Karakter Pemuda Indonesia

Motivasi Menulis

Beberapa bulan yang lalu saya pernah diminta membawakan materi  tentang pemuda berkarakter pada sebuah lembaga kemahasiswaan internal UNM. Materi ini sebelumnya sudah pernah saya sampaikan secara gamblang pada beberapa diskusi dan brainstorming dengan beberapa rekan mahasiswa.

Nah, untuk menebus kegagalan saya membawakan materi secara lisan dan berbusa-busa, kali ini saya akan mencoba beberapa teori menulis. Diantara sugesti menulis yang paling popular dikalangan motivator penulis adalah “tulislah apa yang kamu pikirkan dan jangan pikir dulu apa yang kamu tulis”.

Teori menulis lain yang juga ingin saya operasionalkan kali ini adalah “pisahkan antara proses writing dengan editing/rewriting”. Kedua teori di atas adalah teori yang juga paling sering keluar dari bibir saya sendiri saat berhadapan dengan rekan mahasiswa yang mengaku ingin belajar-memulai menulis. Biasanya saya sampaikan pada mahasiswa semester-semester awal yang menjunjung nilai senioritas.

Padahal kemampuan menulis saya sendiri sangat hancur. Sangat tipis perbedaannya dengan tulisan anak SMP yang baru belajar nulis. Maklum saja, saya baru melirik dunia literasi sejak dua tahun terakhir. Artinya, sebelum itu saya adalah mahasiswa apatis, malas baca, malas ikut seminar, lebih suka kongkow-kongkow daripada hadir di forum ilmiahnya mahasiswa.

Kenalan dengan Budaya Literasi

Sejak mengenal dunia literasi, membaca-menulis-diskusi-kajian. Karakter kepemudaan yang semestinya dari dulu saya orbitkan dari jiwa saya akhirnya mencuat juga. Dan sampailah saya menancapkan konklusi dan paradigma positivism bahwa pemuda masa kini mestilah punya karakter untuk dapat hidup di jaman yang frontal dan kadang tidak berkemanusiaan ini.

Dalam sosialisasi UU No. 40 Tahun 2009 yang mengatur tentang kepemudaan. UU tersebut dalam batasan umurnya telah menegaskan bahwa yang diakui sebagai pemuda Indonesia adalah warga masyarakat yang rentang usianya antara 16 sampai dengan 30 tahun. (link download UU No. 40 Tahun 2009)

Pemuda Indonesia Saat Pertemuan Dunia

Dalam penuturan saat sosialisasi UU No 40 Tahun 2009 ini oleh salah satu asisten Deputi Kemenpora yang waktu itu dilaksanakan di KRI 509 Makassar tahun 2011 lalu, menceritakan kegeliannya ketika Indonesia diundang untuk menghadiri forum atau pertemuan antar pemuda sekelas ASEAN atau bahkan pertemuan antar pemuda dari seluruh dunia.

Perwakilan pemuda Indonesia adalah bulan-bulanan dari peserta lain dalam sebuah pertemuan antar pemuda. Pemuda Indonesia seringkali dianggap bukan sebagai peserta dan lebih sering disapa “uncle” ketimbang disapa “bro” layaknya sapaan antar sesama pemuda.

Bagaimana tidak? Utusan pemuda Indonesia sebelum dirancangnya UU No 40 Tahun 2009 ini, adalah orang-orang yang sudah uzur. “usianya rata-rata di atas 40 tahun”. Entah karena pertimbangan apa utusan pemuda Indonesia saat itu adalah orang yang sudah tidak “pemuda” lagi.

Pandangan saya, saat itu mungkin pemerintah kita –pemerintah Indonesia tidak memiliki stok pemuda –muda yang lebih memiliki karakter yang bisa diunggulkan atau dengan kata lain pemuda –muda Indonesia dianggap belum cukup matang dan mumpuni untuk berada dalam sebuah forum international misalnya.

Pembunuhan Karakter

Pandangan ini tentunya diluar dari mental sebagian pemerintah yang sarat dengan kepentingan-kepentingan “perjalanan dinas” yang budget-nya lumayan tinggi. Padahal kondisi semacam itu adalah kondisi yang memalukan, menghancurkan citra pemuda Indonesia, menghancurkan kepercayaan diri pemuda Indonesia.

Setelah sosialisasi UU No 40 tahun 2009 tersebut, semestinya memang pemerintah Indonesia berfikir keras memuntahkan karakter-karakter negatif pemuda Indonesia masa kini lalu menyuapinya dengan karakter-karakter positif yang sebenarnya ada dan potensial namun mungkin tertanam dalam karena sistem dan regulasi yang berlaku di bangsa ini.

Dari beberapa referensi dan hasil olahan seminar kepemudaan, saya menarik konklusi sederhana dan subjektif bahwa ada 3 karakter pemuda yang begitu diharapkan bangsa Indonesia, yakni pemuda yang memiliki karakter kreatif, visioner, dan moralitas. Ketiga karakter ini tidak boleh diceraiberaikan pada satu jiwa pemuda. 3 in 1. Penjelasan saya untuk ketiga karakter ini sebelumnya telah saya urai pada tulisan saya yang lain. (link-nya disini)

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: