Archive for September, 2012

Rumah Nalar (Baru)

Posted in Penalaran with tags , , , , on September 29, 2012 by mr.f

***

Kini kicau burung ketilang kembali menyusup ke alun-alun telinga. Semilir angin dan wijau warna dedaunan adalah perhiasan hari di tempat ini. Jika kamu adalah orang yang tengah penat dengan debu dan toksin asap kendaran kota, kamu tak perlu jauh melangkah ke margin kehidupan.

Di rumah baru kami “Rumah Nalar” kamu tidak akan berasa di salah kota yang penat di Indonesia ini, Makassar. Kata paling mengunci dari rumah baru kami ini adalah “suasana”. Meskipun letaknya hanya kurang lebih seratus meter dari jalan ibukota yang kini semakin menyempit oleh volume kendaraan, namun pandangan kamu tak akan pernah menemui semua objek yang menakutkan itu.

Disini tak ada polusi. Polusi suara, nehi. Polusi udara, juga nehi. Apalagi polusi tanah. Saya orang kampung, yang kadang-kadang karena kerinduan akan suasana seperti ini membuat saya rela duduk belasan jam di atas kursi bus. Membayar puluhan ribu untuk menghirup udara segar bebas polusi.

***

Lokasi rumah baru kami adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Jika dahulu di rumah kami yang lama, umpatan pada “pembalap lorong” yang ugal-ugalan di  depan rumah adalah dosa kami yang tercipta karena lingkungan. Seolah hanya sampai disitulah kemampuan kami melawan penindasan. Mengumpat dari dalam kamar! Haha. Maklum kami mahasiswa, hanyalah rakyat kecil meskipun jumlah kami banyak. Untuk membenarkan alasan kami mengumpat, kami punya apologi atau semacam tagline. Lebih baik mencegah daripada memungut pecahan kaca.

Itulah salah satu sisi pembanding rumah kami yang lama dengan rumah kami yang baru ini. Memang agak terlihat menyeramkan karena terselip di antara pepohonan. Di depan rumah ada dua pohon jambu air dan satu pohon mangga yang daunnya rimbun-rimbun. Karena daunnya itulah tak ada lagi alasan bagi kami untuk malas menyapu.

Oh iyya, di rumah baru kami ini, kami punya pekarangan yang amat rindang. Di penatnya kota sekarang ini, sudah semakin sedikit saja rumah yang punya pekarangan. Bila kamu memandang lurus ke depan dari terasa rumah, kamu akan menyaksikan Pak Daeng yang sedang berkebun. Kebun Pak Daeng tepat di depan rumah. Luasnya kira-kira seperti luas lapangan sepak bola. Indah kan?

Di awal perkenalanku dengan Pak Daeng, dia telah memberikan kode “kamu nanti gak usah beli sayur lagi, kalau tinggal disini.” Asyik kan. Sudah udaranya segar, hijau, burung-burung berkicau, adem, dapat asupan sayur gratis lagi.

***

Untuk sampai di rumah baru kami ini, kamu tentunya akan berada di tengah-tengah suasana kebun. Ada tanaman sawi, bayam, kangkung, tomat, cabai dan ada beberapa tanaman yang tak kupahami kingdom-nya.

Sungguh-sungguh sebuah perkebunan yang terselip di perkotaan. Jika kamu menengok di balik tembok perumahan kami. Maka akan kau dapati pemandangan yang begitu kontras. Di sebelah tembok itu, ada kompleks pemukiman kota yang amat padat juga berdebu, jaub dari kesan asri. Sedang kami menikmati keanehan hidup.

Jika kamu telah sampai di rumah baru kami ini, dan kamu duduk di bawah pohon mangga yang daunnya terus berjatuhan memenuhi tanah yang basah, kamu akan terjerembab rasa. Saya yakin kamu akan menikmatinya dan kamu punya alasan untuk bermalas-malasan di sini.

 ***

 

 

 

Bukan Untuk Kita

Posted in Sajak with tags , , , , on September 24, 2012 by mr.f

~oOo~

 semua masa berlalu
kamu masih punya aku
aku belum merelakanmu
hingga petang benar-benar datang

sesaat rindu boleh saja pergi
atau menghilang selamanya
tapi kenangan tetaplah disini
menemani beberapa kesepian

 ~oOo~

Makassar, 17 September 2012