Doa yang Diam

 

***

Aku terbayang nisan cahaya

Serbuk mentari melapang ruang

Walau diam di keabadian

Namun  pesona malam terus purnama

 

Ada khidmat di pembaringan

Selimut hangat di ujung sholat

Bagai riuh angin sepoi

Dunia kan bersaksi sejarah singkat

 

Aku lalu membaca pertanda diam

Usap peluh tak berbanding

Sampai nafas di akhir hela

Doa selamat selalu sempat

***

 

Tamuku, 16 Maret 2012

Advertisements

2 Responses to “Doa yang Diam”

  1. Thanks, telah meninggalkan jejak di blog personal ini.
    saya telah like dan tambahkan sebagai teman. Kita akan jalin silaturrahim sebagai umat!

  2. Angka

    Kita cuma sederet angka di atas kertas.

    Nomor-nomor bernama identitas.

    Itu muka kita. Nadi kita. Darah. Daging kita.

    Berebut minta disebut. Kendati kusut.

    Keruh. Keluh. Gaduh. Penuh. Jenuh.Keruh.

    Tampil kecil menyempil. Nihil.

    Kita telanjang menyeru siang.

    Lantas tenggelam di balik tirai malam.

    Di hadapan sulbi. Di muka api-api.

    Kita sekadar angka menunggu senja.

    16 Maret 2012

    Salam Kenal, Bung… Ini Andi Kata.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s