Archive for August, 2012

Terhimpit Bukit

Posted in Sajak with tags , , , , on August 31, 2012 by mr.f

~oOo~

hanya ada aku dan purnama
kawan bercakap melawan cemas
kawan bercanda melepas ancaman
kawan gembira memenangkan ketakutan

hanya ada bulan yang setia
hadir lebih dulu sebelum gelap
seolah tau kubutuh kawan

lalu di puncak bebukitan ini
bulan hanya membayangiku
tak mampu lagi kuajak berbalas senyum
dan
sejak kapan aku kehilangan kegembiraan?

~oOo~

Tanah Adat Dimensi Empat

Posted in Sajak with tags , , , , on August 27, 2012 by mr.f

~oOo~

lalu aku berjalan ke timur
kutemui bumi meninggi
menjulang setara elang
kudapati langit mengharu biru
menenteramkan senja kelabu

di tanah adat aku datang
disambut liku jalan yang panjang
bersempit apit di celah batu
inilah Bumi Arung Palakka
negeri empat dimensi
gunung lembah laut dan sungai
satu sinergi menyemai energi

inilah tanah beradat
dimana malu melekat erat
tanah tempat bertaruh harkat
tanah bugis yang bermartabat

~oOo~

Bone, 27 Agustus 2012

Tentang Sebuah Buku

Posted in Opini, Run Away with tags , , , , , on August 25, 2012 by mr.f

Beberapa hari yang lalu, sebuah mimpi benar-benar sedang berjalan dalam realitas kehidupan yang saya alami. Sebuah buku yang saya terget terbit akhirnya benar-benar mewujud.

Walau buku tersebut hanyalah sebuah buku antologi puisi, namun sebagai warga kampus yang pernah dibuat kaget dengan mahalnya buku-buku yang di-“dagang”-kan dosen di kampus, maka wajar jika saya amat merasakan sensasi yang diluar kebiasaan. Sensasi menerbitkan buku perdana.

Dalam buku antologi puisi tersebut, berisi 120 puisi original hasil persinggungan imajinasi, rasa, dan kemampuan menulis dari 24 penulis muda. Saya sendiri membuang 10 puisi atau yang lebih tepat sebenarnya saya sebut sebagai “sampah” kata ke dalam buku tersebut.

Saya sebut “sampah” kata karena saya menganggap bahwa karya saya yang tertulis di dalam buku tersebut tak ubahnya adalah rongsokan kata-kata yang tak bermakna.

Saya menjadi pening sendiri memaknai kata yang “tak sadar” pernah saya urai menjadi sebuah puisi atau sajak. Dulunya saya hanya menganggap bahwa kata-kata yang melintas dalam ruang imajinasi saya itu harus saya real-kan sebelum semuanya terbang dan menjadi kata yang hilang.

Kejadian berulang itu “menghayal-mencatat” adalah upaya saya menghargai kata itu sendiri. Pengalaman menjadi orang pelupa dan menghilangkan banyak kata tidak ingin saya ulang. Saya menghargai waktu dan imajinasi yang tak akan berulang itu.

Semua puisi atau sajak saya yang ada dalam buku tersebut adalah puisi yang sebelumnya pernah saya terbitkan di blog ini. Tapi saya justru kadang heran bila mendengar pujian dari rekan-rekan penulis/blogger pemula lainnya. Jujur saya sendiri tak menganggap karya-puisi saya itu adalah karya yang patut di puji.

Bila sudah dalam kondisi itu (dipuji) saya hanya mampu memerintahkan otak dan hati saya supaya tetap positif thinking. Menganggap bahwa teman saya adalah orang yang menghargai karya orang lain dan mungkin juga memaknai secara bijaksana setiap kata-kata yang terselip dalam bait bait puisi saya itu.

Nah sekarang, 10 dari puluhan puisi(sampah kata) yang saya torehkan dalam blog ini telah ada dalam wujud buku. Judul buku tersebut adalah “Risalah Rindu – sebuah antologi puisi” . Risalah Rindu sendiri adalah judul sebuah puisi dari salah satu penulis, yang sayangnya puisi tersebut tidak pernah sama sekali diposting di blog pribadinya. Jadi untuk membaca puisi tersebut, ya harus menggenggam bukunya secara langsung.

Hal yang paling menarik dari buku tersebut adalah endorsment yang ada di bagian back cover-nya. Di situ ada endorsment dari penulis fenomenal novel Negeri 5 Menara – Ahmad Fuadi. Endorsment yang secara jujur, tak perlu ada pada sebuah buku  kumpulan puisi. Tapi itulah sensasi mengejar mimpi mendapat testimoni dari “orang hebat” untuk buku kita sendiri. Saya tak akan mungkin menyalahkan usaha saya menempuh cara mendapatkan semua itu.

Buku perdana tersebut akhirnya mampu tersaji dihadapan banyak teman yang sejak dulu menanti dan mendukung hebat upaya menerbitkan buku tersebut. Saya mulai lupa, sejak saya menggaungkan penerbitan buku puisi tersebut entah telah berapa rekan saya yang “berniat” menjadi pembeli pertama buku tersebut. Saya menganggap semua itu adalah motivasi yang direnovasi dengan cara lain untuk menerbitkan buku.

Saya tidak berharap teman-teman membaca buku itu, karena sejak awal saya menganggap buku itu adalah memang buku yang diterbitkan untuk di-cemburui. Di-cemburui oleh orang yang punya banyak karya namun belum sempat membukukan karyanya. Apalagi secara faktual bahwa diantara buku yang paling tidak laku dipasaran adalah buku kumpulan puisi. Tapi itulah segmentasi hidup, harus ada langkah pertama untuk bisa berada di ujung jalan yang kita inginkan.

Namun, di balik motif itu. Saya selalu bekerja totalitas menerbitkan buku “Risalah Rindu” yang berkualitas. Apalagi kawanan pengeroyok-penulis buku tersebut kambali menggelorakan resolusi baru, yakni menghadirkan buku ke-dua. Sebuah resolusi yang saya usung bisa terbit di bulan November nanti.

Harapan terbesar saya sebenarnya adalah terjadinya revolusi paradigma bahwa menerbitkan buku itu pekerjaan yang berat, butuh banyak pengorbanan. Paradigma itu harus berevolusi menjadi sebuah keinginan kuat menerbitkan buku sebelum mati. Karena ada nubuat mengatakan bahwa “dunia akan menolakmu mati sebelum kamu menerbitkan buku“. Jadi terbitkanlah buku sebelum mati!