakan pengalaman yang sensasional, nyawa menjadi taruhannya. Tapi definisi pengalaman tidak sesempit itu, pengalaman selalu seiring dengan perjalanan.

Dimana ada perjalanan maka disitu kemungkinan besar ada pengalaman. Semakin jauh perjalanan semakin dalam makna pengalaman yang akan dirasakan. Setidaknya itu yang saya pahami saat melakukan perjalanan tanpa mengabaikan penganut paham kontemplasi yang lebih menitikberatkan pada perjalanan batin.

Setiap orang tentunya berhak memberi definisi tersendiri atas perjalanan yang telah dilakukan sesuai dengan pengalaman yang didapatkan selama perjalanan. Perjalanan seseorang tidak boleh dibatasi oleh definisi. Karena manusia pada hakikatnya memang setiap saat melakukan perjalanan.

Beberapa bulan lalu, saya digoda oleh sebuah brosur paket perjalanan pendakian ke puncak Gunung Mahameru, iklan itu terus berputar di majinasi saya. Saya benar-benar tergoda, lalu saya mengumpulkan energi sebelum benar-benar memutuskan untuk melakukan regestrasi di panitia pelakasana.

Kenyataan berkata tidak pada niat saya, saya kehabisan semangat untuk mengikuti pendakian itu. Saya dibayangi oleh berbagai alternatif pendakian, juga persoalan halangan lainnya seperti biaya, tenaga, waktu, dan berbagai urusan lain yang membutukan penyelesaian.

Tuhan memberi saya kesempatan lain, berkunjung ke Kampung Inggris Pare – Kediri Jawa Timur, yang masih satu propinsi dengan lokasi di mana Gunung Mahameru berakar. Pendakian ke puncak Gunung Mahameru kembali menggelora, saya kembali tergoda. Disela-sela padatnya aktivitas belajar bahasa Inggris saya masih sempat berpikir bagaimana caranya bisa menapakkan kaki di puncak yang membahana itu. Lokasi syuting film 5 cm yang banyak diminati oleh kalangan muda.

Di Kampung Inggris – Pare tidak mengenal tanggal merah, hampir semua kursusan tidak memberi libur pada apapun jenis peringatan membuat merah angka di kalender, kecuali Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Saat menjelang Hari Raya Idul Adha, saya sebenarnya berencana melakukan pendakian bersama kawan-kawan di dormy ke Gunung Mahameru.

Berkenalan dengan Dokter

Lagi-lagi saya harus bersabar menjalani kenyataan, bahwa memang hanya Tuhan-lah yang punya hak untuk memutuskan menjadi nyata atau tidaknya rencana yang telah kita susun. Empat hari sebelum Hari Lebaran saya diserang diare, yang menurut diagnosa dokter, itu adalah gejalah DBD (Demam Ber-Darah), sejenak setelah mendengar penjelasan dokter saya bukannya menjadi sehat, saya justru semakin lumpuh.

Lalu saya membangun block mental, menangkis diagnosa sang dokter. Menyemangati diri sendiri dan terus menerus memberi sugesti positif. Saya disarankan datang lagi ke sang dokter dua hari setelah pemeriksaan pertama. Dalam hati saya menolak dan berkata, “saya akan sembuh dalam dua hari itu, dok!”

Ternyata, dua hari itu saya tidak segera pulih, tapi saya sudah enggan datang lagi ke dokter. Imbas diare itu bukan hanya mengajari saya berkenalan dengan dokter, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan pendakian ke Gunung Mahameru dan juga momen perayaan Hari Lebaran.

Tapi saya masih boleh bersyukur, si Walker, teman perjalanan saya, sudah berhasil menjejak di puncak Gunung Mahameru, meskipun bukan saya  yang menghentakkannya. Saya merasa, atas prestasi Walker sampai di puncak Mahameru, keinginan saya mendakinya telah terpenuhi.

Memang, untuk melakukan pendakian ke Gunung Mahameru, dari Kampung Inggris – Pare hanya dibutuhkan 300 ribu rupiah menggunakan jasa travel. Setelah menyiapkan uang 300 ribu rupiah, yang perlu kita persiapkan dengan matang adalah fisik. Syarat fisik inilah yang terus mematahkan semangat saya untuk me-reschedule pendakian ke Mahameru.

Menikmati Sensasi

Akhirnya, datanglah tawaran untuk melakukan perjalanan ke Kawah Gunung Bromo. Masyarakat sekitar Gunung Bromo disebut Masyarakat Suku Tengger, agamanya diklasifikasikan ke agama Hindu, mirip dengan agama Hindu tapi tidak sama persis.

Saya cukup membayar 135 ribu rupiah untuk menikmati paket perjalanan ke beberapa destinasi. Karena saya pakai jasa travel, maka saya harus patuh pada jam-jam yang telah diagendakan. Namun, agenda itu tidak lantas mengurangi sensasi saya memeluk dingin, menerjang lautan pasir, dan  berselimut debu.

Meskipun menyaksikan matahari terbit bukanlah hal yang asing, tapi menyaksikan dari dari view point adalah hal yang amazing. Dengan background Gunung Bromo dan Gunung Mahameru itu sangat pantas menjadikan sebuah gambar menjadi bernilai. Apalagi dinginnya pagi yang benar-benar menggigil, semakin mengeratkan ikatan antara imajinasi dan sensasi.

Lalu kita ditantang menaklukan lautan pasir, pasir yang berbisik. Membiarkan debu-debu menyelimuti sekujur tubuh. Menghiasi wajah dan menutup pandangan. Maka, sampai jugalah saya di Kawah Gunung Bromo, dengan mata yang sulit terbuka. Debu beterbangan dan punya kecepatan.

Berjalan sejam, lalu saya telah bertengger di Bromo. Menaklukan satu keinginan yang pernah terlontar dari bibir di suatu waktu yang lalu. Meresapi keberadaan, sejenak lalu beranjak menuruni tangga dan kembali menikmati badai pasir di perjalanan pulang.

bromo1

bromo4

bromo3

bromo7

Perjalanan ke Kawah Gunung Bromo adalah sebuah pengalaman, yang telah saya beli dengan uang, waktu dan energi. Di lain waktu yang akan datang, saya masih punya semangat untuk menaklukkan keinginan yang lebih besar.

Pare Institute, 27 Nopember 2013

Advertisements

11 Responses to “Ber-Tengger di Bromo”

  1. Hi there, I wish for to subscribe for this
    web site to get most up-to-date updates, thus where can i do it please assist.

  2. akbarmangindara Says:

    behhhh… kerennn abizzz..

  3. kereeeennnnya kaaak…..
    Ya Allah saya juga mau kesana B)

  4. mujahidzulfadli Says:

    wow,,mantap kanda.. Mudah-mudahan saya ditakdirkan pula untuk menjejak kaki di sana: Bromo, Tengger, Semeru.

    “pengalaman selalu seiring dengan perjalanan” | saya akan berjalan ke sana. Sementara menyiapkan langkah pertama dari kilometer nol. haha.

    • Yoi broh, mari melangkah, ikuti aliran takdir, dan kau akan bertemu dengan kenyataan.

      Basahi tanganmu dengan embun, biar kau tahu rasanya menyentuh langit!

      Doa sahabat selalu melekat untuk langkah-langkah yang hebat. Selamat berjuang!

  5. teringat foto dar atas truck dengan background bromo 😥 yang raib di “delete all” hhuuuuuaaaaaaaaaaaaaaa

    • hahaha Timi… Timi… kau mengingatkan saya dengan hal itu. Sudah hampir saya lupa. Iyya.. itu foto yang hebat, sayangnya lenyap.

      Ayoo ganti dengan foto yang lebih great, Bromo hanya selangkah dari Malang. Niat dan cari kawan!

      heheheh…

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: