Langit-Langit Biru

Bilik ini masih kental nuansa biru. begitulah sejak dulu. Mungkin sejak tahun 1981 saat bilik ini disematkan menjadi sekretariat Himpunan Mahasiswa tingkat jurusan. Saya baru mengenalnya dengan sangat baik tiga tahun terakhir ini.

Sebelumnya ketika saya baru menjadi mahasiswa di kampus Oemar Bakrie ini saya-lah salah satu mahasiswa apatis untuk tau episentrum bilik itu. saya mahasiswa apatis dari sekian puluh persen mahasiswa lainnya yang juga apatis.

Ceritanya menjadi sangat berbeda setelah saya di tempa oleh hasrat ber-organisasi yang sangat hebat. Saya semester lima saat libido itu muncul. Semangat meluap-luap disertai bara obsesi menaklukan kebodohan. Entah karena apa, angin dari mana, saya menjadi pemusuh kelakuan apatis dan pragmatisme mahasiswa yang dulu penuh di kepala saya.

Saat itu secara sporadis tumbuh jiwa pemimpi sekaligus pemimpin di tanah gersang lembaran hari-hari mahasiswa saya. Menjadi ketua himpunan mahasiwa tingkat jurusan, itulah mimpi jangka pendek saya. Strategi, buku filsafat, bacaan-bacaan kiri, diskusi gerakan, IPK dan tak bisa luput dari pembicaraan kawanan mahasiswa adalah percekcokan tentang dinamisasi “cinta”.

Saya dengan butir-butir semangat yang bertaburan disana-sini. Berusaha memungutnya, memupuknya hingga subur dan suatu saat saya benar-benar menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa. Mekanisme pemilihan ketua, dilakukan layaknya pemilihan presiden.

Semua mahasiswa fisika aktif memiliki satu hak suara dan hak bicara dalam pemilihan itu.Yang berbeda adalah cara pengutusannya, seorang calon ketua harus memiliki rekomendasi minimal tiga ketua kelas.

Sementara kelas aktif di jurusan fisika hanya ada 15 kelas. Sementara di kelas, saya bukanlah siapa-siapa. Di kelas masih ada empat orang yang kompetensinya untuk menjadi ketua himpunan jauh di atas kompetensi yang saya miliki.

Musyawarah terjadi untuk menentukan siapa calon yang diutus oleh kelas saya. Nyata-nya dalam usaha yang maksimal dan dengan dukungan beberapa rekan yang berhasil yang saya cuci otaknya, saya “gagal” menjadi utusan kelas.

Yang ada adalah deal politic, saya di janjikan jabatan sebagai sekretaris umum sama saja dengan orang kedua di himpunan. Saya agak shock dengan kenyataan pahit pada sebuah penolakan, tapi saya masih terhibur dengan satu janji jabatan politis itu.

Setelah saya mendapat harapan politis. Saya tak akan lupa mengenang kisah. Calon ketua utusan kelas saya, ternyata juga gagal dalam pemilihan umum. Saya pun tak dapat jabatan politis yang telah saya bayangkan repotnya mengurus surat dan persoalan administrasi di sebuah organisasi tingkat jurusan itu.

Ketua baru terpilih, namun komposisi pengurusnya belum tepat. Seperti sebuah ramuan, butuh beraneka rempah untuk menguatkan kualitasnya. Meski calon yang saya utus kalah, ketua terpilih masih membuka satu jabatan strategis.

Saya dengan semangat yang telah remuk redam karean kalah dalam perang, kembali tertarik oleh magnet batang jabatan itu. Jabatan saya terimah, saya menjadi Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat dan staf saya ada tujuh orang yang sebagian baru akan saya kenal baik karakternya.

Bilik biru itulah selama setahun masa jabatan menjadi langit-langit bumi mahasiswa saya. Setelah jabatan strategis itu. Saya masih bersedia menjadi Dewan Pengawas Organisasi di periode kepungurusan selanjutnya. Langit masih sama. masih biru.

Advertisements

2 Responses to “Langit-Langit Biru”

  1. keren banget langit-langit birunya

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: