Sungai dan Rambo

Kerinduan tak terpenjara, kini imaji bermain air di tepian sungai. Saya melompat dari jembatan kayu hitam, berulang kali mencoba gaya salto di udara sebelum terhempas di air yang sedikit asin. Sungai itu memang tak dalam, juga tak terlalu lebar, rata-rata lebarnya sekitar 10 meter. Sungai ini sangat penting untuk hidup.

Sudah banyak rumah warga yang berfondasi dari pasir sungai itu. Tak terkecuali rumah saya. Pasir itu diangkut menggunakan ember kecil oleh para siswa yang diajar ngaji oleh ibu saya. Itu terjadi setelah para siswa usai ngaji.

Pengambilan pasir di sungai yang mengalir sejajar dengan jalan desa telah berlangsung sejak lama. Para ibu dan semua yang mandi di sungai biasa dengan sengaja membawa ember untuk diisi pasir. Pasir sendiri jika telah sampai di rumah memiliki banyak manfaat, kadang dipergunakan untuk hal-hal yang tidak terduga.

Motif lain untuk mengambil pasir di sungai adalah pembelian pasir yang dia angkut oleh para bocah, saya sudah lupa kisaran harga pasir per-embernya. Saya juga termasuk bocah saat itu yang memanfaatkan tenaga saya yang tersisa dari sekolah untuk mengumpulkan pasir yang sengaja di bentuk bukit kecil. Jadilah barisan bukit kecil bertebaran di halaman rumah sang pembeli pasir.

Para bocah sangat menikmati aktivitas ini. Bermain dan mengahsilakn uang jajan, energi yang dibutuhkan juga tak seberapa, karena hanya perlu memindahtempatkan pasir yang semula di sungai menjadi berada depan rumah. Rata-rata rumah warga berada dekat dengan bantalan sungai, jadi sangat terbantuh.

Bermain di sungai bukan hanya berurusan dengan pasir, permainan saya waktu itu sangat bervariatif. Sepulang sekolah hingga senja menggulung langit biru, biasa hanya habis di tepian sungai. Adu cepat renang yang melelahkan, ada juga yang bermain selam, ada bertugas melempar batu kristal dan yang lain berlomba untuk menemukannya.

Jika bosan bermain lempar batu, kami mencari udang-udang kecil yang bergantung di serabut pohon di pinggiran sungai. Tentu semua itu bisa kami lakukan jika air pasang.

Tempat saya bermain jauh lebih asyik dibanding apa yang diperankan oleh si bolang -bocah petualang. Bila fantasi menuncak, karena orang di kampung sangat expert terhadap film-film action serupa Rambo dan kawan-kawannya. Hingga para bocah bersusah payah memvisualisasikan adegan di film itu dengan membuat skenario peperangan.

Ada reflika senjata terbuat dari pelepah sagu biasa kami sebuat -gabagaba. Bom-nya adalah tanah liat yang banyak di pinggir sungai di bentuk seukuran bola kastik. Bom ini memiliki jarak tembak kisaran dua puluh meter yang mampu membuat punggung berdetuk jika tepat terkena bom ini.

Kostum, kami tak pakai kostum. Lebih banyak dari yang bertelanjang bulat. Ada satu aturan tak tertulis, permainan tak boleh di ikuti oleh bocah perempuan. Badan kami hanya bergumul lumpur dan coretan combat bak wajah Rambo dan marinir-marinir seperti di layar kaca. Sering terdengar suara ‘serrrrrrbbuuuuuuuu……

Kata serbu tak serta merta mengindikasikan bahwa ada pihak yang akan diserbu. Nyatanya, startegi kami matang, ada gua-gua buatan dari pohon yang menjalar, dimodifikasi serupa rumah eskimo. Tepi sungai yang masih berserabut dahan juga menjadi tempat perembunyian efektif. Peperangan kadang berakhir tragis, ada drama penyanderaan dan tukar tawanan. Biasa juga berakhir dengan gencatan senjata. Damai

Sungai itu kini berbeda. Hanya tersisa beberapa orang saja yang mau mandi di sungai. Padahal, beberapa tahun silam suanagi sangat mistis jika disandingkan dengan gelap. Sungai saat itu kadangkala begitu di takuti. Jika air pasang di malam buta, esoknya muncul spekulasi bahwa semalam ada buaya bermaindi tepi sungai, yang matanya sebesar piringf. Menyeramkan kan?

Tapi saat ini, kesan mistis dan menyeramkan itu bergeser bahkan hilang sama sekali. Dan mungkinbanyak bocah saat ini tak lagi tau bahwa sungai itu adalah arena bermain buaya. Sungai itu kini kotor, penuh limbah. Pasirnya tak lagi diangkut ke halaman rumah warga. Padahal sedimentasinya lumayan tebal.

Alasan lain warga masa kini tak melirik sungai sebagaitemapt yang bermanfaat adalah kini air bor sudah hampir masuk ke rumah-rumah warga, jadi buat apa mandi di sungai. Permainanpun kini lebih modern dan lebih bersih.Bocah-bocah meilih itu. Saat ini sungai kadang hanya digunakansebagai arena lomba adu cepat perahu saat Remaja Masjid melakukan even tahunan Halal Bi Halal yang biasanya dipenuhi dengan permainan rakyat.

Diluar dari itu semua sungai ini dari segi fungsinya sebagai jalur transportasi jelas masih berlangsung hingga kini. Jalur paling epektif menuju empang sumber rezeki kebanyakan warga adalah sungai. Ada yang menggunakan perahu bermesin, adapula warga yang memnggunakan sampan dayung.

Saya tetap merasa beruntung menikmati sensasi sungai.

Advertisements

2 Responses to “Sungai dan Rambo”

  1. peperangan itu selesai, gadget datang sebagai jelmaan peperangan tradisional. Modernisasi tetap bebas nilai, cuma kondisi sosial masyarakat kebanyakan belum disiapkan untuk menghadapi peperangan itu. Pandangan umum bahwa kita/masyarakat cenderung menyimpang dalam memanfaatkan laju modernitas itu. Menyimpang dari ranah budaya, menggeser norma, melabrak aturan.

    Kita akan makin bermandi lumpur, jika sungai-sungai itu liar tak berpenghuni. Apalagi, para buaya tak mampu melawan arus hilir untuk masuk ke sungai itu di malam hari yang pekat.

  2. **Peperangan kadang berakhir tragis, ada drama penyanderaan dan tukar tawanan. Biasa juga berakhir dengan gencatan senjata. Damai**

    cocok direkrut jadi calon pembajak kapal….haha (^.^)v.

    moderenisasi menggeser budaya, permainan tradisional dan perhatian terhadap lingkungan…

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s