Selama Nuranimu Masih Putih

***

Diam membungkam tanpa laju.

Final Destination. Bukan!

Ini soal gerak. Epilog berujung jenuh.

Puncak dari pemanjaan waktu.

Kupikir akan usang benak ini.

Mungkin hanya persoalan waktu.

Jelas, ini jelas bukan final destination.

Tiada kata terlambat dalam berlari dan peluh tak usah jadi keluh.

Cukup sampai disini ke-miris-an ini. Takut jasadku mengiba pada catatan!!

Siapa pun tak boleh merendahkan dirinya di depan batu besar

sekalipun awan hitam telah membayangi langkah maju.

Teruslah keras atas dirimu dan lihatlah dunia akan melembut.

Harusnya takut menjadi kata mubazir yang pernah Tuhan anugerahkan pada otak manusia.

Jika malam membuatmu gelap dan hitam adalah bias atas sebuah objek,

tak ada salahnya kau cipta mata hati untuk meraba yang tak tersentuh oleh tangan.

Meyakini takkan pernah membuat kepalanmu tumpul

dan melangkah menjadi mutlak.

Harus kutulis dengan yakin agar tegas jemari dan sel-sel syarafku.

Kuperduli alam dan kuyakini kebaikan.

Beberapa jalan selalu menanti untuk menuju Roma.

Jika kau lihat Quo Vadis tentu kuharap hatimu akan bicara.

Selama nuranimu masih putih.

***

#Sajak ini juga telah pernah di publis di Facebook !

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s