Tegap di Titik Hitam

hujan1Untuk kamu yang masih berharap di Desember ini!

***

Ini waktu yang telah lama berlalu. Masa yang begitu yang membingungkan, karena aku masih berdiri dan mampu melihat diriku di masa lalu dan masa yang belum terjama. Bukankah itu hal tak lazim, mengingat diriku telah lama terperangkap pada sisi keberadaan materialistik.

Hari mungkin telah sering berganti, begitupun dengan tahun yang kadang melaju dan kadang pula melambai lambat meninggalkan rupa-rupa kejadian. Di akhir tahun ini, dimana kaleidoskop hampir tertutup peristiwa masa lalu, aku masih enggan beranjak dari akhir malam yang tersuguh kelam.

Seperti sebuah isyarat hari yang tak mau berakhir. Mungkin ini pertanda mata tak terpejam, atau cerah tak datang lagi.

Harus rela kukatakan meski terdengar manja dan pesimistis. “Aku tak beranjak dari titik lemah”. Padahal, inilah giliranku untuk unjuk gigi pada sebuah pentas kehidupan sejati.

***

Dengan lapang hati dan kukuatkan hasrat lemahku, bahawa segala yang tercipta adalah bermakna. Hanya saja aku yang mungkin belum terarah untuk memahaminya secara mapan dan matang.

Ini bukan catatan kahir tahun. Ini hanyalah refleksitas yang kemudian bersua dengansebuah pena merah yang terseret sejarah. Selalu kukuatkan puing-puing reruntuhan naluri keberanianku. Bahwa aku pantas menjadi lilin kecil di tengah prahara semesta yang mulai menggulita.

Itulah sebabnya aku masih berdiri tegap meski pada titik yang sama. Ya setidaknya aku tidak sedang meremas kepalaku. Ada banyak yang penting untuk disadari namun tak lebih banyak dari apa yang penting untuk dilupakan. Ada juga beberapa poin yang layak diraba keberadaannya di masa mendatang.

***

Jika menyesal menguras energi dan itupula yang selalu kuhindari. Maka, sekarang akan kumulai menghitung berapa kali aku menelan penyesalan hingga titik ini.

Mungkin itulah jawaban spekulasi dari sebuah tindakan tak dewasa dan tanpa progress. Hidup memang harus selalu dicoba dengan atau tanpa hitungan waktu. Karena aku masih sangat menghargai waktu, terlebih masa lalu. Hitam atau putih, atau bahkan abu-abu sekalipun warna dunia ini.

Alasan adalah benang yang tak pernah terurai pada sebuah kain kegagalan. Begitu juga dengan kemenangan. Dan jangan sekali-sekali menyebut kebetulan sebagai kuncinya.

Malam ini, jelas langit masih terlihat gelap, meski hujan telah turun membasuh desember yang bagitu basah ini. Dan karena hujan aku senantisa bangkit seperti tetesnya yang selalu bangkit ke bumi meski telah jatuh berjuta kali.

***

Desember 2012

 Picture : http://darisdarisman.blogspot.com

Advertisements

One Response to “Tegap di Titik Hitam”

  1. ku suka ini kk ma’ruffff

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: