Sensasi Teka-Teki Malam

Malam ini seperti bermimpi. Saat ribuan binar cahaya menabrak benih spirit perjuangan. Beberapa traffic light sepanjang jalan seketika berubah  bagai ilalang yang menghias pinggiran mataku. Semangatku menjadi bara yang tak terhalau lagi oleh kemungkinan dan keragu-raguan atas sebuah kenyataan. Klakson kendaraan serupa irama yang mentransmisi sebuah bunyi harmonik.

Hingga akhirnya tunggangan matic mio hijau ku terhenti di depan gerbang besar. Ukuran celahnya hanya cukup untuk melewati badan seukuran anak remaja. Kupilih turun dari motor untuk mengambil gambaran kondisi bangunan di dalam. Sangat luas untuk ukuran rumah yang berada tepat di tengah pusat kota Makassar. Di sekitar halaman rumah terparkir beberapa jenis mobil, sekurang-kurangnya ada lima mobil terdiam dalam keteduhan.

Ketukan empat kali tepat di depan pintu tak cukup membuat beberapa pasang telinga tersadar bahawa aku sedang berdiri bodoh di depan pintu rumahnya. Hanya orang tua berpakaian setengah badan yang memilih untuk melihat kondisi di luar rumah yang sedang kusinggahi ini. Nyatanya orang tua itu bukan membuka pintu untuk saya, tapi karena burung hantu yang mengutitku secara tak sadar sedari tadi merasa terganggu atas kehadiranku di depan rumah.

Masuk dan kemudian duduk berhadapan dengan orang yang dinanti adalah sensasional. Semua konsep dan keraguan terjawab, mengikuti apapun yang terucap bibir. Kondisi terbaik selalu jadi harapan utama. Jawaban yang dilontarkan oleh lawan bicara sangat menentukan koherensi keraguan dan realitas. Sejauh ini perjalananku kubebas seuituhnya dari alur skeptis sebagaimana biasanya.

Tak cukup 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk membuktiklan semua itu. Jawaban demi jawaban mengiang, dan berakhir dengan doa dan beberapa kalimat motivasi. Malam ini aku selamat dari ketidakpastian. Teka-teki malam atas hari esok telah tersingkap. Jelaslah apa yang mesti dan apa yang pasti. Malam ini seperti bermimpi, melewati sensasi tak terulang.

2 Tanggapan to “Sensasi Teka-Teki Malam”

  1. addehh…

    saya terhenyak! tertegun menatap deretan kata-kata di atas (bukan deret bilangan). seperti gelap dan remangnya sinar rembulan, malam memang terasa lebih rumit untuk diterka.

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s