Archive for May, 2012

Patah Ranting

Posted in Sajak with tags , , , , , on May 31, 2012 by mr.f

~oOo~

jutaan waktu yang lalu
ketika bumi hati terbakar simfoni
pohon asmara mewarna subur
hijau jiwa tumbuh menumbuh
ada ranting kaku menahan daun

cerita berganti derita
asmara murka memerah wajah
kekasih mata hilang sekejap
dan dunia menunduk malu
patah ranting di ujung lara

bukan kisah menahan rasa
atau berbalik jadi penyesal
hari ini dan masa lalu
selalu ingin dibincang
walau patah ranting di ujung lara

~oOo~

Rumah Nalar – Akhir Mei 2012

Advertisements

Rumah Nalar di Kampus Orange

Posted in Feature, Opini, Penalaran with tags , , , , , , , , , , on May 29, 2012 by mr.f

***
Setelah enam tahun berkelana di Kampus Orange (Universitas Negeri Makassar) melacak jejak para sarjana untuk kemudian juga berharap menjadi seorang sarjana, saya menemukan sebuah kategori Very Difficult untuk dapat merai gelar sarjana itu.

Tingkat kerumitannya tidak hanya berada pada saat menjelang sidang skripsi yang banyak sarjana menilainya dengan harga yang sangat tinggi atau di proses perkuliahannya yang membuat banyak mahasiswa gugur di tengah musim karena tak mampu melawan badai baru yang jauh berbeda saat berada di bangku seragam abu-abu.

Akan tetapi, kehidupan mahasiswa di kampus ini begitu berwarna membuatnya selalu indah ibarat pelangi yang dilengkungi oleh sulaman warna yang memukau. Menjadi mahasiswa saya rumuskan bukan hanya sebagai seorang pencari gelar dan diwisuda. Bukan itu tujuan akhir status mahasiswa.

Menjadi mahasiswa adalah menjadi berilmu dan bermanfaat. Ilmu dan manfaatnya adalah bagaikan dua sisi mata uang yang harus saling ada di dalam jiwa seorang mahasiswa, karena ilmu tak pernah lebih penting dari manfaatnya. Kadang dinamika dan pergolakan batin seorang mahasiswa untuk menjadi bermanfaat menjadikannya lebih lama menikmati indahnya pelangi di dunia kampus.

***

Di kampus ini jauh lebih banyak mahasiswa yang merasa bangga mendapati dirinya ber-IPK tinggi daripada yang berpengabdian tinggi alias bermanfaat banyak bagi kondisi sosial di sekitarnya. Menjadi mahasiswa dijadikan area memupuk diri menjadi pintar untuk dirinya sendiri.

Sudah hampir menjadi rumus linear bahwa mahasiswa yang ber-IPK tinggi adalah mahasiswa yang pelit dan antisosial. Jika ada yang tidak masuk dalam rumusan ini maka mahasiswa tersebut adalah mahasiswa eksepsion yang berada dilingkungan yang luar biasa.

Kampus Orange ini telah menyediakan banyak lingkungan kecil yang luar biasa untuk dapat menyandingkan ilmu dan manfaatnya sebagai satu paket yang diburu oleh mahasiswa. Di masing-masing tingkatan dalam kampus ini telah disediakan ruang untuk menjadikan ilmu yang diperoleh bernilai manfaat. Tidak bernilai nol   karena saking rapatnya disimpan dalam otak untuk suatu saat ditunjukkan sebagai parameter kehebatan sebagai mahasiswa.

***

Saya akan menceritakan salah satu ruang luar biasa yang berada di Kampus Orange ini, ruang yang berhasil mengawinkan dua sisi koin emas mahasiswa ini. Menjadi mahasiswa berilmu dan bermanfaat. Ruang ini telah saya masuki sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu.

Ruang yang bernama Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran. Ruang yang berisi mahasiswa hebat sejak didirikan pada tahun 1998, berdiri sejajar dengan 12 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di lingkungan Universitas Negeri Makassar.

Saya adalah generasi ke-12 yang direkrut setiap tahunnya. Saat ini telah ada 15 generasi dengan 40-60  mahasiswa per generasi yang diorientasikan menjadi mahasiswa yang berilmu dan bermanfaat. Dengan usaha yang keras ruang ini telah diisi oleh interpretasi mahasiswa dari 9 mata orange (fakultas) Universitas Negeri Makassar.

Jika mencoba menengok personal mahasiswa yang mengisi ruang ini, maka akan didapati mahasiswa yang ber-IPK tinggi namun memiliki simpati sosial yang tak kalah tinggi dengan kaum sosialis di luar kampus.

***

Dalam kesehariannya, ruang hebat yang lazim dengan sebutan “Rumah Nalar”, adalah rumah yang menyimpan jutaan inspirasi di setiap sisi dan sudut ruangnya. Rumah ini riuh oleh mahasiswa yang haus ilmu, dipenuhi titik berbagi dan kepedulian. Share and care, menjadikan para mahasiswa yang bernaung di dalamnya menjadi teduh dengan pengetahuan yang saling mengisi.

Di tengah fenomena apatisme yang mengakar dalam pandangan sosial mahasiswa saat ini, mahasiswa di dalam payung lembaga “LPM Penalaran” tak ikut terjaring dalam kebodohan itu. Justru para mahasiswa ber-IPK tinggi ini sibuk menelusuri jalan berbagi ilmu dan menjadi problem solver di tengah kompleksifitas kehidupan sosial masyarakat. Penelitian dengan orientasi solusi adalah menjadi habitus yang sudah tertanam sejak lembaga ini berdiri.

Di luar hidup sebagai mahasiswa, terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan. Para mahasiswa penghuni “Rumah Nalar” sangat mengedepankan aspek ilmiah sebuah gagasan penyelesaian masalah. Maka tak heran, di dalam lemari “Rumah Nalar” bertumpuk ratusan gagasan ilmiah yang diciptakan oleh para mahasiswa yang terus dikader berpikir solutif dan reaktif terhadap lingkungan sosial.

***

Cipta karya para kader lembaga ini memeiliki kreatifitas yang terbatas, makanya banyak sekali ide atau gagasan out of the box yang ditelorkan. Disamping itu semua ada nilai yang begitu kuat mengakar untuk seluruh mahasiswa penaung “Rumah Nalar” , adalah nilai “kekeluargaan” yang sangat solid, merekat erat satu sama lain.

Nilai “kekeluargaan” ini tidak mengurangi profesionalisme para  kadernya sebagai peneliti yang tentunya telah sejak awal dibekali loyalitas dan integritas sehingga para mahasiswa yang didekrit sebagai peneliti muda ini berani berprinsip “peneliti boleh salah, tapi peneliti tidak boleh bohong!”.

Saya menganggap, meski dicap telat sarjana, tapi saya tidak akan pernah menyesal telah menyaksikan indahnya pelangi kampus. Dan saya telah beritikad menjadi bermanfaat dengan segenap ilmu saya peroleh di kampus dan saya berani menjamin bahwa di “Rumah Nalar” itulah kita mendapati hujan sebelum menatap pelangi.

***

“Catatan Mahasiswa – Luwu Utara 23 April 2012”