A Letter (1)

***

Entah ini tulisan yang keberapa tentang Rumah Nalar. Kali ini tulisanku kukategorikan surat. Ya surat untuk lembagaku, LPM Penalaran UNM. Sejak saya mencintai lembaga ini secara utuh, saya semakin banyak berharap dari lembaga ini.

Maksudku berharap, bukan pragmatis, maksudku berharap lembaga ini semakin mendekati pada manfaat yang sebesar-besarnya. Berharap bahwa lembaga ini terus berkembang melesat.

Semakin saya memasuki ranah lembaga ini, saya semakin jauh mengerti tentang cinta. Semakin mengerti arti memberi dan menerima. Semakin mengerti tentang sosialita. Walau kadang saya gugur sendiri melihat “bungaku” yang kian layu. Seperti menolak pepatah  “roda pasti berputar.”

Hidup memang jelas adalah sebuah rentetan proses yang pasti berakhir. Begitu juga diriku yang semakin menyadari dekatnya dengan akhir. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi juga bukan proses yang cepat untuk menemukan.

Saya-lah orang yang paling lambat menemukan ranah yang tepat untuk diriku sendiri. Saya sudah banyak mendengar hal aneh tentang keterlambatan itu. Bahkan terdengar aib. Ya, yang pasti saya tak menulis surat ini dalam suasana kesal dengan pandangan itu.

Surat ini saya buat untuk diri saya sendiri, saat dimana keinginan beradu dengan keadaan yang serba sulit. Saya memang sengaja menulis surat ini untuk menghibur beberapa hal tak menyenangkan yang mesti dihadapi dengan senyum.

Entah lah jika ada orang lain selain saya yang mebaca surat ini, maka seluruhnya saya serahkan pada Tuhan yang mencipta asumsi.

***

Malam ini sebenarnya terlalu kekanak-kanakan untuk memasukan cerita “aib” itu ke dalama labirin pikiranku. Sudah cukup banyak hal pelik yang mesti kuselesaikan dan beberapa hal mudah yang bisa saja rampung bila dihadapi dengan kesungguhan.

Tapi itulah diriku yang bila nyaman bertemu peluang, maka peluang akan lari terbirit melihat diriku yang acuh tak beraksi.

Sebenarnya sejak kepindahan Rumah Nalar ke lokasi yang baru, ada banyak hala baru pula yang saya temukan. Sebagai contoh, hidup bertetangga di kampung saya sendiri.

Di mana aroma makan yang tercium dari rumah tetangga maka sembilan puluh persen tetangga terdekat akan pula merasakan nikmat masakan.

Jadi tidak hanya aromanya saja. Seperti itu pula di Rumah Nalar baru ini. Seolah menyaksikan sebuah cercah cahaya dalam lubang gelap. Menyaksikan paradox kehidupan kota.

Diriku banyak memanjakan diri dalam banyaknya tekanan moral. Seperti duduk berjam-jam di bawah pohon tak bertuan, hanya sekedar mendengar musik, atau membaca dua atau tiga halaman novel. Setelah itu terlupalah segala agenda.

Surat ini adalah surat yang tak rampung. Menggantung. Sengaja saya buat untuk menyalakan motivasi menulisku yang kian redup terserap kebodohan. Semoga masih ada waktu untuk melanjut surat-surat tak jelas erupa ini.

Ditulis di Makassar, 31 Oktober 2012.

Advertisements

One Response to “A Letter (1)”

  1. […] burung penunggu pagi adalah pengikat batin saya dengan Rumah Nalar. Semacam cincin kawin sepasang kekasih. Pertemuannya hanya di pagi. Setelah itu; saya, pagi, Rumah […]

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: