Menyemangati Hari, Bukan Menyesali!

Setelah menyudahi menyantap Indomie Telur, bagian otak kanan mencoba mengeja beberapa kejadian hari ini. Merasa ada yang tak biasa, jika hari-hari saya biasanya terjebak pada pagi dan sinar bingar kegaduhan di Rumah Nalar. Pagi tadi berasa hanya menumpang pada bagian bumi yang lain, bukan di Rumah Nalar. Sekitar pukul 7.30 wita tadi (28-01-2012) bertolak dari Kab. Pangkep, tepatnya di Kecamatan Ma’rang.

Bersua dengan sanak family dari teman adalah hal yang menyenangkan, melatih kemampuan interpersonal secara maksimal. Menampilkan diri sendiri pada segenap kesimpulan awal mata memandang. Itulah kesan bukan spekulasi dan pembentukan karakter positif berlebihan. Tak ada yang perlu ditutupi.

Dari pagi yang berselancar dengan tebalnya debu di sepanjang jalan Trans Sulawesi. Menempuh perjalanan kurang lebih 90 km, menghabiskan waktu dua jam lebih. Sampai di Makassar, dikagetkan dengan berita penikaman sepupuh dikosnya. Kepanikan dan kegelisahan atas berita mengejutkan itu menjalar ke rangka tubuh dalam menyusun strategi memanage waktu. Karena telah beberapa agenda dan janji telah ditentukan sebelumnya.

Jam10 pagi adalah waktu yang dialokasikan untuk dokumentasi foto kepengurusan di Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran untuk periode 2010-2011, dan kesempatan ini adalah momen langka, takkan terulang, meskipun bisa dilakukan penambahan melalui olah digital software pengedit foto. Keputusan untuk memilih menjenguk sepupuh yang sedang terbaring menunggu operasi atau memilih berfoto pengurus, dijatuhkan pada pilihan kedua. Memilih foto pengurus, dengan pertimbangan dua saudara kandungku telah lebih dulu meluncur ke rumah sakit, dan saya akan menyusul jika foto telah usai.

Kenyataan menginginkan hal lain atas keputusan itu. Setelah foto pengurus usai, di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ban motor kempes, harus menyeret beberapa kilometer sebelum menemukan tuklang tambal ban. Trauma pun menghinggapi, menggunakan motor yang telah cacat ban adalah bukan pilihan bijak. Saya memilih pulang ke Rumah Nalar menunggu motor yang lebih normal, untuk ditunggangi menuju rumah sakit berjarak kurang 15 kilometer dari Rumah Nalar.

Motor idaman tak datang, hanya bisa termangu dalam kegalauan. Apakah ini kesalahan dalam mengambil keputusan. Mengingat kesalahan untuk menyesal adalah hal yang paling saya hindari dalam hidup.

Advertisements

One Response to “Menyemangati Hari, Bukan Menyesali!”

  1. kaisar_mujahid Says:

    Jam 10-12 pagi di room C JILC Cokroaminoto.
    Mendadak HENING. kelas tidak gaduh.
    Sementara puluhan tutor matematika yang terkadang aneh dan freak (haha…) berada di dalam. soal 10 nomor memaksa untuk diselesaikan segera. Up Grading Tentor sedang berlangsung. Dilanjutkan rapat intensive ujian nasional SMA. tambah freak….

    Impian Foto Pengurus Dua Kali: gatot (gagal total). haha…

    kemudian teringat perkataan Mahatma Gandhi “my nationality is my humanity”. Bung Ma’ruf bisa memilih pilihan pertama, jika memegang perkataan rekan Soekarno itu. Bukan sok altruis, tapi bisa jadi “benar” jika pilihan kedua subjeknya mungkin keluarga dekat (ibu, misalnya).
    #spekulasi.

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s