Archive for July, 2013

Karya Bakti Ilmiah Nasional (KBIN)

Posted in Opini on July 4, 2013 by mr.f

join with us!

DreamCatcher

KBI Nasional

Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar (LPM Penalaran UNM) mengadakan sebuah kegiatan karya bakti ilmiah  dengan tema “Riset Untuk Negeri”.  Kegiatan ini merupakan suatu ajakan bagi mahasiswa se-Indonesia yang memiliki ide kreatif dan inovatif  yang peduli kepada masyarakat melalui lomba karya tulis. Karya tulis ini kemudian akan diimplementasikan ke masyarakat sasaran yang menjadi daerah untuk mengembangkan hasil penelitian tersebut. Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai kegiatan ini,

Subtema:
(1) Pemanfaatan Sumber Daya Alam,
(2) Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan
(3) Teknologi Tepat Guna dan Ramah Lingkungan.

View original post 164 more words

Juli Yang Di-Ramadhan-kan

Posted in Sajak with tags , , , , on July 3, 2013 by mr.f

bulan

~oOo~

ini masih awal bulan Juli
bulan yang mengesankan berkah
bulan jatuhnya hujan
 hujan yang digenggam oleh seorang lelaki
dan terurai menjadi benang cahaya

inilah Juli, bulan ke tujuh
terbukanya pintu hikmah di seluruh penjuru
bulan di mana hasrat terbelenggu
bulan yang selalu ditunggu

inilah Juli
bulan tempat menghamba penuh
keluarga berkumpul utuh
bulan di mana hati berlabuh
dan membuncahnya rindu-rindu

di Juli inilah
rasa sesal dan maaf diretas
dilipatgandakannya nilai satu perilaku
disemaikannya doa-doa
disucikannya para pendosa

bulan inilah bulan pengaharapan
dan lebih baik dari seribu bulan
Juli yang di-Ramadhan-kan

~oOo~

Rumah Nalar, 3 Juli 2013

picture : www.tripwow.tripadvisor.com

Pohon dan Rumah Nalar

Posted in Feature, Penalaran with tags , , , , , , , on July 2, 2013 by mr.f

rumahnalar

Daun-daun berguguran di halaman Rumah Nalar. Rerata warna yang gugur adalah berwarna kuning. Tapi ada juga yang warnanya masih hijau. Mungkin ada Faktor X yang membuatnya terpelanting dan terlepas dari dahan yang menggantungnya.

Orang-orang di Rumah Nalar juga demikian. Selalu ada pergantian. Atau mungkin inilah regenerasi sesungguhnya? Bertumbuhnya tunas dan gugurnya daun kemuning. Ada yang menua dan tumbuh banyak daun yang muda. Yang menua belum tentu muda layu, sedang yang muda juga tak pasti kuat menahan laju.

Ada gradasi warna yang perlu diseimbangkan, antara kemuning dan hijau muda. Mungkin ini apalogy dari sisi artistik. Tapi itu tak masalah. Estetika kan soal personal. Masing-masing orang bebas memberi kesan dan anggapan.

Rumah Nalar ibarat pohon ini bukalah analogi yang baru. Para da’i sejak dulu telah menggambarkan dunia dan kehidupan juga seperti dedaunan pohon. Di pohon yang rimbun, kadang masih terselip warna lain selain dominan hijau. Mungkin terselip selembar kuning tua. Atau bahkan telah coklat tua. Tapi terlalu pesimis kalau kita selalu beralasan “kuasa Tuhan yang membuatnya bertahan”.

Rumah Nalar dan analoginya dengan pohon akan memberi kesan kecil. Mari kita men-dramatis-kannya sedikit. Rumah Nalar ibarat pohon raksasa yang “dulu” ditebang Sawerigading saat berniat melakukan pelayaran ke Negeri Cina.

Pohon yang berada di Tanah Luwu namun dahannya masih dapat dilihat dari Pulau Jawa. Pohon dengan ribuan jenis burung yang menyaranginya. Pohon yang menyejukkan luas daratan yang tak terkira. Pohon yang ketika tumbang mampu membelah sebuah gunung yang “kini” disebut Bulu’ Poloe di lepas pantai Malili.

Ibarat “Pohon Sawerigading” itulah bagusnya kita beranalogi tentang Rumah Nalar. Terlepas dari peristiwa gugur–nya dedaun. Rumah Nalar kini semakin kental dengan pluralitas. Semakin menampakkan diri dari kejauhan. Semakin rimbun dengan kuantitas dedaun muda.

Untuk adik-adikku yang kini berjuang menyukseskan event  Karya Bakti Ilmiah Nasional. Teruslah menyilaukan dunia. Teruslah bertumbuh di Rumah Nalar. Berbagi dan memberi arti.

Picture : www.facebook.com/rumah.nalar