Pada Siapa Kita Percaya?

Di titik persimpangan inilah – persimpangan yang kacau dan ruwet tempat bertemunya neoliberalisme, pragmatisme,  dan postmodernisme – tempat berlangsungnya revolusi diam. Revolusi ini ditentukan oleh politik representasikan di dalam sebuah teks dan bagaimana menilainya?. Meninggalakan dunia realisme mentah, yang kini menyadari bahwa teks tidak mencerminkan dunia, justru teks-lah yang mencipatakan dunia. Dan tidak ada dunia eksternal dan hakim final ntuk menilai sebuah teks.

Pragmatisme sendiri sangat penting karena merupakan kajian teoritis dan filosofis, yang kuat berakar dalam tradisi postrealis. Sehingga posisi teoritislah yang mengunggulkan praktik dan metode di atas refleksi dan aksi sadar.

Tepatnya saat kerisauan yang menyertai kesadaran kita akan kekuatan-kekuatan tersembunyi, muncullah diskursus yang menelantarkan. Keberadaan ruang-ruang labirin yang membingungkan, spontanitas berdirinya superhero kocak di atas tahta dan politisasi. Pertarungan, kontradiksi, dan ketegangan filosofis menjadukan pencapaian konsesus atas permasalahan di atas semakin jauh realisasinya.

Kita semua adalah bricoleur interpretif yang terpaku pada masa kini yang berjuang melawan masa lalu pada saat kita bergerak menuju masa depan yang menantang dan bermautan politis. Berbagai resistensi politis dan prosedural di atas menunjukkan satu kesadaran yang penuh dengan kekhawatiran akan sebuah tradisi. Maka kita bisa bertanya “pada siapa kita percaya?”.

*banyak menukil dari buku Qualitative Research – Norman K. Densin & Yvonna S. Lincoln

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s