Jendela dan Kaca Mozaik

Manusia ibarat jendela dan kaca mozaik. Jendela akan mengilap dan bercahaya jika mendapat sinar mentari, namun ketika gelap datang kilapan itu sirna dan berubah menjadi keindahan sejati yang hanya akan terlihat apabila ada cahaya dari dalam. Kita harus senantiasa meyakini bahwa keindahan dan kebermaknaan diri kita sebagai seseorang yang bisa membawa perubahan dan begitu berharga.

Keindahan dan kecantikan, sesuai dengan yang dipahami oleh banyak orang, akan saya katakan bahwa semua itu adalah relatif yang sangat tergantung pada siapa yang melihat dan atau menyentuhnya. Yang mesti kita lakukan adalah menemukan tujuan hidup kita untuk selanjutnya menjalaninya dalam keadaan yang tanpa batas. Dan betul-betul meyakini bahwa “life without limits”, bukan dalam artian bahwa hidup tanpa aturan. Karena aturan tak pernah lepas dari perspektif ideologi kita. Bahwa hidup harus selalu mempertahankan keimanan untuk tetap berlari mengejar tujuan itu dan tetap merasa pantas untuk mendapatkan kegembiraan dan keberhasilan itu.

Kita semua punya cerita tentang orang-orang hidup berdekatan dengan kita, kita tentunya kenal dengan semua orang itu. Untuk saya sendiri, saya menyadari bahwa ada orang hidup di dunia ini dan hidup di sekitar kita yang memiliki pancaran cahaya dari dalam (inner beauty). Orang ini begitu nyaman dengan dirinya, terkesan sangat puas dengan hidupnya, dan begitu antusias dalam mengembangkan apa yang dimilikinya. Terlihat bersemangat sehingga nampak memancarkan cahaya kegembiraan setiap saat. Begitu mencintai dirinya, bukan egois atau narsis. Merasa selalu mendapat anugerah bahkan ketika saat-saat sulit melanda hidupnya.

Saya yakin bahwa kita semua telah mengenal orang-orang yang senentiasa memancarkan cahaya kegembiraan dalam geraknya, layaknya kita mengenal orang-orang yang kita anggap menyebalkan terhadap diri kita. Orang yang karena kekesalan dan kesombongannya membuat orang menjauh darinya. Olehnya sebelum mengenali orang-orang itu semua, yang lebih penting sebenarnya adalah mengenali diri kita sendiri, mencintai kita sendiri, dan menerima diri kita sendiri.

Memang sangat sulit melakukan itu semua, butuh keterampilan dan pembiasaan. Termasuk saya yang masih terus mengasah keterampilan itu. Membutuhkan titik star atau mungkin titik balik yang berkesan bila kita terlanjur jauh dari itu semua. Tetapi memang itulah yang menurut saya penting untuk kita lakukan, karena jika itu kita tidak mencintai diri kita, tidak bisa menerima diri kita maka mungkin itulah jawaban mengapa kita selalu mengandalkan orang lain untuk mengakui diri kita, memberi kepercayaan diri dan membuat kita merasa diterima.

Padahal itu semua tidaklah mungkin, karena kita memang harus menerima dan mengakui diri kita terlebih dahulu. Satu-satunya faktor yang menentukan keelokan dan nilai diri kita sebagai pribadi haruslah faktor yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Ketika faktor itu tidak mampu muncul dari dalam dirimu, maka tengadahkanlah wajahmu pada Zat Yang Maha Mengerti.

Tulisan banyak mengutip dari buku yang dikarang oleh Nick Vujicic berjudul “Life Without Limits

Advertisements

2 Responses to “Jendela dan Kaca Mozaik”

  1. Nadzra Aisyah Says:

    sungguh tergugah saat membaca cerita kakak,,,
    begitu sejuk rasanya batin ini membaca karya yang begitu santai namun mengandung makna yang sangat mendalam terkhusus bagi diri saya pribadi,,,,

    lanjutkan untuk cerita selanjutnya ,,,

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s