Archive for November, 2013

Ber-Tengger di Bromo

Posted in Having Fun, Komunitas Daeng Blogger, Run Away with tags , , , , on November 27, 2013 by mr.f

bromo5

Pengalaman memang harus dibeli, mungkin dibeli dengan uang, atau ditukar dengan waktu, bahkan terkadang untuk merasakan pengalaman yang sensasional, nyawa menjadi taruhannya. Tapi definisi pengalaman tidak sesempit itu, pengalaman selalu seiring dengan perjalanan.

Dimana ada perjalanan maka disitu kemungkinan besar ada pengalaman. Semakin jauh perjalanan semakin dalam makna pengalaman yang akan dirasakan. Setidaknya itu yang saya pahami saat melakukan perjalanan tanpa mengabaikan penganut paham kontemplasi yang lebih menitikberatkan pada perjalanan batin.

Setiap orang tentunya berhak memberi definisi tersendiri atas perjalanan yang telah dilakukan sesuai dengan pengalaman yang didapatkan selama perjalanan. Perjalanan seseorang tidak boleh dibatasi oleh definisi. Karena manusia pada hakikatnya memang setiap saat melakukan perjalanan.

Beberapa bulan lalu, saya digoda oleh sebuah brosur paket perjalanan pendakian ke puncak Gunung Mahameru, iklan itu terus berputar di majinasi saya. Saya benar-benar tergoda, lalu saya mengumpulkan energi sebelum benar-benar memutuskan untuk melakukan regestrasi di panitia pelakasana.

Kenyataan berkata tidak pada niat saya, saya kehabisan semangat untuk mengikuti pendakian itu. Saya dibayangi oleh berbagai alternatif pendakian, juga persoalan halangan lainnya seperti biaya, tenaga, waktu, dan berbagai urusan lain yang membutukan penyelesaian.

Tuhan memberi saya kesempatan lain, berkunjung ke Kampung Inggris Pare – Kediri Jawa Timur, yang masih satu propinsi dengan lokasi di mana Gunung Mahameru berakar. Pendakian ke puncak Gunung Mahameru kembali menggelora, saya kembali tergoda. Disela-sela padatnya aktivitas belajar bahasa Inggris saya masih sempat berpikir bagaimana caranya bisa menapakkan kaki di puncak yang membahana itu. Lokasi syuting film 5 cm yang banyak diminati oleh kalangan muda.

Di Kampung Inggris – Pare tidak mengenal tanggal merah, hampir semua kursusan tidak memberi libur pada apapun jenis peringatan membuat merah angka di kalender, kecuali Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Saat menjelang Hari Raya Idul Adha, saya sebenarnya berencana melakukan pendakian bersama kawan-kawan di dormy ke Gunung Mahameru.

Berkenalan dengan Dokter

Lagi-lagi saya harus bersabar menjalani kenyataan, bahwa memang hanya Tuhan-lah yang punya hak untuk memutuskan menjadi nyata atau tidaknya rencana yang telah kita susun. Empat hari sebelum Hari Lebaran saya diserang diare, yang menurut diagnosa dokter, itu adalah gejalah DBD (Demam Ber-Darah), sejenak setelah mendengar penjelasan dokter saya bukannya menjadi sehat, saya justru semakin lumpuh.

Lalu saya membangun block mental, menangkis diagnosa sang dokter. Menyemangati diri sendiri dan terus menerus memberi sugesti positif. Saya disarankan datang lagi ke sang dokter dua hari setelah pemeriksaan pertama. Dalam hati saya menolak dan berkata, “saya akan sembuh dalam dua hari itu, dok!”

Ternyata, dua hari itu saya tidak segera pulih, tapi saya sudah enggan datang lagi ke dokter. Imbas diare itu bukan hanya mengajari saya berkenalan dengan dokter, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan pendakian ke Gunung Mahameru dan juga momen perayaan Hari Lebaran.

Tapi saya masih boleh bersyukur, si Walker, teman perjalanan saya, sudah berhasil menjejak di puncak Gunung Mahameru, meskipun bukan saya  yang menghentakkannya. Saya merasa, atas prestasi Walker sampai di puncak Mahameru, keinginan saya mendakinya telah terpenuhi.

Memang, untuk melakukan pendakian ke Gunung Mahameru, dari Kampung Inggris – Pare hanya dibutuhkan 300 ribu rupiah menggunakan jasa travel. Setelah menyiapkan uang 300 ribu rupiah, yang perlu kita persiapkan dengan matang adalah fisik. Syarat fisik inilah yang terus mematahkan semangat saya untuk me-reschedule pendakian ke Mahameru.

Menikmati Sensasi

Akhirnya, datanglah tawaran untuk melakukan perjalanan ke Kawah Gunung Bromo. Masyarakat sekitar Gunung Bromo disebut Masyarakat Suku Tengger, agamanya diklasifikasikan ke agama Hindu, mirip dengan agama Hindu tapi tidak sama persis.

Saya cukup membayar 135 ribu rupiah untuk menikmati paket perjalanan ke beberapa destinasi. Karena saya pakai jasa travel, maka saya harus patuh pada jam-jam yang telah diagendakan. Namun, agenda itu tidak lantas mengurangi sensasi saya memeluk dingin, menerjang lautan pasir, dan  berselimut debu.

Meskipun menyaksikan matahari terbit bukanlah hal yang asing, tapi menyaksikan dari dari view point adalah hal yang amazing. Dengan background Gunung Bromo dan Gunung Mahameru itu sangat pantas menjadikan sebuah gambar menjadi bernilai. Apalagi dinginnya pagi yang benar-benar menggigil, semakin mengeratkan ikatan antara imajinasi dan sensasi.

Lalu kita ditantang menaklukan lautan pasir, pasir yang berbisik. Membiarkan debu-debu menyelimuti sekujur tubuh. Menghiasi wajah dan menutup pandangan. Maka, sampai jugalah saya di Kawah Gunung Bromo, dengan mata yang sulit terbuka. Debu beterbangan dan punya kecepatan.

Berjalan sejam, lalu saya telah bertengger di Bromo. Menaklukan satu keinginan yang pernah terlontar dari bibir di suatu waktu yang lalu. Meresapi keberadaan, sejenak lalu beranjak menuruni tangga dan kembali menikmati badai pasir di perjalanan pulang.

bromo1

bromo4

bromo3

bromo7

Perjalanan ke Kawah Gunung Bromo adalah sebuah pengalaman, yang telah saya beli dengan uang, waktu dan energi. Di lain waktu yang akan datang, saya masih punya semangat untuk menaklukkan keinginan yang lebih besar.

Pare Institute, 27 Nopember 2013

Bersama Walker

Posted in Run Away with tags , , , , on November 17, 2013 by mr.f

Foto-0058

Manusia adalah mahluk pejalan. Senantiasa mencari dan menemukan. Ada yang mencari hingga ke palung samudera, lalu ada yang mendaki hingga ke atap dunia. Namun, adapula yang menemukan dalam kontemplasi yang diam. Tanpa berjalan tanpa bepergian.

Dan saya memilih berjalan pada imajinasi dan destinasi. Sesekali menjauh dari daratan, sesekali menjauh dari pandangan, dan mungkin saja hanya sekedar mengukur-ukur panjang jalanan. Untuk itulah saya punya kawan berjalan yang saya sebut Walker, sepatu pejalan saya.

Dalam sebuah mimpi, saya pernah bersamanya menempuh jalan jauh. Menerobos tumpukan salju yang menghalau langkah. Lalu bersama pula meringis karena panas di benua yang asing. Walker telah setahun menemani saya menapak dan menjejak langkah-langkah. Membekas pada tanah dan memberi warna pada sebuah cerita.

Kisah paling akhir bersama Walker adalah saat menaiki anak tangga kawah Gunung Bromo yang pada saat bersamaan warga lokal  Tengger sedang memperingati Hari Kuningan penganut Hindu. Walker berhasil mendesir di Pasir Berbisik yang masih satu kawasan dengan Gunung Bromo.

Dua minggu sebelumnya juga telah berhasil sampai di puncak Gunung Mahameru, namun sayangnya tak ada dokumentasi yang mengabadikannya.

Pare Institute, 17 November 2013

Mengintip Mimpi Mereka

Posted in Opini, Run Away with tags , , , , , on November 16, 2013 by mr.f

Di beberapa tempat, bintang terhampar begitu dekat dari kepalan tangan. Bahkan, saat kaki masih masih mendarat di tanah, tangan telah menggenggam bintang.  Maka, saya sepakat bahwa seluruh penjuru selalu ada guru yang kita temui. Mengajarkan, menuntun, dan pada saat bersamaan mungkin saja ada rasa iri yang bertumbuh.

Tanpa menyadari sepenuhnya, orang-orang di sekeliling kita itulah yang justru memompa semangat dan terus memicu diri menjadi lebih pantas untuk menggenggam bintang. Dan tiada kata terlambat untuk selalu bersyukur atas nikmat dipertemukannya kita dengan orang-orang yang bisa menginspirasi dan membuat jalan yang dulu gelap menjadi terang.

Di kesempatan ini, saya ingin mengenalkan beberapa orang yang saya intip mimpinya dan saya anggap memberi cahaya di  sunyinya jalan mendaki tempat di mana bintang itu begitu dekat. Dan mereka adalah orang yang berada dalam lingkaran keakraban.

Ineu, Anak Jakarta

Saya mengenalnya tahun 2011 di kegiatan Pelayaran Kebangsaan “Lintas Nusantara Remaja Pemuda Bahari”, sudah akrab sejak itu, lalu dipertemukan kembali di Kampung Inggris Pare – Kediri tahun ini (2013). Dia adalah founder sebuah organisasi nirlaba yang diniatkan untuk membantu pendidikan anak-anak para TKI di daerah terpencil Serawak-Malaysia. Sudah dua angkatan voluntir yang berhasil diterbangkan ke sana.

Kemarin, (Kamis, 14/11/2013) saya bertemu untuk berpisah lagi. Begitulah pertemuan, walau di Pare jarang bertemu, tapi saya cukup menyerap banyak informasi dan berhasil mengintip mimpinya. Rasanya, belum terlalu lama saat dia mengatakan akan mendaftar beasiswa ke di luar negeri. Namun, saat menjelaskan alasan kepulangannya ke Jakarta, rupa-rupanya dia telah melolosi gerbang pertama menuju Jerman dan akan melakukan tes wawancara.

Waktu selalu singkat bagi orang yang hanya melihat hasil tanpa melihat proses yang berlangsung. Saya rasa, dia memang telah pantas untuk mendapatkan beasiswa-nya. Saya bangga telah mengenalnya, dan karena perkenalan itulah saya kembali melihat diri. Apakah saya telah pantas untuk melangkah ke negeri yang asing?

Ineu, Anak Jekardah

Ineu, Anak Jekardah

Fiker, Model dari Bengkulu

Kenal di Pare, teman sekamar, dan gokil. Mantan Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel. Stylish dan tampan seperti seorang model, namun ternyata dia sedang mempersiapkan diri untuk terbang ke Negeri Matahari Terbit – Jepang. Saya melihat sendiri, semua kelengkapan berkas atau dokumen telah dirampungkan, yang sedang dipersiapkan sekarang hanyalah persoalan komunikasinya.

Ada banyak yang membuat kita bisa mengatakan seseorang layak untuk bersekolah di luar negeri. Bagi Fiker, untuk bersekolah atau bekerja di luar negeri, tidak harus dengan beasiswa. Kalau kita telah memenuhi syarat  dan telah siap mengapa masih harus menunggu?

Fiker, Model dari Bengkulu

Fiker, Model dari Bengkulu

 Shofwan, Alumni Sudan

Walau hanya mengenalnya dalam waktu sebulan di Kursusan Elfast, tapi saya cukup memetik hikmah di balik kesuksesannya kuliah di Sudan. Usianya masih muda, dan bergelar Lc “Licence” lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Bagi saya, orang yang telah pernah kuliah di luar negeri itu sudah menandakan sebuah kemampuan di atas rata-rata.

Lalu apa pula maksudnya dia datang ke Kampung Inggris ini? Ternyata keinginan untuk berkuliah di luar negeri tidak terputus hanya sampai gelar Lc-nya itu. Tahun depan dia akan melanjutkan S2-nya di Malasya. Sekarang sedang mematangkan Bahasa Inggris. Semua persoalan memantaskan diri.

Shofwan (tengah), Alumni Universitas Internasional Afrika

Shofwan (tengah), Alumni Universitas Internasional Afrika

Saprian, Anak Riau

Teman sekelas di Elfast, sama seperti Shofwan, tahun depan akan terbang ke Eropa. Aplikasi beasiswanya diterima di dua negara, dia hanya perlu memilih Jerman atau Belanda. Disiplin dan cerdas, sebelum berangkat terbang ke Eropa, di sini, dia telah berusaha keras menerapakan beberapa budaya positif Eropa yang dia ketahui, seperti budaya antri, on time, dan berbagai budaya disiplin lainnya.

Mimpinya banyak dan membuat iri bagi siapapun yang mendengarnya. Mimpinya tidak hanya sekedar mimpi biasa, sebagian akan segera menjadi nyata. Terakhir, sebelum kami berpisah dia mengeluarkan kata-kata yang mungkin saja tidak begitu dia resapi, namun saya meresapinya begitu dalam. Dia bilang “kalau sudah di Jerman, nanti saya jemput di bandara”.

Rian (kanan), Anak Riau

Rian (kanan), Anak Riau

Kak Sri, Teman Kos

Saya kadang memanggilnya Kak kadang juga tidak. Satu angkatan di atas saya di kampus. Teman akrab sewaktu masih kos-kosan di Makassar. Dan sekarang sedang di Australia. Saya hanya berkomunikasi lewat Facebook, tapi perempuan ini berhasil membuat saya termotivasi.

Keberadaannya di Australia sekarang semakin menyadarkan saya, bahwa semua kemungkinan bisa terjadi. Dulu, saya tidak terlalu mendengar antusiasme-nya keluar negeri. Tau-tau sekarang sudah berkibar saja di luar sana. Tapi saya tetap memahami bahwa, dia pasti telah melewati proses sebalum berada di sana.

Kak Sry sedang di Australia

Kak Sri sedang di Australia

Semua orang sejatinya punya potensi dan kelebihan masing-masing. Tentunya, juga sudah pasti manusia punya celah untuk dihinggapi oleh kekurangan. Kita hanya harus selalu  membuka diri terhadap segala macam informasi yang diberikan oleh orang lain. Dan tidak merasa puas atas pencapaian yang kita dapatkan sekarang, namun bukan berarti kita tidak bersyukur atas itu.

Teman-teman akrab saya di atas adalah manusia biasa, sama seperti saya. Setelah mengintip mimpi mereka saya meyakini, bahwa mimpi saya pun bisa menjadi nyata senyata mimpi mereka. Yanng mesti saya lakukan sekarang adalah memenuhi semua syarat mimpi itu dan memantaskan diri atas mimpi itu.

Pare Institute, 15 November 2013