Mengenang Mentari Pada Tunas Muda

Kadang saat kelam menjadi rutinitas, dan dengkuran malam menghias. Tiba-tiba ada tawa menyeruak menantang gelap. Tiga bibir pemuda sibuk memamerkan gigi. Ada banyak kelucuan saat tirai hari tergulung. Rekaman peristiwa diputar ulang. Mencari cela dalam dingin. Memaniskan suasana dengan beberapa sendok gula yang terseduh bersama hangatnya teh. Adegan lucu ditirukan menuai gelak tawa. Sedang beberapa pasang mata tertutup rapi melihat dunia lain. Sisi lain hidup bersama dengan orang-orang yang terpaut jauh oleh geograf dan rentang kebudayaan.

Kejadian malam mengenang mentari adalah warna yang tersaji di Rumah Nalar, Rumah kami melakukan perubahan, Rumah kami mengukir peradaban. Mungkin peristiwa serupa ini telah ada jauh sebelum adanya Rumah Nalar, yakni ketika Bilik Ilmiah menjadi markas besar para Laskar Nalar. Hingga ide-ide gila seringkali terkuak diselah-selah canda. Ide-ide gila itu wujudnya sangat tergantung pada siapa yang akan mengabadikannya dalam tulisan. Karena tulisanlah yang mampu menjadikan ide itu menjadi nyata.

Membudayakan menulis bukanlah aktivitas baru bagi Laskar Nalar. Budaya ilmiah termasuk menulis telah lahir bersama dengan lahirnya “Penalaran” pada tahun 1998. Beberapa tahun terakhir gairah menulis bangkit bersama kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi. Menulis adalah tuntutan bagi Laskar Nalar, karena memang ranah menulislah yang telah ditakdirkan oleh Tuhan bersama dengan misi Lembaga ini yakni

1. Mewujudkan LPM Penalaran sebagai wadah pembinaan/pengembangan ‘research’ di kalangan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seiring perkembangan iptek serta budaya berkarya kreatif khususnya dalam bidang karya tulis.

2. Sebagai wadah pengembangan kepemimpinan/manajerial organisasi.

(Poster yang terterah di salah satu dinding Rumah Nalar)

Beberapa tahun terakhir beberapa karya Laskar Nalar berhasil menembus Harian Lokal di Makassar. Meski kebanggaan ini kadang menjadi kontradiksi. Kebanggaan ini adalah klaim keberhasilan oleh Laskar Nalar sendiri. Kontradiksi karena beberapa anggota “Penalaran” yang “berhasil” itu adalah mahasiswa yang memang telah fasih dalam menulis. Rumah Nalar seolah hanya menjadi spoit kecil yang menginjeksikan beberapa tetes motivasi menulis dan meneliti. Buktinya sampai sekarang hampir lebih banyak anggota yang belum memiiliki keterampilan menulis yang baik. Padahal keterampilan itulah yang sangat potensial untuk pertunjukkan. Termasuk saya, yang sampai detik ini hanya memiliki keterampilan seadanya dalam menulis.

Semoga 70 tunas muda peneliti dapat mekar bersama iklim ilmiah yang ditawarkan oleh Rumah Nalar. Sekali lagi Rumah Nalar bagi saya serupa spoit kecil yang akan diinjeksikan ke-70 tunas muda tersebut. Isi spoit adalah cairan motivasi menulis, meneliti, dan berorganisasi. Kemampuan menerima cairan itu sangat bergantung pada daya kekebalan tubuh yang telah ada sejak lahir pada masing-masing tunas itu.

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s