Mengintip Mimpi Mereka

Di beberapa tempat, bintang terhampar begitu dekat dari kepalan tangan. Bahkan, saat kaki masih masih mendarat di tanah, tangan telah menggenggam bintang.  Maka, saya sepakat bahwa seluruh penjuru selalu ada guru yang kita temui. Mengajarkan, menuntun, dan pada saat bersamaan mungkin saja ada rasa iri yang bertumbuh.

Tanpa menyadari sepenuhnya, orang-orang di sekeliling kita itulah yang justru memompa semangat dan terus memicu diri menjadi lebih pantas untuk menggenggam bintang. Dan tiada kata terlambat untuk selalu bersyukur atas nikmat dipertemukannya kita dengan orang-orang yang bisa menginspirasi dan membuat jalan yang dulu gelap menjadi terang.

Di kesempatan ini, saya ingin mengenalkan beberapa orang yang saya intip mimpinya dan saya anggap memberi cahaya di  sunyinya jalan mendaki tempat di mana bintang itu begitu dekat. Dan mereka adalah orang yang berada dalam lingkaran keakraban.

Ineu, Anak Jakarta

Saya mengenalnya tahun 2011 di kegiatan Pelayaran Kebangsaan “Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari”, sudah akrab sejak itu, lalu dipertemukan kembali di Kampung Inggris Pare – Kediri tahun ini (2013). Dia adalah founder sebuah organisasi nirlaba yang diniatkan untuk membantu pendidikan anak-anak para TKI di daerah terpencil Serawak-Malaysia. Sudah dua angkatan voluntir yang berhasil diterbangkan ke sana.

Kemarin, (Kamis, 14/11/2013) saya bertemu untuk berpisah lagi. Begitulah pertemuan, walau di Pare jarang bertemu, tapi saya cukup menyerap banyak informasi dan berhasil mengintip mimpinya. Rasanya, belum terlalu lama saat dia mengatakan akan mendaftar beasiswa ke di luar negeri. Namun, saat menjelaskan alasan kepulangannya ke Jakarta, rupa-rupanya dia telah melolosi gerbang pertama menuju Jerman dan akan melakukan tes wawancara.

Waktu selalu singkat bagi orang yang hanya melihat hasil tanpa melihat proses yang berlangsung. Saya rasa, dia memang telah pantas untuk mendapatkan beasiswa-nya. Saya bangga telah mengenalnya, dan karena perkenalan itulah saya kembali melihat diri. Apakah saya telah pantas untuk melangkah ke negeri yang asing?

Ineu, Anak Jekardah

Ineu, Anak Jekardah

Fiker, Model dari Bengkulu

Kenal di Pare, teman sekamar, dan gokil. Mantan Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel. Stylish dan tampan seperti seorang model, namun ternyata dia sedang mempersiapkan diri untuk terbang ke Negeri Matahari Terbit – Jepang. Saya melihat sendiri, semua kelengkapan berkas atau dokumen telah dirampungkan, yang sedang dipersiapkan sekarang hanyalah persoalan komunikasinya.

Ada banyak yang membuat kita bisa mengatakan seseorang layak untuk bersekolah di luar negeri. Bagi Fiker, untuk bersekolah atau bekerja di luar negeri, tidak harus dengan beasiswa. Kalau kita telah memenuhi syarat  dan telah siap mengapa masih harus menunggu?

Fiker, Model dari Bengkulu

Fiker, Model dari Bengkulu

 Shofwan, Alumni Sudan

Walau hanya mengenalnya dalam waktu sebulan di Kursusan Elfast, tapi saya cukup memetik hikmah di balik kesuksesannya kuliah di Sudan. Usianya masih muda, dan bergelar Lc “Licence” lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Bagi saya, orang yang telah pernah kuliah di luar negeri itu sudah menandakan sebuah kemampuan di atas rata-rata.

Lalu apa pula maksudnya dia datang ke Kampung Inggris ini? Ternyata keinginan untuk berkuliah di luar negeri tidak terputus hanya sampai gelar Lc-nya itu. Tahun depan dia akan melanjutkan S2-nya di Malasya. Sekarang sedang mematangkan Bahasa Inggris. Semua persoalan memantaskan diri.

Shofwan (tengah), Alumni Universitas Internasional Afrika

Shofwan (tengah), Alumni Universitas Internasional Afrika

Saprian, Anak Riau

Teman sekelas di Elfast, sama seperti Shofwan, tahun depan akan terbang ke Eropa. Aplikasi beasiswanya diterima di dua negara, dia hanya perlu memilih Jerman atau Belanda. Disiplin dan cerdas, sebelum berangkat terbang ke Eropa, di sini, dia telah berusaha keras menerapakan beberapa budaya positif Eropa yang dia ketahui, seperti budaya antri, on time, dan berbagai budaya disiplin lainnya.

Mimpinya banyak dan membuat iri bagi siapapun yang mendengarnya. Mimpinya tidak hanya sekedar mimpi biasa, sebagian akan segera menjadi nyata. Terakhir, sebelum kami berpisah dia mengeluarkan kata-kata yang mungkin saja tidak begitu dia resapi, namun saya meresapinya begitu dalam. Dia bilang “kalau sudah di Jerman, nanti saya jemput di bandara”.

Rian (kanan), Anak Riau

Rian (kanan), Anak Riau

Kak Sri, Teman Kos

Saya kadang memanggilnya Kak kadang juga tidak. Satu angkatan di atas saya di kampus. Teman akrab sewaktu masih kos-kosan di Makassar. Dan sekarang sedang di Australia. Saya hanya berkomunikasi lewat Facebook, tapi perempuan ini berhasil membuat saya termotivasi.

Keberadaannya di Australia sekarang semakin menyadarkan saya, bahwa semua kemungkinan bisa terjadi. Dulu, saya tidak terlalu mendengar antusiasme-nya keluar negeri. Tau-tau sekarang sudah berkibar saja di luar sana. Tapi saya tetap memahami bahwa, dia pasti telah melewati proses sebalum berada di sana.

Kak Sry sedang di Australia

Kak Sri sedang di Australia

Semua orang sejatinya punya potensi dan kelebihan masing-masing. Tentunya, juga sudah pasti manusia punya celah untuk dihinggapi oleh kekurangan. Kita hanya harus selalu  membuka diri terhadap segala macam informasi yang diberikan oleh orang lain. Dan tidak merasa puas atas pencapaian yang kita dapatkan sekarang, namun bukan berarti kita tidak bersyukur atas itu.

Teman-teman akrab saya di atas adalah manusia biasa, sama seperti saya. Setelah mengintip mimpi mereka saya meyakini, bahwa mimpi saya pun bisa menjadi nyata senyata mimpi mereka. Yanng mesti saya lakukan sekarang adalah memenuhi semua syarat mimpi itu dan memantaskan diri atas mimpi itu.

Pare Institute, 15 November 2013

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: