Ikon Rekulturalisasi, Jerat Wisata Sulsel

Grafis Alam Sulsel

“Waw…”. Mungkin itulah kalimat ketakjuban yang akan keluar dari mulut kita jika telah berhasil melintasi bentang alam Sulawesi Selatan. Ada banyak sekali objek yang mengikat mata di provinsi ini. Keberadaan objek itu akan dapat dilihat dari balik kaca jendela mobil, namun akan lebih sensasional bila mata tercuci secara langsung di landcape alam Sulsel.

Pantai Putih Tanjung Bira

Pantai Putih Tanjung Bira, Bulukumba

Pasir putih telah membentuk grafis yang memukau di sepanjang daratan terluar provinsi ini. Ada ratusan pantai dan pulau yang terlukis indah berkat keberadaan pasir putihnya. Sebut saja pasir putih nan halus di tanjung Bira Kabupaten Bulukumba. Terletak tepat di sudut kanan bawah Provinsi Sulsel. Lokasi yang telah menjadi objek wisata bahari ini akan rutin diselenggarakan sebuah Festival Bahari yang biasanya menyeret Perahu Layar Phinisi buatan warga bulukumba yang hingga saat ini masih fenomenal dengan keperkasaannya mengarungi samudera di penjuru dunia.

Buntu Kabobong

Buntu Kabobong, Enrekang

Di tempat lain yang sama sekali tidak memiliki garis pantai. Beberapa gunung dan perbukitan menjadi lukisan alam yang artistik. Gunung Nona atau Buntu Kabobong di Kabupaten Enrekang adalah salah satu bukti kekokohan alam Provinsi Sulsel, menjadikan deretan bukit di tempat ini favorit sebagai background fotografis alami bagi para pelintas jalan.

Sedangkan bebatuan di daerah kartsatau gunung batu di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros seolah menjadi magnet hitam yang menarik orang untuk datang walau hanya sekedar mengungkapkan kalimat takjub. Di selah-selah gunung batu ada tersimpan banyak potensi yang menguak rasa penasaran. Seperti keberadaan air terjun Bantimurung di Kabupaten Maros yang tepat diapit oleh dua karts.

Bantimurung, Maros

Karts di Bantimurung, Maros

Di karts itu pula masih tersimpan banyak misteri dibalik kekokohannya. Kemungkinan masih banyak gua yang belum terdeteksi oleh arkeolog, melihat adanya peluang perdaban karts di daerah ini. Di Kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan) ada lokasi purbakala Sumpabitta yang kini jadi objek wisata andalan. Lokasi ini terkenal dengan tangga seribu yang mengantarkan kita pada sebuah gua yang berlukiskan benda-benda purbakala di dinding-dinding batunya. Konon juga lokasi ini adalah sebuah gerbang transposisi sebuah peradaban pada masa lampau.

Kabupaten di Sulsel seolah telah mendapat jatah tersendiri untuk objek alam yang metaforis. Di Kabupaten Wajo ada danau tempe sebagai sumber daya alam yang banyak menghidupkan masyarakat di radian danau ini dengan itu pula segenap problematika sosial menyertai keberadaannya.

Danau Tempe, Sengkang-Wajo

Danau Tempe, Sengkang-Wajo

Selain di Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu Timur juga mendapat jatah danau indah untuk berwisata keluarga. Danau yang bila kita berada di tepi sisi selatan danau maka tepian utara tak kan mampu terlihat mata. Danau ini bernama danau Towuti yang juga menjadi jalur transportasi air masyarakat sekitar.

