Asila Tak Butuh Senyum

***

Asila masih muda, parasnya selalu nampak layu. Kulitnya kekuning-kuningan. Dia memang lebih banyak menikmati kesunyian, daripada memantik keramaian. Asila benci gaduh.

Senyuman adalah barang langkah di dunia bagi Asila. Introvert. Penikmat kesendirian. Dalam sehari tak cukup 100 kata yang terucap. Aliran cerita tersumbat oleh turbulensi di sepanjang bibir sungai. Hanya pena dan diary kecil teman sekamar.

Dalam puisi kesendiriaannya, dia dahsyat mengeksplorasi diksi. Kenyataanlah guru sejati pena tumpul pelipur lara. Doa dan air mata jatuh melantai. Berceceran di ubin harapan.

Ibu dan ayah..berdamailah
aku menginginkannya
tidurkan aku dengan dongeng dan anekdotmu
kisahkan aku pelukan hangat
ibu…suaplah aku walau sekali
aku kedinginan menanti kehangatan
musim ini kuingin berganti

Ibu dan Ayah berbaliklah menyapaku
aku anakmu. bukan boneka
ketuk pintu hatiku…
Oh Tuhan ketuk pula sanubari bilik manusiawi ibu dan ayahku.

Puisi itu masih selalu ia baca dalam genggaman harapnya. Jemarinya-lah pintu dunia. Bibir dan matanya membisu pilu. Asila beranjak remaja, matanya lebam melempam. Sedih setiap hari. Kebahagian hanya satu. Ibu dan Ayahnya merengkuhnya.

***

Advertisements

2 Responses to “Asila Tak Butuh Senyum”

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: