Memori dan Menulis

Cerita kala hujan di tanggal 15 Desember 2011, saat-saat tak ada lagi ruang bagi sang pagi yang menjanji kecerahan. Saat-saat tetesan embun tak juga mengering oleh sisa waktu dan jejak sejarah di malam dingin. Ada kata puitis yang membuat saya jengkel. Tak adil rasanya ketika hanya orang terkenal yang kemudian selalu jadi referensi sebuah teori.

Mungkin butuh menulis lebih baik dan sistematis. Itulah yang kuanggap teori –proses- yang terus ada. Mestinya, karena mata hanya mampu melihat objek yang tidak gelap maka sebuah keinginan dan hasrat tak pernah dianggap ada.

Catatan demi catatan, status demi status hingga inisiasi menulis di blog terpecahkan. Karena sangat merugilah saya terhadap akumulasi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang telah susah paya saya pungut manakala tak berhasil saya tulis.

Akhir tahu menjanjikan banyak harapan, namun akhir tahun tak pernah luput dari misteri, sya pertegas bahwa –bukan- awal tahun yang menjadi misteri. Tapi akhir tahun haruslah lebih bijak menikmati peluh. Semua langkah semua tingkah terus terukur, dan itu mesti tercatat.

Memori takkan pernah sanggup merekam sedemikian lama. Anugerah dan ciptaan Tuhan berupa internet dan barang elektronik adalah fasilitas yang sangat perlu untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan umat!

 

***

Diam-diam langit telah runtuh

Menutup segala dimensi untuk nafas

Rumput-rumput tumbuh liar

Melebihi tinggi kursi di teras rumah

Benalu-benalu hati menggerogoti

Menjamur dan bersarang

 

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s