Danau Towuti, Luwu Timur

Danau Towuti, Luwu Timur

Di kabupaten Luwu Timur ini juga terbentang jalan transulawesi tertinggi di Sulsel. Jalan darat yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Selatan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara. Tak ada salahnya berhenti jika telah berada tepat di perbatasan provinsi ini. Mengabadikan momen sekaligus menyaksikan kota Malili (Ibukota Kabupaten Luwu Timur) yang tertutup awan cumulus. Di jalan yang salah satu sisinya terdapat jurang yang begitu curam ini, burung-burung akan terbang lebih rendah dari kendaraan yang sedang menukik pada setiap tikungannya.

kota kelelawar-watansoppeng

Kota Kelelawar-Watansoppeng

Fenomena alam yang juga unik adalah berada di Kabupaten Soppeng yang terkenal dengan Kota Kelelawar. Keberadaan kekelelawar di dalam area kota Watansoppeng (Ibukota Kabupaten Soppeng) membuat rasa keingintahuan membuncah menembus segala aral untuk menyaksikan secara langsung kehidupan apes berinfra merah ini di tengah hiruk pikuk dan rutinitas masyarakat perkotaan. Kondisi alam yang juga membuat Kabupaten Soppeng memikat adalah objek wisata alam permandian air panas Lejja, merupakan wisata air panas terbesar di provinsi Sulawesi Selatan.

Takabonerate, Selayar

Takabonerate, Selayar

Berbeda dengan alam Sulsel yang lain, Kabupaten Selayar menawarkan keindahan alam bawah laut yang fantastis, mampu menyilau mata walau berada di dasar laut. Terumbu karang yang kini telah dimanajemen dengan baik oleh pemerintah setempat merajut ketertarikan pengunjung wisata di daerah yang berjuluk Takabonerate ini.

Hampir di setiap kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki karakteristik alam yang memukau dan siap untuk di jadikan potret alam Sulsel dan tentunya bentang alam yang menguntungkan itu adalah anugerah Tuhan yang tak ternilai harga penciptaannya.

Rekulturalisasi

Dalam kenyataannya, kekayaan bentang alam ini belum mampu menjerat emosional para pengunjung atau wisatawan di Sulsel. Di luar konteks keamanan yang kadang  menjadi ancaman dan mengganggu minat melancong para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Alam-alam yang indah itu sebatas merajut penasaran, memikat mata, ataupun menjadi pelukis alam di kamera para wisatawan. Alam ini belum begitu kuat mengikat kaki wisatawan. Adanya sebuah gerakan penyadaran wisata adalah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Sulsel.

Kita masih patut mengacungkan jempol pada usaha pemerintah yang dengan berani menyodorkan program Visit South Sulawesi 2012 di tengah apatisme masyarakat  Sulsel terhadap pentingnya penggalakan sektor wisata. Kita tau bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah menetapkan lima kabupaten dan kota sebagai penyelenggara Visit South Sulawesi 2012. Kelima daerah tersebut adalah Kota Makassar, Kabupaten Maros, Bulukumba, Wajo, dan Kabupaten Tanatoraja yang akan menampilkan wisata unggulan mereka masing-masing.

Visit South Sulawesi 2012

Visit South Sulawesi 2012

Sinergis dengan agenda kunjungan itu, wisata budaya adalah sebuah program yang menjerat emosi para wisatawan. Sulawesi Selatan dengan karakter kebudayaan yang masih tersisa dari gerusan modernisasi adalah pilar yang mampu menopang sebuah keinginan kuat merekonstruksi aspek kultural dan tradisi yang pernah ada di Tana Sulsel.

Di Tana Sulsel sangat bisa dipastikan masing-masing daerah memiliki warisan budaya yang dapat menjadi ikon kebudayaan dan tradisi yang pernah tenar pada baik pada zaman dahulu maupun pada zaman pemerintahan kolonial. Beberapa daerah telah melakukan rekulturalisasi sebagai upaya pelestarian nilai luhur budaya di daerah masing-masing.

Lovely December in Toraja

Lovely December in Toraja

Lovely December in Toraja

Tanatoraja telah lebih dulu mempopulerkan event akbar yang dihelat secara rutin berjuluk “Lovely December in Toraja” event ini seremonial berisi upacara adat bernama Rambu Solo. Rambu Solo d

alah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.

Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50 juta per ekornya.

Manre Saperra

Di tempat terpisah, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara tahun ini juga telah berhasil menggadang Ritual Kultural berjuluk Manre Saperra. Manre Saperra sendiri berarti makan bersama secara berhadapan pada satu garis lurus dan beralas kain putih dan berisi ritual-ritual kultural.

Sebuah tradisi yang sangat vital yang pernah dipraktekkan pada zaman kejayaan Kerajaan Luwu. Prosesi Ritual Adat Manre Saperra yakni suatu peristiwa rekonsiliasi adat Luwu yang akan digelar sepanjang 1,5 km, bertempat di Situs Budaya Makam Dato’ Sulaiman (penyebar agama islam di Tana Luwu) dan Makam Raja Luwu ke 15 Andi Patiware (Raja Islam Pertama Kerajaaan Luwu) Desa Pattimang Kecamatan Malangke, Desa yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Religius dan Sejarah,  Opera I La Galigo Episode Sawerigading Pelayaran Cinta, Seminar I La Galigo dan Silaturahim Wija To Luwu.

Perayaan Maudu Lompoa, Cikoang-Takalar

Perayaan Maudu Lompoa, Cikoang-Takalar

Sedangkan di Kabupaten Takalar sejak beberapa tahun terakhir telah rutin menyelenggarakan Ritual Adat Maudu Lompoa. Maudu Lompoa merupakan ritual kebudayaan keturunan Al Aidid, dimeriahkan dengan perahu yang dihiasi telur warna-warni, pasar murah dengan bermacam-macam lomba, seperti lomba perahu dayung, lomba renang, lomba menangkap bebek, pencak silat, panjat pinang dan barasanji.

Jerat Wisata

Agenda tahunan yang memiliki unsur konstruksi budaya dan tradisi jaman dulu sangat ditunggu realisasinya di setiap daerah. Kegiatan adat dan yang coba dipraktekkan kembali akan sangat membantu menyerap psikologi wisatawan. Selain itu gairah kaum muda yang telah banyak melupakan sejarah menjadi penting untuk dibangkitkan ke arah usaha pelestarian nilai budaya. Ritual-ritual adat seperti ini dapat menjadi stategi pengembangan wisata di Sulsel

Minat berwisata dan saling mengunjungi kebudayaan pada masing-masing event yang berbeda di tiap daerah akan tumbuh meretas orientasi materialis masyarakat Sulsel. Paham yang mengedepankan aspek materi daripada rasa kekeluargaan. Paham ini telah mulai menyerang alam bawah sadar masyarakat Sulsel dan telah mempengaruhi pola tingkahlaku masyarakat yang dulu dikenal kuat kekeluargaannya. Penggalakan kegiatan adat di Tana Sulsel akan mampu menjerat para pengunjung atau wisatawan yang datang. Dampak lainnya lagi adalah tersemainya kecintaan akan budaya pada diri pemuda-pemudi yang terlibat dalam perhelatan kebudayaan ini.

Bila agenda rekulturalisasi ini tersusun rapi dan menjadi rutin dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan maka secara tidak sadar promosi pariwisata di Sulsel akan keluar dengan dari mulut para wisatawan yang datang di Sulsel. Kegiatan ini perlu manajemen dari stakeholder yang memegang kuasa atas bidang semacam ini.

Lomba Blog Visit South Sulawesi 2012

Tulisan ini dipersembahkan untuk mengikuti Lomba Konten Blog Bertema : “Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata Sulawesi Selatan” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

dalam Rangka Visit South Sulawesi 2012

Advertisements

One Response to “Ikon Rekulturalisasi, Jerat Wisata Sulsel”

  1. Hi, mohon ijin berbagi informasi ya… Yuk ikutan #ZockoUnlocked Blogging Competition berhadiah iPhone 5S atau iPad Mini! Untuk info lengkap silakan kunjungi http://weare.zocko.com ya dan jangan lupa sign up di http://www.zocko.com terlebih dahulu! Kami tunggu ☺

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: