Archive for September, 2013

Belajar di PARIS (Pare-Inggris)

Posted in Run Away with tags , , , , on September 29, 2013 by mr.f

DSC_0048

***

Sebenarnya matahari tidak tenggelam. Hanya bumi saja yang terus berputar. Hingga manusia lupa bahwa telah banyak yang ditinggalkan di belakng waktunya. Percuma terus berandai, apalagi menyesali. Kita hanya harus terus bersiap dengan waktu yang akan datang.

Angin di sini terus bertiup. Membawa terbang serbuk-serbuk kerinduan. Langit sore suka menjingga. Seperti merayu gelap yang akan segera menyembunyikannya.

Saya belum mampu berpindah dengan utuh dari sebuah posisi nyaman. Wajah adaptasi masih nampak jelas. Di sini banyak kebiasaan yang harus dimulai. Seperti hidup baru. Menata tingkah laku. Memfokuskan langkah pada cita-cita. Seorang yang punya harapan layaknya memang harus berkorban terlebih dahulu.

Meninggalkan kesenangan masa muda yang banyak dipahami keliru oleh anak muda. Seperti membuang-buang waktu lalu menciptakan banyak calon penyesalan di hari tua.

Muda susah payah, tua kaya raya, mati masuk surga.

Di sini saya harus bangun lebih awal. Jauh sebelum mentari tersenyum. Sebuah konsekuensi hidup di asrama. Jam 4 subuh lewat, saya sudah tidak punya alasan untuk tetap di tempat tidur. Saya juga tidak punya jawaban untuk menunda panggilan ibadah. Sholat subuh di sini diselenggarakan mungkin setengah jam lebih cepat di banding di Makassar.

Asrama yang saya pilih adalah Pare Insitute “Dormitory”. Meski dalam tidur ber-empat dalam sebuah kamar “kecil”, tapi keputusan tidaklah buruk. Saya dikepung tiga orang anak muda Sundanis yang baru saja tamat SMA.

Untuk menempati kamar dan mengikuti aturan mainnya, saya membayar 200 ribu perbulan. Angka yang tidak terlalu mahal di banding tempat lain dengan fasilitas serupa. Dan yang terpenting adalah di Pare Institute, 24 jam English Area. Sangat tepat untuk orang yang serius ingin menguasai dunia.

Sedangkan untuk tempat kursus, saya memilih ELFAST sesuai yang direkomendasikan oleh banyak teman. Saya mengambil program dasar “Elementary” dan Pronunciation I. Tentor di sini sangat ramah dan profesional. Mungkin saya juga akan lebih pasih berbahasa Inggris jika guru-guru saya sejak SD hingga SMA menggunakan metode yang seperti dilakukan di sini.

Saya juga menyewa sepeda Pixie untuk memangkas jarak dan mengefisienkan waktu. Biaya rentalnya 70 ribu perbulan, dan SIM saya jadi sanderanya karena ternyata KTP yang coba saya gunakan sudah mati.

Di sini, di kampung yang dilabel Kampung Inggris ini, saya tergoda. Saya jatuh cinta. Saya terpukau pada semangat anak muda Indonesia di sini. Ribuan anak muda berbaur dalam satu kampung, sebuah semangat belajar yang tidak pernah saya temukan di tempat lain. Entahlah nanti ketika saya di luar negeri.

Anak muda memikul tanggung jawabnya. Belajar bersungguh-sungguh. Mempelajari bahasa dunia. Mengerti bahwa masa depan dapat diraih salah satunya dengan bahasa. Tidak masalah apakah tanggung jawab itu adalah sebuah tanggung jawab moral terhadap bangsa atau hanya sebuah tanggung jawab individu seseorang terhadap cita-citanya.

Tapi siapapun yang “pulang” dari kampung ini akan punya pengalaman sensasional tentang “belajar”.

***

Cafe Wafo, Pare – Kediri. 29 September 2013

Apa Yang Kau Tunggu?

Posted in Sajak with tags , , , on September 27, 2013 by mr.f

2

***

Apa arti menunggu buatmu?
Apa kau menunggu untuk mengatakan
“aku siap tidak menunggu”
Atau jangan-jangan justru akulah yang sedang menunggu?
Menunggu kau untuk mengatakan “aku tak sanggup menunggu”

Atau mungkin kau dan aku
sudah saling menunggu.
Menunggu petang menggulung senja
dan meleburkannya bersama benang cahaya
yang disembunyikan gelap

Sesungguhnya kau dan aku
sedang menunggu terurainya benang kusut
yang terjerembab di lubang ketidakpercayaan.
Dan waktulah yang membuat kita menunggu

***

Rumah Nalar, 14 September 2013

Gambar : ja.wall-online.net