Aforisme Punggung Gunung

40

Inilah sepotong aforisme KBIN2013, disisakan oleh “pejalan” yang mencicipi secuil kenyataan yang diresapi manusia punggung gunung Desa Benteng.

Kami baru seminggu berlabuh di punggung gunung-gemunung yang labil ini. Tapi, tiupan angin dan riuhnya dedaunan kemiri yang berseloroh justru kian sungkan membuat kami lupa pada suasana. “Kami” adalah “pejalan” yang singgah menambah riuh dedaunan kemiri itu. Menembus batas keraguan, menghampiri kenyataan yang dirasakan manusia-manusia punggung gunung.

Manusia-manusia itu begitu tulus menerima “pejalan” yang jumlahnya puluhan ini. Kami tidak hanya berhasil menambah riuh dedaunan kemiri, tapi kami juga berhasil menggemparkan kerikil-kerikil jalanan yang setiap harinya menjadi saksi “pejalan” ini berlalu lalang.

Tidak menyangka secepat itu banyak tumbuh benih cinta di antara barisan pohon kemiri yang sudah berumur puluhan tahun. Memang pohon kemiri itulah yang layak menjadi “mahluk” yang paling banyak tau tentang isi percakapan-percakapan manusia yang menumpang di punggung gunung ini.

Mulai dari mekarnya senyum, kuncupnya tawa riang, ikhlasnya tawaran tumpangan makan, garingnya senda gurau, lemah dan lembutnya tatapan, eratnya jabatan tangan, hangatnya pelukan saudara, dinginnya sindiran, perihnya percikan minyak goreng, sangarnya lolongan anjing, hingga pecahnya tangisan. Itu semua bisa terjadi kapan dan di mana saja.

Maka, cinta itulah yang jadi landasan gerak para “pejalan” menapaki kerikil-kerikil jalanan, membisiki ucapan-ucapan, melintasi titik-titik kesunyian, mengabdi, dan berbagi kenyataan. Cinta itulah, menguatkan yang lemah, mengeratkan yang longgar, menyatukan yang bercerai, dan yang terpenting cinta itulah yang menerbitkan kebahagiaan pada hati kami.

Bila pagi langit di punggung gunung ini berkabut tipis, bila siang mentarinya suka tersipu malu, langitnya membiru suci, sedang bila malam langitnya bertabur kismis bintang gemintang. Langit yang sungguh sukar terlupakan.

Hujan tiba-tiba menyergap kebersamaan yang baru saja tumbuh di bumi ini. Di bumi yang tinggal sejengkal dari langit. Desa Benteng, yang bila malam, langitnya tersemai bintang-bintang yang tidak lazim di bumi lainnya.

Hujan ini pula ternyata menjadi pertanda terpisahnya kepingan masa antara manusia “pejalan” dengan manusia punggung gunung. Hujan yang menyamarkan jatuhnya tetes-tetes kristal air mata. Hujan yang membasahi bumi dan wajah manusia.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: