Kami Banyak Kami Menang

Meja Praktikum Fisika Modern

Lab Fisika Modern UNM

Bernostalgia dengan meja-meja di kampus biru. Setelah beberapa tahunyang lalu perabot dan alat-alat eksperimen ini menjadi saksi perjuangan alami para mahasiswa fisika, karena sepertinya telah menjadi buah tangan untuk keluar (baca: alumni) dari jurusan fisika. Dua tahun tiodak aktif bergaul di kampus (kuliah) menyadarkan sebuah tindakan aksiologi untuk menyudahi masa ini.

Mahasiswa Fisika UNM

 Menyaksikan para mahasiswa beraktivitas membumbui kisah hidupnya, melengkapi sempurnanya petualangan intelektualitas. Dalam dua tahun itu sejak tahun 2009 saat kuliah tak lagi vulgar mewarnai hari-hari saya, telah banyak transformasi dimensi yang terjadi. Design dan resign mempercantik tata ruang bangunan tua berlantai tiga ini.

Mahasiswa Fisika UNM Melihat Papan Pengumuman

Dulu ketika dosen yang ditunggu tak kunjung hadir (karena memang dosen memiliki hak untuk ditunggu), area parkir jurusan fisika tersulap mejadi arena canda tawa dan goda menggoda atau dalam istilah yang biasa kami pakai “calla” dan “odo-odo“, siul-siul, pujian garing adalah senjata kami (berlima). Langit-langit area parkir itu tertutup rimbun dahan subur empat pohon akasia sedang lantainya nyaris tertutup oleh motor mahasiswa. Celahnya hanya cukup untuk mempersilahkan orang lewat saja.

**
Nongkrong di bawah pohon akasia itu hampir menjadi hobi bagi kami, bukan lagi hanya ketika kami dalam penantian dosen. Mulai dari menunggu pagi sampai menanti senja, pohon itu telah lebih dulu menunggu kami. Tak ayal kami sendir dalam kesdaran konyol menyebut diri kami kuliah di kampus “UNDIP” (Universitas Diponegoro) atau “Universitas Di Bawah Pohon”, pada saat itu kebanyakan kami hanya tau bahwa UNDIP adalah salah satu yang cukup ternama di Tanah Jawa. Letak pasti, kota dan provinsi apa tempat UNDIP berada kebayakan kami tak paham.

Ada banyak pengalaman menarik yang terlahir dari kampus UNDIP kami. Pengalaman yang paling lucu dan menusuk ulu hati adalah ketika saat itu salah satu dari kami mendapat kenalan baru yang belum pernah secara sadar bertatap wajah (tentunya kenalan itu adalah seorang cewek, karena kami adalah kumpulan cowok-cowok keren). Saat-saat itu adalah proses pendewasaan dari kami dari lugu menjadi lucu, dari polos menjadi boros).

Memilih untuk bertandang ke rumah kenalan baru adalah pilihan tepat untuk mengasa jiwa lelaki kami. Tapi kami tetap kami, kami masih muda untuk berjalan sendiri, sehingga bertandang berlima adalah langkah manipulatif. Kami masih mampu membayangkan kondisi katika kami datang sendiri dengan ketika kami datang berlima. Datang berlima tentunya adalah sebuah kekuatan jumlah untuk mengontrol arah pembicaraan.

**

Dalam praktek real-nya, saat pintu kosan sang cewek itu terbuka. Bahasa tubuh penyesalan nampak dari beberapa gerakan mata dan body language-nya seolah menolak takdir pertemuan ini. Kami masih santai karena kami masih yakin bahwa cewek ini belum pernah bertemu sebelumnya. Namun kami telah memberi penilaian atas sesuatu yang nampak pada diri cewek ini.

Kami disilahkan masuk dan duduk, awalnya kami memonopoli pembicaraan. Si cewek sepertinya memiliki kewajiban untuk menjawab setia pertanyaan spekulasi yang kami lempar. Hingga selah ada untuk si cewek melayangkan pertanyaan pertama

Bukankah kalian adalah mahasiswa yang sok-sok gagah itu, yang sering maccalla kalau ada cewek menor lewat, kalau pergiki sholat na godaiki

Pertanyaan inilah yang menurutku paling berkesan sepannjang sejarah UNDIP kami bangun. Saat itu rasanya ingin langsung pulang, pertanyaan itu telak di ulu hati. Tapi kami bagai terdakwa yang tak punya fledoi atas putusan hakim. Setelah pertanyaan itu, kami tersentak dan sulit lagi mengontrol pembicaraan. Rasio forum 5 cowok 1 cewek. Kami akhirnya memilih banyak diam tersipu dalam hati dan sopan. Nyaris tak ada lagi canda setelah pertanyaan itu dan akhirnya kami pulang.

Esoknya kami tertawa lagi, maccalla lagi di kampus UNDIP. Kami masih menganggap UNDIP adalah tempat terasyik selain bangku kuliah. Sat itu kami telah merasa mampu untuk menghancurkan mental cewek yang berjalan sendiri. Prinsipnya “Kami Banyak Kami Menang!”

***

6 Tanggapan to “Kami Banyak Kami Menang”

  1. saya agak sedikit bingung.. dimana saya pada saat kisah2 ini terjadi kawan.. ?? saya sepertinya sibuk dengan dunia sendiri … kalau tidak di perpus.. ke lab.. kalau tidak dua2nya yah pulang..
    sepertinya saya kurang menimati masa2 di undip….hehehehe

  2. “Jika kami bersama nyalakan tanda bahaya…” (Supermen is dead)

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s