Icon Baru Reculturalisasi

Bentang alam indah hingga burung-burung akhirnya memilih minggat dari peraduannnya. Oleh angin yang bertiup kencang bernama globalisasi berpadu banjir arus modernisasi menyeret segala bentuk praktik konvensional dan mulai mengenalkan budaya praktis. Tawaran itu tentunya sangat logis karena telah berpadu harmonic dengan efisiensi dan modus efektifitas.

Teknologi adalah keniscayaan dan kemudahan adalah janji yang nyaris pasti. Di balik selubung keniscayaan itu ada banyak celah kecil yang potensial merobohkan bangunan besar peradaban manusia lokal. Kultur positif terbingkai dalam suasana kekeluargaan, spirit bahu-membahu yang teretas menjadi sebuah prinsip dan falsafah hidup akan menemui ajalnya bila terus berhadapan dengan janji-janji itu.

Sebelum semua menjadi terlanjur berdiam diri dalam autisme. Sejatinya stake holder mengambil strategi reculturalisasi sebagai upaya menghidupkan beberapa pointer penting dalam sejarah kehidupan  manusia. Bukan karena budaya adalah hal klasik tapi karena perihal ini menyangkut seluruh sendi hidup manusia.

Sangat Membius

Eksistensi masyarakat adat mestinya mengambil posisi garda terdepan dalam membendung derasnya arus global yang jelas menyeret beberapa rongsokan dan material beraroma negatif. Aroma ini telah tercium menyengat dalam biusnya. Bukankah konsumerisme, individualisme, hedonisme, plagiarisme, dan paham lainnya adalah jelas bukan harapan yang diinginkan dalam menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan umat?

Sulawesi Selatan dengan 24 kabupaten/kota berjaya dahulu ketika prinsip dan falsafah hidup secara tradisional menjalar sporadis menyentuh alur kehidupan manusia. Puing-puing reruntuhan aktivitas manusia terdahulu mulai ditata menjadi bentuk lain yang dimiripkan. Telah dipercontohkan oleh beberapa pemerintah daerah di Sulawesi Selatan.

Lovely December ramai di Tanah Toraja dan dijadikan karakteristik oleh pemerintah terutama oleh Dinas Kebudayaan setempat, mungkin suatu saat keramaian seperti ini akan dijadikan icon baru suatu pemerintah daerah tertentu. Sebut saja kegiatan di atas, Lovely December bahkan menjadi gambar penuh sebuah mobil bis wisata yang sering melintas di jalan Trans Sulawesi. Dalam acara puncaknya pun tak tanggung-tanggung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Mari Elka Pangestu ditarget hadir dalam momen yang telah dua tahun dilaksanakan. Kemeriahan acara yang menelan anggaran milyaran rupiah ini berhasil menyedot wisatawan baik wisatan mancanegar maupun wisatawan domestik.

Lain lagi ceritanya di Kabupaten Takalar, kegiatan tahunan Maudu Lompoa yang diperingati bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad banyak menyedot penasaran warga. Maudu secara harfiah dapat diartikan maulid dalam hal ini adalah Maulid Nabi Muhammad dan ribuan telur yang menjadi simbol filosofis acara ini membuatnya menjadi “lompoa” atau luar biasa. Jadilah Maudu Lompoa menjadi icon baru di kalangan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar.

Pestival Pinisi di Bulukumba menambah daftar aktivitas lokal masa lalu yang kembali digaungkan. Bersama dengan namanya “pestival” yang berarti perlombaan yang meriah. Bulukumba sendiri sangat terkenal dengan kehidupan bahari yang fenomenal. Bukti nyata kepopuleran bahari di daerah ini adalah keterampilan sebagian masyarakat pantai Kabupaten Bulukumba dalam membuat Perahu Pinisi, perahu layar yang membelah samudera dunia dan melegenda seantero jagad raya. Pestival ini tentunya adalah wujud reculturalisasi  yang memang menjadi kemestian para pemimpin untuk mengapungkan budaya-budaya positif masal lalu.

Menjadi Motivasi

Tiga daerah dengan kegiatannya yang telah meriah, menjadi pecut kepada pemerintah lain. Sangat jelas dampak yang ditimbulkan oleh acara yang telah dijadikan aktivitas tahunan ini. Secara logis semakin banyak wisatawan yang datang di suatu daerah maka semakin besar penghasilan yang didapatkan oleh masyarakat setempat.

Awal tahun ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara mencoba mengorbankan sebagian APBD-nya untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan yang serupa dengan kegiatan-kegiatan yang telah dicontohkan lebih dulu oleh tiga kabupaten. Manre Saperra, kemudian dipilih oleh Pemerintah Daerah Luwu Utara sebagai calon kegiatan tahunan pendongkrak wisatawan  sekaligus langkah menghidupkan budaya lokal. Manre Saperra sendiri berarti makan bersama secara berhadapan pada satu garis lurus dan beralas kain putih dan berisi ritual-ritual cultural.

Semoga 24 Pemerintah Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan tergerak hatinya untuk melakukan reculturalisasi dan menjadi mesin penggerak ekonomi baru di daerah-daerah.

Selamat mencoba!

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s