Menyimak 5 Tren Metropolis

Makassar dan Jakarta mungkin masih jauh berbeda bagaikan bumi dan langit, seperti kata teman saya yang dulu pernah mencoba mengkomparasikan pemandangan kedua kota besar di Indonesia ini.

Akan tetapi tanpa melihat langsung pun, saat ini kita telah mampu merajut sebuah benang yang tak kusut lagi bahwa beberapa gaya hidup yang begitu booming di kedua kota besar memiliki  kesamaan pola dan peniruannya.

Pengalaman hidup di kota Makassar selama 6 tahun telah mampu membuat sebuah underline tren masa kini kaum metropolis. Pengalaman itu telah saya coba sandingkan dengan berbagai ceritera dari teman-teman dari seluruh penjuru negeri ini.

Beberapa bulan lalu ketika saya mengikuti sebuah kegiatan berskala nasional yang melibatkan perwakilan seluruh propinsi, saya mendapatkan beberapa informasi yang saya butuhkan untuk menyandingkan kecenderungan-kecenderungan itu.

Setidak-tidaknya ada lima buah tren yang telah menjadi sebuah gengsi di mata anak muda metropolis di Indonesia. Sift paradigm itu tak lain sebagai imbas dari globalisasi yang menjalar begitu cepat ke alam sadar dan bawah sadar  kaum muda Indonesia.

Pergeseran beberapa fungsi kebiasaan itu telah hampir memasuki sebuah wacana yang disebut kegilaan. Diantara banyak tren yang telah menjamuri kaum muda metropolis di Indonesia, saya mencatatnya sebagai berikut ;

