Di Balik Pintu Kamar

Angin bersemayam dalam lamunan suhu kamar yang terus melonjak. Putaran kipas kehidupan terdiam tak  memberi harapan sedikit pun. Sudut-sudut ruang bergeming menyaksikan kekalahan purnama bulan.

Cerita tentang purnama yang berkesan nyatanya belum terhapus dari peradaban kisah sendu manusia modern. Hanya kertas putih saja yang berhasil tergusur dari asmara romantika sepasang remaja. Kehidupan kota memanglah pelik untuk dinikmati berlama-lama. Rumit. Senyum sungging bukan lagi jadi pelipur lara muara amarah.

Sejam yang lalu ruang itu baru saja melepas banyak carbondioksida dari dua sistem operasi pernapasan sepasang insan muda. Rika nampak begitu sensual dengan tangtop hitam dan celana tidur biru yang telah lusu. Rautnya jelas penanda kegerahan menikmati malam mingguan di dalam kamar. Tapi itulah romantika sebuah hubungan. Kadang kenikmatan itu tidak diukur dari elegan atau klasiknya tempat bersantap malam.

Di dalam kamar pun justru hubungan menjadi terjalin begitu dekat bahkan lekat antara satu dengan lainnya. Banyak lelucon yang tersembunyi dari sempitnya volume ruang, begitupun dengan kejutan yang seringkali tersembunyi dibalik rapatnya kunci sebuah pintu kamar.

***

Jika Rika malam minggu terlihat gerah itu benar-benar tidak terjadi pada malam-malam minggu sebelum atau bahkan setelah malam minggu ini. Kekasih Rika yang juga masih berstatus mahasiswa adalah tipikal lelaki penanggung malu dan gengsi yang berlebih.

Sebut saja, di tiap malam minggu selama hampir empat bulan sejak ritual jatuh cintanya dengan Rika, dia tak pernah sekalipun meninggalkan malam minggu dengan kelabu, apalagi tersudut sendiri dalam labirin kesepian. Dialah anak muda citra masyarakat modern. Hedonis dan penganut paham snobisme.

Segalanya hampir terukur dengan sebuah tampilan dan kesenangan serta hiburan. Termasuk bermain-main api asmara. Rika-lah perempuan pertama yang berhasil menjalin hubungan dengannya lebih dari tiga bulan. Sebelum-sebelumnya seorang perempuan tak akan pernah berlama-lama betah menginap di hatinya.

***

Kekasih Rika ini pernah memacari seorang adik tingkatnya di kampus hanya dua malam saja. Nyaris tak cukup dua malam. Adik tingkatnya itu adalah korban sebuah taruhan dengan teman-temannya. Status pacar dan berhasil menidurinya yang dibuktikan dengan capture dari kamera adalah bukti sakti untuk memenangkan taruhan itu. Dialah benar-benar mahasiswa yang berbulu domba berhati singa.

Rika hanya seorang gadis kampung yang berada tiga tingkat di bawah kekasihnya. Berasal dari kampung terpencil yang masih abu-abu dengan kehidupan modern. Sekali mendapat umpan manis, Rika langsung tergiur.

Kekasihnya adalah lelaki dambaan orang di kampung. Lelaki yang diharapkan banyakl oleh orang tua yang malam-malamnya dihabiskan dengan menonton sinetron murahan miskin hikmah.

***

Setidak-tidaknya lelaki macam itulah yang senantiasa ada dalam doa seorang ibu yang menginginkan kebahagian tersuci dari seorang putri terkasih. Apalagi sejak kematian ayahnya  enam tahun yang lalu. Ibunya menjadi janda yang harus tampil perkasa memayungi buah hatinya dari sengatan matahari dan curahan air hujan.

Rika anak gadis yang di pundaknya bertumpuk sehimpunan angan-angan dan kebahagiaan telah terbutakan panah asmara yang terbungkus rapi belenggu bernama cinta. Jelas-jelas belenggu itu adalah petuah terlarang yang disisipkan ibunya pada ruh kepergian Rika saat meninggalkan kampung.

Tapi hari-hari penuh ancaman mampu merobohkan benteng-benteng pertahanan mental block dari seorang gadis kampung yang kini bermetamorfosa menjadi mahasiswa cantik yang banyak mahasiswa lainnya menjadi sorotan mata. Kampusnya jugalah yang sebenarnya turut mengambil bagian penting dalam drastisnya perubahan pola hidup Rika.

***

Cita-cita Rika membahagiakan orang tua tergadai dengan perasaan dan kesenangan level sesaat yang dibingkai rapi oleh gengsi yang meninggi. Rika terlalu asing pada lingkungan modern yang baru saja di mulainya.

Ini tahun pertama Rika berada di kota. Dihimpit oleh keinginan yang tak berujung, sementara ibu di kampung memeras keringat untuk dikristalkan menjadi butiran kesenangan oleh putri tercintanya. Rika masih tertidur oleh kegelapan dunia kampus yang pragmatis. Dia belum memahami lelaki secara mendalam termasuk kekasihnya sendiri.

Retorika seniornya telah melarutkan segumpal keyakinan gadis kampung, melelehkan ketahanan dan daya juang hidup mandiri seorang Rika. Seniornya telah dianggap jelmaan malaikat kehidupan yang tak bersayap. Rika masih tertidur pulas dengan kebutaannya.

***

picture : http://www.artbywicks.com

 

 

 

Satu Tanggapan to “Di Balik Pintu Kamar”

  1. hahaha… KRS di..

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: