Semangat Biru di Fisika UNM (Part 1)

 

***

Ku awali kabar tentang hariku yang telah berganti menjadi sunyi. Belum banyak kata yang kutemukan untuk mewakilkan sebagian isyarat. 11 dan 12 Januari 2012 adalah hari yang telah terpilih  menjadi hari Pemilihan Umum Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) Fakultas MIPA  Universitas Negeri Makassar. Kedua hari itu mencamplok porsi waktu  yang 24 jam dalam hidupku. Merampas beberapa sekte aktivitas yang belum jelas prioritasnya. Pemilihan Umum Ketua HIMAFI FMIPA UNM harus tetap mendapat pengawalan dari Badan Pekerja (BP) pemilihan tersebut. Tanpa niatan aktualisasi, saya adalah orang yang bertanggung jawab penuh  atas segala kemungkinan yang menjadi konsekwensi dan resiko pada pemilihan tersebut.

Menjadi penanggungjawab sebuah peristiwa penting dan bersejarah memberi tekanan tersendiri. Meski beberapa fungsi kontrol dan kordinasi BP belum berada pada posisi maksimal. Tentu 2 hari tersebut hari besar dan menentukan nasib pergerakan dan perjuangan himpunan mahasiswa. Typical kepemimpinan seorang Ketua Umum dalam sebuah organisasi atau himpunan sangat menentukan arah gerakan. Karena tetap harus diyakini bahwa Lembaga Kemahasiswaan (LK) tingkat jurusan lah yang menjadi fondasi dasar seorang aktivitas, meski pun pada realita ada beberpa aktivis yang tidak mengawali karirnya sebagai aktivis melalui LK tingkat Jurusan.

Tetaplah visi dan misi calon ketua lah yang dapat dipegang oleh para warga/mahasiswa Fisika FMIPA UNM. Dua minggu sebelum hari pemilihan berlangsung, telah dilaksanakan sosialisasi massal terhdapa beberapa mekanisme pemilihan ketua umum, dan sepuluh hari sebelum pemilihan berlangsung juga telag berlangsung forum debart kandidat. Debata kandidat yang cukup alot, antusiasme warga fisika dalam usahanya menyakinkan hati untuk menentukan pilihan pemimpin selama satu tahun terlihat dari acungan tangan untuk bertanaya yang tidak terputus.

Janji dan asa pun telah berderai dihadapan telinga mahasiswa fisika pemilih dalam hal ini seluruh mahasiswa fikia yang terkategorikan aktif. Hingga hari pertama pemilihan tadi telah terjadi agresi yang cukup hangat. Senior angkatan 2006 yang masih termasuk aktif (karena sampai saat itu belum kelar menjadi sarjana)  meminta haknya sebagai pemilih. Para panitia pelaksana pemilihan yang notabene-nya adalah mahasiswa baru atau angkatan 2011, menjunjung tinggi sebuah kesepakatan yang salah dalam menafsirkannya. Menafsirkan bahwa mahasiswa yang berhak memilih hanyalah angkatan aktif, yakni angkatan 2008 sebagai angkatan tertua untuk memilih dan angkatan 2011 sebagai angkatan termuda. Para panitia ngotot dan menahan hak suara para angkatan “tua” untuk memilih. Selanjutnya mereka mengatasnamakan kesepakatan tersebut adalah hasul kesepakatan dengan para BP.

Wajah para senior cukup memerah karena ditahan oleh para “Maba“. Sampai mereka mencoba mengirimkan pesan pendek kepada saya dan menanyakan perihal yang saya tulis di atas. Akhirnya saya berikan rasionalisasi kepada mereka dan kepada para panitia teknis pelaksana pemilihan umum. Jalan keluarnya adalah para “tetua” tetap boleh memilih dengan syarat memperlihatkan kartu pembayaran SPP atau Kartu Rencana Studi (KRS). Namun syarat dianggap rumit oleh para “tetua karena tidak semua dari mereka membawa resi pembayaran SPP yang dimaksud. Hingga saya menyarankan kepada panitia untuk meminta jaminan kepada senior lainatau dalam hal ini para BP untuk bersaksi dalam selembar Surat Pernyataan kebenaran status mahasiswa semester “tua” tersebut. Tawaran itupun dilaksanakan.

Akan berlanjut di Bagian ke II…

***

#Makassar, 12 Januari 2012

Advertisements

Berkomentarlah yang Santun!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s