Mengenang Ajal

***

Maka wajarkah kita tersenyum saat derita

Sedangkan hati adalah indera

Hanya air mata yang boleh memantaskan diri

Karena ditangkai mawar berselimut duri

 

Lalu saat itu kudukku berdirih luruh

Dingin bersaksi di alam gemuruh

Aku tak bisa diam bersama perih

Ku ingin nikmati saat risau dan sedih

 

Kini lenganku mengalun layu

Terjerat langit yang tak lagi biru

Nafasku jauh dalam meradang

Ku sadar ajal dekat menjelang

***

Advertisements

2 Responses to “Mengenang Ajal”

  1. Amirullah Daeng Sibali Says:

    andai semua orang seperti itu…

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s