Mappatottong Sempu

***

Ada banyak sekali peristiwa unik dan sebenarnya bernilai budaya di kampung ini. Sepanjang kedatangan saya selama kurang lebih dua minggu di hometown.

Sangat banyak hal yang menginspirasi dan membuat saya merasa penting untuk menuliskannya sebagai sebuah catatan kehidupan. Dan masih banyak lagi yang tak mampu ditampung oleh otak saya. Saya mesti menuliskannya untuk mengurangi beban memori.

Di pagi yang berintik tipis, puluhan orang warga kampung ini telah berkumpul di halaman masjid. Setelah saya amati nayata adalah warga kampung sebenarnya bukan berkumpul untuk melakukan aktivitas di masjid melainkan sebuah kebiasaan yang menurut saya dalah sebuah kebudayaan dikampung ini karena telah berlangsung cukup lama, dan itu diamini oleh warga di kampung ini.

Aktivitas ini oleh orang sosial mengatakannya sebagai “gotong royong” sementara orang dikampung saya menamakannya “Mappatottong Sempu”. Sebuah pola kehidupan bekerja sama antar sesama warga untuk menyambut sebuah pesta pernikahan.

***

Bila di kota-kota, dilangsungkan di dalam sebuah gedung mewah atau hotel yang khusus untuk resepsi pernikahan, maka sangat jauh berbeda halnya bila di kampung-kampung yang jauh bersentuhan dengan nuansa kota. Tak terkecuali di kampung halaman saya. Sebuah kampung pesisir di yang berada di tepat disselangkangan Teluk Bone.

Pernikahan di kawasan perkampungan saya akan menggunakan tradisinya sendiri yang masih disisakan oleh derasnya arus global dan medernisasi. Dalam hal penyelenggaraan sebuah pesta pernikahan1 akan sangat membutuhkan banyak persiapan terutama untuk tempat berlangsungnya resepsi pernikahan.

*(bukan perkawinan, karena perkawinan telah memiliki defenisi yang berbeda dengan pernikahan dari segi penyelenggaraan padahal kedua momen ini esensinya sama saja. Pernikahan akan diasusmsikan sebagai sebuah acara keluarga yang jauh lebih besar dan membutuhkan anggaran dan persiapan yang lebih banyak dibanding dengan perkawinan. Dimana perkawinan diidentikkan sebagai sebuah pesta kecil-kecilan, tidak membutuhkan tenda pelaminan, dan hanya berlangsung singkat)

Dalam menghadapi itu semua, pihak keluarga mempelai akan mengambil sebuah langkah yang telah ditiru sejak dulu, yakni menyelenggarakan acara “Mappatottong Sempu” yang secara harpiah akan berarti “Mendirikan Tenda”.

Biasanya “Mappatottong Sempu” akan dilakukan tiga hari sebelum hari H pernikahan tiba. Dalam acara ini, sesuai yang telah saya amati sejak kecil akan berkumpul puluhan warga kampung sejak pagi. Tujuannya untuk mendirikan tenda. Saat ini aktivitas “Mappatottong Sempu” telah mengalami reduksi secara operasional acara ini.

Jika dahulu tenda yang didirikan adalah tenda pelaminan yang betul-betul murni didirikan oleh warga, namun kondisi terkini yang saya liat, beberapa hal yang dianggap lebih praktis dan efisiens telah ambil. Misalnya menyewa tenda –terowongan untuk menampung jumlah orang yang dating di acara resepsi pernikahan.

Meskipun pekerjaan mendirikan tenda telah berkurang sedikit dalam hal operasionalisasi. Namun acara “Mappatottong Sempu” akan memiliki nilai ritualiitas tersendiri. Dapat dilihat pada saat sebelum acara “Mappatottong Sempu” dimulai, maka aka nada ritual “mabbaca-baca” dari orang yang dituakan dan selanjutnya akan menggores jengger seekor ayam yang dinamai dengan “maccera”.

Hemat saya, filosopis dari “mabbaca-baca” adalah terlaksananya sebuah acara atau sebuah pesta yang berberkah. Mengingat “Mabbaca-baca” berisi dengan doa-doa dan pujian-pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan untuk “maccera” adalah untuk menyimbolkan disingkirkannya sifat dan sikap hewani sebuah penyelenggaraan pesta.

***

Mabbaca-baca dan meccera adalah dua ritual yang tidak hanya dilakukan untuk mengawali acara “Mappatottong Sempu”, akan tetapi kebanyakan acara yang berbau baru akan melakukan hal serupa. Semisal, saat syukuran sebuah benda yang baru seperti motor baru, rumah baru, anak baru, dan lain sebagainya.

Kembali ke acara “Mappatottong Sempu”, disini akan berkumpul banyak orang, di antara mereka banyak yang memang telah mengagendakan acara ini. Jadwal rutin bekerja di kebun, di empang atau di sawah telah dicancel untuk acara ini.

Orang-orang akan melakukan aktivitas ini sejak pagi, sehingga ada menu sarapan pagi yang lazim saya lihat adalah beras ketan hitam “sokko bolong” berpadu kelapa parut dan ikan kering yang telah digoreng. Untuk minumnya, disiapkan tiga jenis, ada air putih, ada the dan tentunya minuman favorit orang kampung –kopi.

***

Pekerjaan yang dilakukan dalam acara “Mappatottong Sempu” tidak hanya sekedar datang. Tentunya masih ada pekerjaan lain yang akan dikoordinatori oleh yang “mabbaca-baca” tadi. Pekerjaan lain itu seperti membuat “sarapo” semacam tangga yang terbuat dari belahan-belahan pohon pinang.

Sarapo” ini akan ditempatkan di reas rumah sebagai tangga memasuki rumah, dan di dapur rumah yang menghubungkan dengan dapur baru yang buat khusus selama pesta berlangsung. Selebihnya akan “sarapo” akan terpasang di area pelaminan, misalnya, tangga untuk menggapai area kedua mempelai.

Benda lain yang juga dibuat saat acara “Mappatottong Sempu” adalah memebuat “walasuji” bentuknya mirip denga pagar tanaman. Tapi akan memiliki nilai artsistik dan filosopis tersendiri. Benda ini terbuat dari bambu yang sengaja di buat berbentuk segi empat “sulapa eppa”.

Walasuji” akan dibuat lebih banyak di banding “sarapo” karena akan difungsikan sebagai pagar. Ada yang akan terpasang di pintu masuk pelaminan, pintu rumah menjulur ke teras/pekarangan rumah, serta akan terpasang tepat disamping “sarapo” didalam pelaminan.

***

“Kisah saya buat berdasarkan pengetahuan yang sangat rendah dan imajiner dari saya pribadi tanpa perbandingan sedikit pun dari sumber yang lain. Tentunya banyak hal yang masih keliru dan perlu diluruskan.” –Luwu Utara, Maret 2012

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s