Pohon dan Rumah Nalar

rumahnalar

Daun-daun berguguran di halaman Rumah Nalar. Rerata warna yang gugur adalah berwarna kuning. Tapi ada juga yang warnanya masih hijau. Mungkin ada Faktor X yang membuatnya terpelanting dan terlepas dari dahan yang menggantungnya.

Orang-orang di Rumah Nalar juga demikian. Selalu ada pergantian. Atau mungkin inilah regenerasi sesungguhnya? Bertumbuhnya tunas dan gugurnya daun kemuning. Ada yang menua dan tumbuh banyak daun yang muda. Yang menua belum tentu muda layu, sedang yang muda juga tak pasti kuat menahan laju.

Ada gradasi warna yang perlu diseimbangkan, antara kemuning dan hijau muda. Mungkin ini apalogy dari sisi artistik. Tapi itu tak masalah. Estetika kan soal personal. Masing-masing orang bebas memberi kesan dan anggapan.

Rumah Nalar ibarat pohon ini bukalah analogi yang baru. Para da’i sejak dulu telah menggambarkan dunia dan kehidupan juga seperti dedaunan pohon. Di pohon yang rimbun, kadang masih terselip warna lain selain dominan hijau. Mungkin terselip selembar kuning tua. Atau bahkan telah coklat tua. Tapi terlalu pesimis kalau kita selalu beralasan “kuasa Tuhan yang membuatnya bertahan”.

Rumah Nalar dan analoginya dengan pohon akan memberi kesan kecil. Mari kita men-dramatis-kannya sedikit. Rumah Nalar ibarat pohon raksasa yang “dulu” ditebang Sawerigading saat berniat melakukan pelayaran ke Negeri Cina.

Pohon yang berada di Tanah Luwu namun dahannya masih dapat dilihat dari Pulau Jawa. Pohon dengan ribuan jenis burung yang menyaranginya. Pohon yang menyejukkan luas daratan yang tak terkira. Pohon yang ketika tumbang mampu membelah sebuah gunung yang “kini” disebut Bulu’ Poloe di lepas pantai Malili.

Ibarat “Pohon Sawerigading” itulah bagusnya kita beranalogi tentang Rumah Nalar. Terlepas dari peristiwa gugur–nya dedaun. Rumah Nalar kini semakin kental dengan pluralitas. Semakin menampakkan diri dari kejauhan. Semakin rimbun dengan kuantitas dedaun muda.

Untuk adik-adikku yang kini berjuang menyukseskan event  Karya Bakti Ilmiah Nasional. Teruslah menyilaukan dunia. Teruslah bertumbuh di Rumah Nalar. Berbagi dan memberi arti.

Picture : www.facebook.com/rumah.nalar

3 Tanggapan to “Pohon dan Rumah Nalar”

  1. seperti daun, hadir dan perginya selalu memberikan arti. muda tuanya pun demikian. menjadi seperti, bertengger dan terbang memberikan makna. semoga kami pun demikian.

  2. daun kemuning hanya akan terlihat kuning dan jatuh selama 3 lamanya, karena akan tumbuh dedaunan yang muda tuk menggatikan daun yang jatuh. Ini ibarat perjalanan kami para perantau tuk mengabdikan diri dengan ilmu yang kami dapatkan di rumah peradaban ini.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: