Menunggu, Hujan pun Turun

Rektorat Kampus UNM Makassar pada waktu-waktu tertentu menjadi tempat berkumpulnya para aktivis kampus alias Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan (LK). Hampir setiap harinya gedung ini selalu ramai oleh para pengurus LK, ada-ada saja alasan para mahasiswa ini.

Terlalu banyak aktivitas mahasiswa yang harus tersentuh oleh tangan birokrasi kampus. Karena memang mahasiswa meski secara tidak struktural berada di bawah birokrasi, tetapi secara institusional mahasiswa dan birokrasi berada dalam satu lingkup institusi yakni kampus UNM.

Siang kemarin (30 Januari 2012), telah menjadi data dan fakta atas statement saya di atas. Puluhan mahasiswa telah bertumpuk dalam penantian. Siapa lagi tokoh birokrasi kampus yang paling banyak mendapat pengunjung kalau bukan Pembantu Rektor (PR III) yang secara khusus menangani urusan-urusan mahasiswa dan segala macam tetek bengeknya.

Ruang tunggu PR III memang setiap harinya selalu dipenuhi oleh wajah-wajah yang berjuta harap. Harapan itu selalu berada di ujung lidah PR III dan berakhir pada goresan pena pertanda deal atas suatu permintaan. Tidak jarang wajah mahasiswa yang keluar dengan ruang PR III itu bagai dirundung badai dan kerutan jidad melipat tiga. Pertanda sebuah kenyataan pahit hinggap pada alam berfikir seorang pemuda.

Siang itu saya tak termasuk golong penunggu PR III melainkan penunggu dosen    salah satu pengampu mata kuliah yang nilainya masih tertunda. Menunggu dalam kenyataan adalah kepedihan. Saya menunggu orang yang jelas ada, hanya terhalang sebuah kaca transparan. Proses menunggu yang sulit mendapat jawaban.

Menunggu berjam-jam saat perut berorasi, membuat beberapa status di facebook harus tertulis mencerminkan kondisi yang sedang saya alami saat itu. Membuat saya pasrah dan terpaksa harus mengatakan bahwa akan melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang saya tunggu itu.

Sampai pada pukul setengah lima lewat dosen yang ditunggu tak kunjung bisa untuk ditemui. Sungguh hari yang gelap karena pas saya keluar dari gedung itu, langit sepertinya telah menunggu kehadiran kehampaan seorang mahasiswa yang gagal dalam penantian.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s