Asila (3)

***

Semburat senja-senja. Pelangi-pelangi suci dan rinai hujan-hujan. Tak ada bedanya dengan terkaman kesunyian-kesunyian. Tak ada teman seindah hayalan.

Dalam jutaan kesempatan, petang membawa malapetaka. Pertengkaran tak berujung. Ironisnya tak ada juri di rumah ini. Tuhan terdiam. Mungkin sesekali Tuhan juga menangis. Iba pada jeritan ini. Atau mungkin sebelah mata Tuhan telah buta.

Tiada tempat bersandar. Asila gagal merintis jalan damai. Energinya lemah terkuras sepi. Tak ada kata cinta dalam ruang. Tak ada pula kasih sayang.

Hanya harap yang mampu tumbuh. Menua dalam kuncupnya. Layu pada mekarnya di pagi buta. Membabi buta tanpa kenal hati yang patah.

matikan aku segera, secepat cahaya
angkat nyawaku biar kulihat surga
dan akan kusenyumi kelam ini semua
bila ada planet lain, terbangkan aku kesana
hingga ada cinta yang suci untuk jiwa
untuk jiwaku yang lama mati

Sepenggal puisi Asila yang berceceran di sepanjang malam. Cermin pecah, begitupun dengan hati Asila. Pecah dan kuarsanya berhamburan. Mustahil untuk memungutnya lagi.

Asila mengaburi kenyataan dan menguburi hidupnya. Dunia bersaksi, begitupun dengan kesepiannya.

***


Advertisements

2 Responses to “Asila (3)”

  1. Thanks Pak Mawapres UNM 2012-2013 atas komentarnya.

  2. Jikalau aku bisa berkomentar hanya satu kata yang pantas keluar dari mulut ini ” HEBAT”!!!!!

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: