Rumah Nalar (Seri Sejarah)

Selalu ada inspirasi ketika saya meng-ada di rumah ini “Rumah Nalar” –Rumah Perubahan, Rumah Peradaban-. Setiap waktu tak pernah sepi untuk saling berbagi, saling peduli. Meski budaya Share n Care tak pernah tertulis dalam aturan baku di Rumah ini, tapi budaya itulah yang paling lengket setelah budaya Ilmiah. Share n Care telah menjadi aktivitas yang terinternalisasi pada hampir setiap jiwa para Laskar Nalar. Laskar Nalar adalah sebutan saya untuk anggota yang ternaungi oleh rumah ini. Termasuk saya, salah satu Laskar Nalar.

Rumah Nalar sendiri di ambil dari kata dasar dari nama lembaga yang menaunginya yakni Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar (UNM). Rumah  Nalar adalah reinkarnasi dari Bilik Nalar yang dahulu berada dalam lingkungan kampus. Tahun 2009 setelah Bilik Nalar dan seluruh bilik (Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UNM) yang menyatu dalam sebuah payung bangunan yang bernama Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) diusir secara dramatis oleh birokrasi kampus dengan alasan bangunan tersebut akan direnovasi.

Pengusiran itu adalah dampak sistemik dari akumulasi sejumlah peristiwa yang mendasari diberlakukannya Larangan Aktivitas Malam untuk seluruh Mahasiswa UNM. Beberapa aksi anarkis, tawuran, dan perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh oknum mahasiswa. Kesimpulan kemudian ditarik oleh birokrasi kampus UNM bahwa salah faktor yang memicu terjadinya aksi anarkisme adalah tingginya aktivitas malam oleh mahasiswa UNM dan mengenaralisasikannya kepada seluruh Lembaga Kemahasiswaan (LK) yang ada di UNM termasuk seluruh UKM.

Padahal secara empiris, kehidupan berlembaga di bawah payung PKM adalah kehidupan yang sangat damai dan penuh dengan kekeluargaan antar sesama fungsionaris Lembaga. PKM adalah rumah bersama bagi seluruh Lembaga Kemahasiswaan di UNM. Namun akhirnya keputusan yang general itu tak bisa di elak apalagi dengan adanya surat sakti yang dikeluarkan oleh birokrasi kampus yang dibumbui dengan janji manis yang saat ini sudah jatuh tempo.

Inilah Kondisi PKM yang dijajnjika untuk direnovasi, namun hingga 2012 belum ada tanda-tanda menuju realisasi janji itu.

Jadilah seluruh UKM terpaksa mengungsi terbirit-birit dari kampus. Berpencarlah seluruh keluarga besar UKM yang ada di UNM, ada yang berada dekat di belakang kampus, ada yang berada jauh dari kampus, ada yang memiliki sekretariat tidak kondusif karena sering dibobol maling (karena memang berada di zona rawan maling) ada juga yang punya sekret yang telah diusir paksa oleh warga karena aktivitas berlembaganya dianggap mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Sepengatahuan saya, hanya UNM yang memberlakukan aturan seperti ini. Dimana Sekretariat Lembaga Kemahasiswaan (apalagi UKM yang notabenenya adalah lembaga tempat penyaluran bakat dan minat mahasiswa) berada terpisah dari kampus alias di luar kampus. Meskipun birokrasi punya alibi untuk menangkis argumen ini, dengan mengandalkan alasan “Kami sudah sediakan sekretariat pengganti yang berada di dalam kampus!”. Realitas dan kondisi sekretarita yang disediakan oleh birokrasi, adalah sekretariat yang tidak rasional untuk sebuah UKM. Bagaimana tidak sekretariat itu hanya berukuran kurang lebih 4×3 meter, ukuran itu hanya cukup untuk menampung dua lemari di tambah satu meja yang merupakan properti yang rata-rata dimiliki oleh setiap UKM. Terus dimana kami melakukan aktivitas berlembaga, dimana kami rapat, dimana kami bercengkrama dan dimana kami berdialektika?

Rumah Nalar sendiri adalah salah satu sekretariat UKM UNM yang jaraknya lumayan jauh dari kampus UNM. Jauh karena jaraknya sangat sulit dijangkau dengan berjalan kaki, tidak seperti dahulu ketika sekretariat berada di dalam kampus sendiri. Ditambah biaya kontrak sekretariat yang tidak sepenuhnya ditanggung oleh pihak birokrasi yang selebihnya ditutupi oleh LPM Penalaran sendiri. bertambahlah tugas seorang fungsionaris lembaga, yakni mencari biaya tambahan kontrak sekretariat.

22 Tanggapan to “Rumah Nalar (Seri Sejarah)”

  1. […] ada yang mengingat, kejadian penting di Rumah Nalar hanya disaksikan oleh burung penunggu pagi. Rumah Nalar hanya meringis saat […]

  2. […] pun tak tahu apakah kawan-kawan mengharapkan keuntungan atau tidak dari Kantin Kejujuran di Rumah Nalar. Meskipun katanya ide ini muncul dari bagian pendanaan PMP-OMK (Pelatihan Metodolodi […]

  3. Waah, sungguh cerita yang bisa kukatakan amazing kak ixixixiixixiix ^0^

  4. hm…mulai dari UKM LKIMB setahun kemudian “hijrah” ke BEM UNM dan selanjutnya berlabuh di Bilik Nalar….kurang lebih 2,5 tahun hidupku ada di gedung tua itu hingga akhirnya terpental ke gedung lain di bilangan sekretariat LK jurusan…selama setahun…

    bukan karena alasan, bukan karena kutak bisa…terlebih apa yang ada padaku sekarang adalah buah dari “pengembaraan” i gedung-gedung tua itu…

  5. the lost building

  6. […] yang bernama Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran. Ruang yang berisi mahasiswa hebat sejak didirikan pada tahun 1998, berdiri sejajar dengan 12 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di lingkungan Universitas Negeri […]

  7. […] ada yang tak biasa, jika hari-hari saya biasanya terjebak pada pagi dan sinar bingar kegaduhan di Rumah Nalar. Pagi tadi berasa hanya menumpang pada bagian bumi yang lain, bukan di Rumah […]

  8. mujahidzulfadli Says:

    BILIK NALAR DALAM MEMORI

    Ya. Tempat ini penuh kenangan. Setidaknya itu kesan kami. Waktu itu sekali hingga dua kali dalam sepekan berkunjung ke Bilik Nalar sebagai anggota baru. Ketika dikukuhkan sebagai ‘Anak Nalar’ -sematan untuk anggota baru LPM Penalaran UNM-, rasanya kami menjadi orang lain. I was different from others. Kami betul-betul menjadi berbeda dengan teman-teman sekelas di jurusan dan bahkan se-fakultas.

    Berbeda dalam julukan, berbeda dalam memandang segala hal, atau senantiasa berselisih dalam hal yang tidak kompatibel, dan selalu menjadi avant garde (baca: garda depan) dalam mengkristalkan permasalahan dikusi kecil di kelas menjadi bernas. Terutama dalam mata kuliah Metodologi Penelitian I dan beberapa mata kuliah kependidikan. Seketika itu pula, sekelumit kejadian menganulir dengan tegas anggapan bahwa anak MIPA hanya bisa praktek statistik di komputer dan menjadi laboran demi laporan.

    Orang-orang menjadi bertanya. Seorang teman mengungkapkan kebingungannya dengan mata berbinar “woooow, Fadli. I don’t believe”. Begitu katanya. “How can do you that?” lanjutnya kemudian. Kendati ditanya seperti itu, saya memilih tidak menjawab. Saya pun bingung bercampur galau –istilah keren beberapa bulan lalu ini- yang lumayan parah. Tidak bisa memberikan jawaban lebih karena saya pun (dan memang) tidak paham dalam konteks yang sebenarnya.
    Intinya: dalam diskusi maupun presentasi di kelas, saya mendebat bukan karena mau mencari nilai tambah dari dosen. Murni keingintahuaan saya akan sesuatu yang belum terpahamkan dalam materi indoor PMP. Maklumlah, ketika itu kami masih anak kemarin sore di Penalaran. Pengetahuan yang ada masih harus diasah lagi. Jagung siap panen pun masih lebih tua dari usia kami sebagai ‘Anak Nalar’. Saya ingat betul saat-saat itu.

    Ok. Saya kembali. Awal mula, kami ‘dipaksa’ Penalaran untuk meninggalkan frasa “saya rasa” menjadi “saya pikir” atau dalam istilah lain “menurut pemikiran saya”. Juga segala macam rupa frasa dan kata-kata yang tidak baku, tidak ilmiah, dan tidak logis dalam percakapan. Kupikir ini starting point SC (Steering Committee) kepada kami dalam membudayakan nilai-nilai ilmiah dalam diri. Kata ‘dipaksa’ sengaja saya gunakan. Alur bahasa sarkasme mengatakannya demikian. Ini bukanlah tentang simbol absurd tentang menjadi ‘Anak Nalar’, akan tetapi lebih kepada pergolakan pemikiran yang harus dibuat semakin maju. Saya terima saja dan tidak ambil pusing. Oleh karena hal itu benar adanya.

    Yang jelas: enthusiasm (baca: antusiasme) yang ada dalam diri saya sangat besar. Coba dibayangkan! Tiga bulan berjuang –pikirkan juga musim penghujan- untuk menjadi ‘Anak Nalar’. Ketika dua karya ilmiah perdana saya –Library Research & Penelitian Kuantitatif –sudah sekian kali muncrat oleh coretan merah dan hitam para pendamping, tapi kami masih bisa tersenyum riang. Sebab, di lantai satu –Bilik Nalar berada di lantai dua- kami masih bisa menyaksikan sekelompok mahasiswa bermain bulu tangkis kala malam.

    Saya sering diajak teman sepulang kuliah. Tapi setiap kegiatan di Bilik Nalar terasa memiliki magnet yang besar kala itu. Jadilah selama itu saya tidak pernah membawa raket dan sepatu kets ke gedung PKM. Pun sorak sorai latihan UKM Menwa (Resimen Mahasiswa) pagi dan sore hari. Serta aksi kocak penerimaan anggota baru UKM Seni di aula utama PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa).

    Bukan sekadar dialektika dalam berlogika. Itu juga kesan lain yang saya peroleh di Bilik Nalar. Para senior dan ‘Anak Nalar’ yang lain keranjingan membaca, menulis, dan berkarya. Untuk kali pertama, saya melihat orang-orang hebat di Penalaran berdebat sengit. Mereka marah, marah karena benar. Mereka tertawa, tertawa karena itu memang pantas untuk ditertawakan. Mereka senang, senang karena selalu berbuat yang terbaik.

    Saya berusaha meng-adaptasi nilai-nilai dan afektif di LPM Penalaran sebelum ‘dipaksa’ pindah ke Rumah Nalar. Saya tidak ingin berspekulasi apa penyebabnya. Namun pertemuan terakhir yang saya hadiri di Bilik Nalar adalah rapat yang dipimpin Ketua Umum LPM Penalaran Periode 2008/2009, Kanda Arman M. Yusuf, S.Psi. Waktu itu beliau menampilkan kepada kami video singkat calon Rumah Nalar. Dan: di sinilah saya dan kita semua berada selama lebih dari dua tahun.

    Jadi. ada sekitar tujuh atau delapan bulan menikmati Bilik Nalar. Itu singkat. Tapi itulah kesan. Setiap orang menanggapi sesuatu dengan kesan. Berkesan bagi saya, namun belum tentu berkesan bagi Anda. Bukankah demikian? The last, BILIK NALAR adalah melting pot pertama dan utama untuk semua rasa dan kesan selama ini.

    Catatan:

    1. Betapa susahnya masuk di LPM Penalaran UNM. Untuk adik-adik, penting untuk tidak memikirkan orang lain pada masa-masa penerimaan PMP-OAB. Terlebih soal pacar. Haha…

    2. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kanda Irham Ahmad (Koordinator SC), kanda Dahlia (SC KTI Kelompok), kanda Rahmat Fajar Asis (pendamping KTI Individu), dan kanda Ramli (pendamping KTI Kelompok) atas bimbingan dan atensinya.

  9. […] peradaban. Mungkin peristiwa serupa ini telah ada jauh sebelum adanya Rumah Nalar, yakni ketika Bilik Ilmiah menjadi markas besar para Laskar Nalar. Hingga ide-ide gila seringkali terkuak diselah-selah canda. […]

  10. kaisar_mujahid Says:

    apik dan menarik.

  11. postingan yg menarik!

  12. makasih kak…saya memang butuh sedikit injeksi motivasi…
    wajar kak klo saya belum bisa. Masih banyak yg perlu dibenahi.
    Oke, saya akan mulai dari sini… Membaca -> Menulis -> Mendengar -> Berbicara

    untuk yg terakhir saya memang kurang fasih… -.-

  13. akhirnya mendapat jawaban dari fungsi awal gedung tua yang terabaikan di dalam kampus… ~.~

    • oww…Gedung yang menyerufai Rumah Hantu itu adalah Gedung yang menyimfan berjuta kisah bagi fara Fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan UNM, fara aktivis unya cerita tersendiri untuk gedung ini.
      (maaf untuk huruf “F” nya)

    • ya,,,Rumah Hantu, liat saja sekarang lumut tumbuh subur pada setiap dinding-dindingnya, lantainya sudah semakin usang. Padahal dulu Semua itu adalah saksi sejarah para aktivis. Meskipun saya pada waktu itu baru menjadi anggota baru di Penalaran. Tapi aroma kekeluargaan telah hangat menyentuh hati.

      • Tambahan: atapnya tinggal rangka…😀

        Kak,tiba2 jadi iri ka’ dengan semua anggota penalaran… >.<
        hehew…

      • Mungkin wajar jie kalau iriki (tapi sampai di kelulusan jie saya harap ki iri)
        Untuk berkarya seluruh ruang terbuka, pintu hikma ada pada semua pintu yang kau tuju…
        Saya adalah orang yang mendaftar 2 kali di Penalaran, tahun pertama statusnya mirip dengan Anty (berada di daftar tunggu) kalau tidak salah urutan ke-82. Saya sabar menunggu satu tahun dan saya banyak membaca kekurangan atas kegagalan sebelumnya. Akhirnya tahun kedua mendaftar saya sudah di urutan ke-40.
        Kalau benar mau dan tertarik dengan Penalaran, tahun depan masih berpeluang. Introspeksi diri dan banyak membaca!
        Teruslah menulis!
        Awali menulis dengan membaca, setelah membaca maka menulislah. Setelah menulis maka dengarlah orang bicara. Tahap akhir untuk mendepatkan kecerdasan emosi adalah berbicara, bicaralah! Alurnya : Membaca -> Menulis -> Mendengar -> Berbicara

  14. mantap ni posting kak.
    ngerinya itu gedung PKM sekarang kak, kayak rumah hantu.😀😀
    walau saya ada di penalaran pas sudah pindahmi, tapi dengar ceritata’ yang tentang bilik PKM, miriska’ lihatki apalagi yang disuruh pindah cepat2 kodong, ada tommi lagi ukm yang sudah diusir kampus diusir tommi lagi sama warga, ada tommi juga rumah ukm yang selalu kemalingan. terlebih lagi biaya sewa rumah yang tidak ditanggung penuh birokrat, belum lagi uang listrik dan airnya yang tdak juga ditanggung kodooong.
    hahahahaha😀😀😀😀
    alangkah lucunya birokrat kita…

    • he he…untungki de bukan kita yang angkatangkat lemari….dehh

    • Banyak sekali masalah yang ditelurkan dari pemberlakuaan aturan Laranagn Aktivitas Malam itu (Kalau ingatanku benar, aturan itu mulai berlaku pertengahan tahun 2009). Jarak sekret yang jauh dari kampus adalah salah satu siasat pembunuhan kreativitas mahasiswa apalagi UKM, kasihan sekali….
      Kita tahu sekarang kondisi hampir semua Lembaga Kemahasiswaan mengalami krisis kader. Sudah krisis kader ditambah faktor keberadaan sekret yang jauh menambah panjang alasan Mahasiswa UNM untuk tidak ikut berorganisasi, selain karena memang mahasiswa sudah terjangkit virus apatis, cueks, pragmatis. Untung-untung kalau idealis!
      Beruntungnya Penalaran masih rame peminat, tapi entahlah nanti kalau sudah jadi anggota, mungkin alasan jarak yang menjadi faktor untuk tidak aktif berproses di lembaga.
      Semangat berlembaga!
      selamat berproses!

Berkomentarlah yang Santun!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s