  1. Blackberry,
    Beberapa tahun terakhir ini smartphone pabrikan Kanada ini telah menjadai sebuah fenomena sosial yang menarik untuk kita amati sebagai pengguna produk elektronik secara global. Peran sebagai alat komunikasi dari gadget ini bergeser banyak menjadi sebuah pertarungan kasta di jaman tekno ini.
    Anggapan ini telah menjadi median yang merasuk pikiran semua orang di Indonesia, tidak hanya kaum-kaum metropolis akan tetapi kaum margin maupun proletarian telah mengenal gengsi dari benda ini. Seakan sebuah logo BB di sisi belakang benda ini menciptakan sebuah pandangan yang menyatakan kemampuan ekonomis orang menggenggamnya.
    Smartphone jenis ini jelas adalah hape yang cerdas. Membuat pemiliknya memiliki sebuah privasi berteknologi yang amat hebat, yakni terletak dari kode PIN hape ini. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh jenis dan merek hape lainnya.Dalam realitanya, Blackberry telah menembus minat para remaja yang masih berseragam abu-abu. Para remaja ini tersihir oleh tradisi eksis yang mulai laris saat ini.
  2. Behel Gigi.
    Siapa yang tidak ingin tampil lebih menarik dibanding deangan orang lain. Behel gigi atau lazim dengan sebutan kawat gigi adalah tren remaja masa kini. Behel gigi yang semula adalah produk medis untuk memperbaiki tampilan gigi seseorang, juga saat ini telah melenceng dari fungsi utama itu. Banyak terlihat kawula muda sedang bangga-bangganya menggunakan besi pada salah satu organ  yang banyak menjadi acuan penampilan seseorang.
    Kebanyakan kawula muda itu adalah para wanita yang menganggap penampilan adalah yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Spekulasi yang biasa digunakan sebagai alibi para pengguna benda ini adalah untuk kebaikan fisik penggunanya. Banyak yang meyakini bila menggunakan behel gigi maka struktur dan tatanan gigi seseorang akan terlihat lebih rapi. Selain itu behel gigi ini pun di anggap bisa menjadi alat untuk mengurangi bobot badan seseorang, karena orang yang menggunakan behel gigi ini tidak memaksimalkan fungsi gigi akibatnya makanan yang mampu dikunya akan terbatas.
    Di Korea, agak berbeda dengan tren yang masih laku di Indonesia khususnya di Makassar. Disana behel gigi digunakan justru bukan untuk memperbaiki tatanan dan kerapian gigi seseorang melainkan untuk mereposisi gigi yang mengenakan behel gigi ini. Biasanya gigi yang reposisi adalah gigi taring, karena banyak wanita Korea menganggap gigi yang taring yamng terllihat tidak rapi justru akan memeberi kesan yang lebih cute  dan terlihat lebih modis.
    Semoga tren Korea ini tidak mewabah di Makassar. Gigi taring ynag tidak rapi di Makassar sudah cukup banyak dan orang di Makassar telah menganggap sebagai kesalahan perawatan gigi seseorang sejak dari remaja. 
  3. Kamera DSLR (Digital single-lens reflex)
    Kamera DSLR, sedang banyak digandrungi oleh orang-orang metropolis. Jika kita berjalan-jalan di sebuah objek yang fotografis maka jangan heran akan ada banyak orang berseliweran mengalungkan kamera sejenis ini.
    Meskipun dapat dipastikan tidak semua orang yang mengalungkan kamera ini adalah fotografer professional. Banyak diantara mereka adalah fotografer habitus, just hobby.
    Dalam kenyataan pemilik kamera jenis ini juga laris manis dari kalangan pengguna seragam abu-abu. Lagi-lagi para remaja ababil ini terseret sebuah gaya hidup metropolis. Harus diakui bahwa seseorang yang mengalungkan atau menjinjing jenis kamera seperti ini akan membentuk sebuah paradigma kesan yang modis dan modern, biasanya pembawa kamera ini akan menyandingkan kostumnya dengan penampilan yang lebih nyentrik dan tidak umum.
    Celana pendek dan sandal gunung pakai topi dan menggendong ransel adalah pasangan yang cocok untuk dipadukan dengan pembawa kamera ini. Hasilnya adalah kesan fotografer professional. Atau kalau tidak dengan celana pendek rambut gonrong tak beraturandan kaos oblong akan menghiasi wajah penjinjing kamera ini
  4. Gowes
    Bersepeda santai atau istilah trennya gowes, adalah sebuah habitus baru saat ini. Bersepeda atau gowes memang sangat asyik, sekali mengayuh roda kita akan berolahraga sekaligus meramaikan tren metropolis ini.
    Saat ini telah banyak komunitas gowes yang terbentuk. Mulai dari klub atau komunitas remaja sampai komunitas para pejabat Negara. Habitus ini akan bersifat rutinitas dan menebar citra sebagai orang yang rama lingkungan.
    Padahal citra itu adalah efek yang diberikan dari mengikuti tren metropolis masa kini. Kegiatan berolahraga ini telah menjadi gaya hidup kaum metropolis. Sepeda yang terlihat lebih canggih akan mengesankan penggunanya orang yang memiliki kelebihan ekonomi.
  5. Media Sosial
    Kaum metropolis sudah sangat familiar dengan tren media sosial. Akan dikatakan sebagai manusia yang kampungan bila tidak memiliki akun jejaring social semacam fecebook atau twitter. Alasan informasi dan silaturrahim adalah alasan yang paling banyak dikemukakan untuk menjadi bagian dari tren ini.
    Seorang pengguna media social akan mengatakan dirinya sebagai oaring yang mendunia. Karean telah menjadi bagian dari masyarakat dunia ditandai dengah pertemanan yang gampang terjalin dengan warga dunia. Manusia di belahan bumi yang lain akan dengan muda mengetahui banyak tentang seseorang hanya dengan membuka dan mengotak-atik informasi pengguna media social. Terlepas dari apakah data yang diinput kedalam informasi personal adalah data rela ataupun hanya data fiktif

Itulah masyarakat Indonesia yang dengan mudah terjangkit suatu kebiasaan baru meskipun kebiasaan itu hanyalah sebatas tren yang dari sisi manfaat terlihat tak begitu penting untuk di jadikan sebuah kebiasaan.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: