Archive for March, 2012

Pesepeda di Ujung Pena

Posted in Feature, Opini, Run Away with tags , , , , , , , , , on March 24, 2012 by mr.f

Roda dan Lentera Malam

Kita masih kecil saat angin bertiup kencang mengusap seluruh rumah dengan jilatan petir hasil tumbukan muatan. Saat itu kita tidak merasa dingin walau cahaya bulan tertutup hujan, dan kita tidak diperkenalkan dengan tangisan materi. Setiap pagi jalan berbatu itu bersaksi demi pasir dan kubangan air di sampingnya, pada roda guntai sepeda.

Kita tidak diajarkan lelah memutar roda yang kadang lost untuk melaju. Hingga lentera malam mengubur hari menutup lembar buku. Tugas rumah harus tuntas sebelum mata terkulai lemas. Tak pernah ada alasan untuk tidak melihat mentari. Meski tak ada cahaya.

Saat itulah saya tak punya kesempatan untuk bertanya tentang alam dan rumahku. Karena alam selalu punya cara membuat segalanya mudah dan rumahku menjadi tempat yang nyaman mengukir senyum saat susah.

Mengayu sepeda menuju sekolah, tak kurang dari tujuh kilometer di setiap pagi dan sore. Dua tahun setengah beradu lambat dengan terbitnya sang surya. Segalanya bermula saat pagi dan berakhir di malam buram ketika genset tumpangan tetangga member isyarat stand bye menyalakan cahaya lentera.

Tapi saya merasa beruntung sekarang ini, pernah menikmati butiran sejarah itu. Suatu saat akan menjadi kristal mahal yang berharga untuk disaji bersama makan malam mewah. Dan semangat itu pernah dikobarkan dalam hati. Tak seperti kebanyakan anak yang seusia saya. Memilih kondisi nyaman untuk materi mengejar hidup. Padahal usia itu baik untuk mengenyam ilmu, menyerap inti sari pengetahuan.

Kuburan untuk Semangat Muda

Tak kurang dari tiga puluh persen di tiap tahunnya, tamatan SD di kampung saya harus kandas di ujung pena. Mematahkan pensil penulis sejarahnya sendiri. Lalu terkurung dalam labirin kematian intelektual. Sebenarnya, faktor finansial bukan halangan utama untuk melaju. Tapi, fighting spirit melemah saat tunas baru mekar. Semangat mengejar ilmu ke negeri China itu MATI.

Karena kondisinya, tak banyak yang rela mengayu sepeda menuju sekolah. Ada pilihan lain, yakni memaksa orang tua membanting tulang untuk ongkos ojek di setiap kepergian dan kepulangan. Ongkos yang jauh berbeda dengan energi bersepeda yang tergadai oleh gengsi anak sekolahan.

Sepeda saya sendiri tergolong –keren saat itu, mereknya –Wim Cycle. Merek yang tren di televisi. Bersama sepeda saya ada juga merek lain yang banyak digemari anak-anak di kampung, BMX. Asyik untuk digunakan beratraksi spesialis jumping. Polygon  tak ada yang memakainya, belum sepopuler di kota seperti saat ini. Alasan utamanya adalah, harganya jauh lebih mahal dengan merek lainnya.

Pesepeda yang Apatis

Mekarnya daun Bunga Malu di pagi hari kadang harus melipat dan menjadi malu saat bunga itu tersapu sepeda para pesepeda seperti saya. Bunga yang banyak tumbuh di pinggir jalan dan menjalar ke badan jalan bersama durinya.

Di perjalanan pagi, kami para pesepeda yang lebih minor harus meramaikan diri dengan saling menunggu di setiap persimpangan jalan. Persimpangan yang memisahkan beberapa kampung. Namun, kami saling menunggu bukan berarti kami saling mengenal. Banyak diantara mereka yang namanya saya tidak tau hingga sekarang, padahal hampir setiap hari bersepeda pada jalan yang sama. Alasannya, karena kami berbeda kampong, kamip berbeda sekolah, kampi berbeda kelas, dan berbeda jenis kelamin.

Itu saat pagi kami saling menunggu untuk terlihat ramai. Berbeda saat perjalanan pulang. Sekolah saya memang berakhir lebih lama di banding dua sekolah lainnya. Sekolah tempat para teman-teman pesepeda saya. Semua pesepeda ingin segera sampai di rumah masing-masing. Mungkin tak sabar ingin membuka tudungsaji makanan di rumah.

Kondisi ini akan jauh berbeda jika musim bertabur buah. Saya akan lebih banyak tiba di rumah saat senja merona jingga. Beberapa teman di kampung yang kami lewati sebelum sekolah, akan memiliki kebun buah. Dan itu akan jadi sasaran empuk pengganjal perut. Tentunya juga akan jadi arena bermain canda riang.

Alhasil, perut kenyang dan seragam sekolah saya hampir tak ada yang bebas noda. Semuanya  berbekas getah buah. Terutam getah buah rambutan dan langsat.

 Berpesta di Sungai

Jalan menuju sekolah saya hampir tepat berada diapit dua sungai besar yang sejajar. Satu berbatu pasir dan lainnya berlumpur kuning. Sungai berlumpur kuning inilah yang bermuara di kampung saya. Dua kali menyilang jalan dan memaksa jembatan harus ada. Merupakan sungai kehidupan orang di kampung.

Sungai yang berbatu pasir sangat mengundang hasrat bermain air, manakala kita berada tepat di bagian sungai yang mendekat di badan jalan. Suara gemericik hasil pergesekan air, batu, dan pasir. Memesona gaung telinga. Tidak jarang saya terperangkap dalam belenggu air itu.

Akan lebih seru jika disandingkan dengan pesta buah hasil panen sendiri di kebun teman. Sudah tak terhitung berapa kali saya memandikan sepeda saya di sungai itu. Airnya dingin begitupun dengan batuan sedimen kristal yang banyak bertabur.

Sungai itu sangat tepat untuk menyejukkan kepala para siswa pesepeda yang penat selepas menerima pelajaran metematika yang dibawakan oleh guru killer, apalagi jika bertemu dengan pelajaran bahasa inggris yang dibawakan dengan bahasa yang benar-benar kacau dan asing untuk didengar dan diucapkan.

Sungai itu adalah tempat menyimpan sejarah para siswa pesepeda. Meramaikan bumbu seni kehidupan. Nostalgia masa lalu dan keceriaan masa sekolah. Tak ada lagi siswa pesepeda di kampung saya. Sekolah telah berad dekat dengan kampung dan akses jalan telah banyak berubah.

Advertisements

Doa yang Diam

Posted in Sajak with tags , , , , on March 24, 2012 by mr.f

 

***

Aku terbayang nisan cahaya

Serbuk mentari melapang ruang

Walau diam di keabadian

Namun  pesona malam terus purnama

 

Ada khidmat di pembaringan

Selimut hangat di ujung sholat

Bagai riuh angin sepoi

Dunia kan bersaksi sejarah singkat

 

Aku lalu membaca pertanda diam

Usap peluh tak berbanding

Sampai nafas di akhir hela

Doa selamat selalu sempat

***

 

Tamuku, 16 Maret 2012