Stop Playlist Lagu Dewasa!

Kecenderungan Meniru

Saya tidak lagi begitu terkejut menyaksikan anak-anak usia di bawah sepuluh tahun menirukan gaya beberapa bintang girlband di Indonesia. Saya telah memaklumi kondisi ini. Saat bocah di samping rumah saya usai mengaji dan mereka mulai melakukan duplikasi gerakan para girlband yang sedang tenar itu, merka hampir mampu menirukan gerakannya secara utuh dan tentunya bersama-sama layaknya girlband yang mereka lihat.

Tak tangung-tanggung mereka menirukan gerakan dan nyanyian para girlband itu sebanyak empat lagu yang gerakannya berbeda-beda.

Tak perlu heran melihat realita ini. Selera musik para bocah ini telah selevel dengan selera orang tuanya. Padahal mereka ini adalah anak dibawah umur sepuluh tahun. Mereka mengonsumsi musik orang dewasa. Mereka menirukan apa yang mereka lihat dan dengarkan. Pola interaksi dan kegembiraan mereka dibentuk oleh televisi masa kini. Tentunya termasuk asupan musik yang mereka nikmati setiap harinya.

Musik Kampung, Permintaan Pasar

Realita anak yang seperti ini terjadi di daerah saya yang masih terbilang kampung, dan mungkin dekat dengan selera kampungan. Namun tak dapat dipungkiri selera kampungan seperti ini adalah lebih banyak secara kuantitas dan biasanya mempengaruhi permintaan pasar di metropolis. Termasuk permintaan musik.

Kita tak bisa menyalahkan orang tua secara sepihak terhadap realita kecenderungan keinginan bermusik anak seperti yang terjadi di kampung saya ini. Dan saya meyakini realita ini adalah realita yang juga terjadi di kawasan perkampungan di tempat lain.

Ketersediaan playlist lagu anak di televisi Indonesia membuat kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan. Kita akan melihat akan banyak anak-anak yang dewas sebelum waktunya. Kondisi ini kurang lebih dipengaruhi oleh dogma musik yang masuk secara perlahan ke dalam jiwa seorang anak. Mungkin melalui lirik lagunya, dentuman musik dan intonasi lagu, dan yang paling parah adalah selera berpakaian para penyanyi dewasa.

Kedewasaan anak harus kita atur, jika kita ingin melihat wajah Indonesia di masa depan menjadi lebih bermoral. Salah satu caranya adalah memperhatikan suara dan gambar yang terekam melalui musik yang mereka nikmati. Karena musik ini sangat korelatif dengan perilaku dan tindakan yang dihasilkan oleh anak yang mendengarnya.

Wajah Indonesia yang Buram

Jika musik yang diperdengarkan lebih banyak bernuansa cinta dan asmara. Maka anak Indonesia di beberapa tahun ke depan akan lebih banyak mengenal cinta daripada apa yang mesti mereka kembangkan dari dirinya selain cinta yang biasanya diartikan semp.

Di Indonesia saat ini musik yang bernuansa anak telah menjadi langkah karena efek langsung dari paradigma materialis dan pragmatis para pelaku hiburan di mainstream media. Berburu uang dan popularitas instan adalah hasrat yang menggebu di para entertainment. Mencoba menghibur orang dewasa, namun sasaran itu juga mengena pada anak-anak yang tidak semestinya.

Meski pun saat ini di Indonesia telah banyak artis cilik. Namun itu tidak mampu mengindikasikan bahwa banyak pula lagu anak yang ditelorkan. Kondisi ini memprihatinkan, karena para artis cilik itupun telah terkontaminasi dengan virus cinta yang ditularkan oleh para artis dan penyanyi senior lainnya.

Saat ini kita hanya mesti mencoba memasukkan kembali lagu anak ke dalam playlist di rumah orang tua. Tontonan televisi mesti menjadi hal yang mampu menuntun arah perkembangan moralitas anak, selain didapatkan di bangku sekolah dan keluarga. Jika kita kekurangan stok lagu anak kita bisa menesubtitusi nya dengan lagu yang lebih bernuansa religius.

9 Tanggapan to “Stop Playlist Lagu Dewasa!”

  1. Nurul Nisa Muhammad Says:

    tAak dApat dipUngkiRi bAhwA pEnyEbAb utAma kURAngnyA minAat aNAk2 tErhAdAp LAgU aNak2 itUu sEndiRi adALah sERingnyA si aNAk mEndEngAR dAan mELihAt LAgU2 dEwAsa sAat iNi………… iNgin mEngURAngi pRoduksi LagUu2 dEwAsa sEpERti adALAh hAl mUstAhiL,,,,,,,,,,,

    bAgAimAna kALau kitAa mEnciptAakan LAguu aNAak2 atAau sEtidAaknyA mEmOpULERkAn kEmbALi LAagu2 aNAak yAang sEmpAt pOpULEr bEbERApa tAhUn yAng LALu,,,,, sAaya ingAt wAktU zAman sAaya kEciL dUuLU,,,,,,, bAnyAk aRtis2 ciLik sEpERti Joshua, Sherina, Tasya, Dhea Ananda, Leony, Cindy Cenora, Trio Kwek-kwek (maaf klw salah ketik,, hihihihi), dAan mAsiH bAnyAk LAgi………….

    • setuju banget, tapi kita tetap butuh gerakan pasif untuk menjadi sebuah gerakan masif. Salah satu jalan adalah lebih banyak melakukan penyadaran-penyadaran kepda berbagai pihak, terutama media betapa berbahayanya lagu-lagu dewasa bagi masa depan anak Indonesia. Kita bisa melakukannya sekarang dengan lebih giat mensosialisasikan berita buruk ini di media sosial.

  2. saya ingat dulu waktu saya kecil, saya bahagia bisa hidup di zaman itu karena masih banyak artis cilik bahkan playlist lagu anak-anak seperti cilukba yang dibawakan oleh presenter chikita meidi yang masih sangat digemari anak kecil seperti saya dulu.
    tri kwek-kwek, joshua, susan, mega utami, tasya, tina toon dan banyak lagi penyanyi cilik lainnya masih menjadi idola anak-anak.
    namun sekarang kayaknya sudah tidak ada lagi penyanyi cilik yang mampu mengembalikan trend lagu dan film yang dibuatkan khsus untuk konsumsi anak2.
    kadang saya miris ketika anak2 lebih tahu lagunya keong racun, cinta satu malam, cherry belle, seven icons dan bberapa penyanyi dewasa lainnya, sedangkan lagu anak2 lainnya mereka tidak tahu. parahnya lagi lagu nasional kita untuk anak2 yang tinggal di kota banyak looh yang mereka tidak tahu.
    wajar saja kita krisis moral dan rakyat yang krisis jiwa nasionalisnya.
    sangaat sangaat suka tulisan ini..
    ::thumbsup: 🙂

  3. bagaimna dengn memunculkan kembali lagu anak, ktika ada ajang lomba menyanyi untuk anak2 baiknya lagunya sesuai dengan umur mereka, baik itu dari segi makna ataupun yang lainnya🙂

    • saat tulisan ini sy buat. saya belum menemukan gagasan yg kamu maksud -asmayani-. kini sy jd kaya dgn gagasanmu. suatu saat akan sy coba ikuti cara fikir-mu. thanks!

  4. Akselerasi Pendewasaan anak lewat lagu…

  5. yang seharusnya ambil peran:
    1. Pemerintah membatasi pengedaran lagu- lagu yang bermakna negatif (seks) dikalangan masyrakat.
    2. Orang tua terutama ibu mengontrol kegiatan anaknya. kalau bisa ibu menciptakan lagu untuk anaknya.
    3. Lingkungan (paling penting) merupakan sumber dari segala sumber seorang anak bisa terwarnai.
    4. Pmerintah atau pihak media mengadakan lomba cipta lagu anak kemudian di satukan dan dinyanyikan oleh artis2 cilik terkenal.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s