Nikah Muda(h) ala Dayak Agabag

Posted in Blogger Kampus, features, Opini, Petualangan with tags , , on September 14, 2016 by mr.f

Jpeg

Siapa saja pasti familiar dengan Suku Dayak. Bahkan banyak yang punya denotasi negatif dengan suku tereksis di Indonesia ini. Suku penguasa Borneo.

Suku ini mampu bertahan mengeratkan diri dari erosi jaman  yang kian meramba masuk ke perkampungan di pedalaman Hutan Kalimantan. Masih banyak tradisi leluhur yang belum mampu ditembus oleh panah modernisasi. Cara pandang yang melahirkan kebiasaan adalah benteng pertahanan terakhir orang-orang Dayak.

Saya menyaksikan perilaku-perilaku dan pola interaksi sosial Suku Dayak Agabag di Kalimantan Utara selama lima bulan. Ketergantungan dengan alam serta tertutup rapatnya akses dari dunia luar membuat banyak hal dilakukan secara alami. Pola pikir terhadap isu-isu kehidupan tidak punya tanggapan serius bagi orang Dayak Agabag. Termasuk pendidikan, yang hanya sebagian kecil punya sedikit pergeseran. Tetapi tidak sepenuhnya sama dengan orang-orang kota memandang pendidikan.

Juga untuk isu nikah muda. Orang Dayak Agabag tidak mengenal istilah nikah muda. Pernikahan adalah hak yang juga hampir jadi kewajiban bagi seluruh anggota keluarga. Anak dan orang tua memikul tanggung jawab dalam hal pernikahan. Bagi anak, orang tua berkewajiban menikahkan anaknya, sedangkan bagi orang tua, anak berhak menikah sejak dia mulai mengenal “cinta”.

Bahkan saya mengikuti tahapan pernikahan seorang bocah perempuan yang pernikahannya ditangguhkan karena menunggu bocah perempuan itu mengalami menstruasi pertama. Saya sebut bocah sebab usianya baru masuk belasan tahun. Bocah itu baru saja tamat sekolah dasar, lalu orang tuanya sudah mempersiapkan calon suami yang juga masih sangat belia.

Akan tetapi, untuk mengatakan pernikahan semacam ini menyalahi undang-undang negara dan melanggar hak seorang anak untuk mengenal dunia, perlu saya urai disini.

Asumsi itu sangat wajar bagi orang-orang kota yang punya cara dan pola asuh anak yang mengenal jaman. Sedangkan bagi orang Dayak Agabag, anak sedari kecil sudah terbuka matanya untuk mengenal dan mengecap rasanya dunia. Sehingga sangat tidak mungkin kita menggunakan mistar yang sama untuk mengukur perihal pernikahan ini sebagai contohnya.

Orang kota mengkhawatirkan kondisi psikologis seorang anak menghadapi masa-masa bersama dalam ikatan pernikahan, juga soal organ biologis yang dipercaya belum matang untuk terjadinya suatu kerja mekanis.

Tetapi tidak bagi orang Dayak Agabag. Isu nikah muda bagi orang kota bukanlah isu bagi orang Dayak Agabag. Justru, nikah tidak di usia muda-lah yang jadi isu dan bahan bincang masyarakat.

Saya pernah punya usaha untuk menggeser paradigma itu, tetapi  percakapan dengan ibu-ibu membuat usaha saya mental di pikiran saya sendiri. Ada inti di balik semua kejadian pada tampilan luar yang orang-orang kota sangkakan, termasuk saya.

Pernikahan punya koneksi yang sangat rumit dengan semua konsep berkehidupan orang Dayak Agabag. Dimulai dari pendidikan yang diharap bisa mengalihkan pandangan orang tua untuk menikahkan anaknya di usia yang mustinya digunakan bersekolah, ternyata hanyalah sebuah ilusi bagi orang Dayak Agabag.

Tersebab, rerata kampung orang  Dayak Agabag berada di hulu sungai Lumbis-Sembakung hanya punya satu akses transportasi yaitu perahu longboat. Sekolah hanya ada pada tingkat sekolah dasar pada tiap kampung. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang di atasnya, seorang anak harus merantau ke kecamatan seorang diri.

Merantau di usia rentan itu bukanlah kebiasaan bagi orang Dayak Agabag. Apalagi, pergaulan di kecamatan tempat bersekolah merupakan pintu gerbang yang sangat longgar untuk keluar masuknya warga beda negara. Sehingga ancaman pergaulan negatif, semisal narkoba dan seks bebas benar-benar ada di depan mata. Orang tua di hulu tentu tidak akan memilih resiko sekeras itu, maka lebih baiknya anak-anak itu sudah disiapkan keterampilan hidup dasar sedari kecil, diajak pergi berburu, anak perempuan diperkenankan memikul ubi puluhan kilo, diajari cara membelah kayu bakar, dibiarkan menyentuh perkakas dapur, dan semua pekerjaan yang dilakukan ibu bapaknya.

Di awal kedatangan saya di kampung Dayakitu, orang tua saya berpesan untuk tidak tergoda dengan gadis di desa penempatan, di hulu sungai Kalimantan sana. Tetapi setelah sampai di desa dan melihat tak ada lagi perempuan yang bisa terkategori gadis, perempuan dengan raut wajah remaja sudah nampak terbiasa menyusui anak. Yang tersisa adalah bocah perempuan yang masih duduk di sekolah dasar.

Rasanya kita semua perlu mengambil langkah yang lebih massiv yang terkordinasi dalam upaya mengurangi nikah muda. Ini bukan tradisi, nikah muda hanyalah improvisasi tindakan orang tua untuk membenarkan persepsinya tentang tantangan masa depan.

Tetapi sejujurnya, nikah muda bukanlah solusi, anak-anak Dayak Agabag punya hak untuk menikmati tahapan-tahapan hidupnya tanpa terbenggu dari beban berumah tangga. Anak-anak Dayak Agabag memiliki hak untuk mengenyam pendidikan yang seyogiyanya difasilitasi oleh pemerintah. Anak-anak Dayak Agabag tidak perlu dipaksa tua sebelum usianya.

Kakak Beradik yang Sibuk

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , , on September 12, 2016 by mr.f

kakak-beradik-yang-sibuk

Masihkah kita saling mengenal dengan cara seperti ini. Kakak beradik yang sudah lama tak saling berkabar. Semoga cara seperti inilah yang baik, yang terpenting masih ada nama kita masing-masing manakala kita sedang berhadap memohon kebaikan paling baik kepada diri sendiri, muslim lain, dan juga kepada seluruh manusia.

Kita telah lama memang berjarak. Sibuknya masing-masing diri membenahi perjalanan ke masa depan. Keakraban bukan lagi milik kita. Tak pernah lagi juga kujumpai tulisan-tulisan terbaru di tempatmu menulisnya yang tidak banyak orang membacanya. Aku mungkin saja sudah tidak mengenalmu yang sekarang tanpa tulisanmu. Sebab cara kita menghadapi tantangan tidak sama. Saya masih suka membuat tulisan kamuflase dan cerita-cerita semata untuk keperluan mengisi blog atau juga kadang sedang iseng dengan imajinasi.

Ah kamu mungkin sudah tidak perlu lagi dengan keakraban yang kumaksud. Toh hidup masing-masing tanpa berkabar dan akrab juga berjalan baik. Bahagia masih nampak di wajah yang teraplot di beranda sosial media. Hanya aku saja yang posesif dengan kata keakraban masa lalu yang sebenarnya juga mungkin hanya aku saja yang merasa akrab.

Tapi aku masih boleh tersenyum mengingat-ngingat banyak juga hal lucu yang terlewati. Jika aku yang benar tentang prasangka-prasangka, mungkin kita sudah boleh tersorot pembicaraan orang lain. Walau kita bukan siapa-siapa. Tapi dulu lain ceritanya, saat aku merasa akrab. Semua berlalu dengan baik sebagai kakak beradik.

Cerita-cerita lama yang kalau aku himpun cukup panjang sebagai seorang yang menolak galau dan menganggap menulislah ajang pelampiasan banyak kata-kata yang akan hilang sirna. Aku yang pemalu pada dunia memilih mengenalmu dengan cara menulis, itu dahulu. Tetapi kenapa pula, aku yang menulis lalu aku bisa mengenalmu. Tentu itu cara aku berharap tulisan akan bersambut dengan kabarmu yang terbaru. Aku menikmati yang dulu-dulu itu, ya semoga kamu juga, aku sebagai kakak beradik.

Yang kini sedang aku lakukan tidak lain juga hanyalah bukti bahwa kamu masih memiliki ruang dalam ingatanku. Aku boleh jadi tidaklah orang yang berperasaan tetapi aku tidaklah orang yang gampang melupakan. Semoga jalan di hadapan kita masing diterangi Tuhan dengan keberkahan, dan sampai kapan saja aku tetaplah pernah menjadi kakak beradikmu.

Ilusi di Bintang Jatuh

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , , on September 12, 2016 by mr.f

sainsesia

Semalam aku lihat bintang jatuh yang begitu terang. Aku ingat mitos lama tentang siapa yang berdoa di waktu melihat peristiwa itu maka doanya akan dikabulkan Tuhan. Lalu entah kenapa, aku tak mampu memikirkan sesuatu lebih segera kecuali tentang dirinya, ingin juga segera aku beritahukan perihal tentang pentingnya dirinya akan menjadi bagian dari masa depanku.

Tapi aku tidak melakukannya, aku tidak mendoakan hal itu. Aku harus mencoba tidak banyak berharap tentang perihal masa depan itu. Akan kupasrahkan kuasaku terhadap waktu, apapun yang akan terjadi nantinya, maka terjadilah. Aku sudah pernah kecewa dengan harapan yang berlebihan, aku kini cukupkan segala doa dengan caraku sendiri melakukannya.

Dirinya sudah berganti beberapa kali, aku tak pernah melihatnya berbeda. Aku selalu menganggapnya menjadi arah, hingga aku menghilangkan segala khawatir. Manusia tidak lebih dari seorang hamba yang hanya bisa menunggu setelah dia meniatkannya. Kenyataan terakhir itu tidak ada. Tidak benar-benar ada hingga manusia juga menjadi benar-benar tak ada.

Aku menganggap doa sebagai jalan paling pintas menemui keinginan. Kebahagian itu hanyalah bergantung seberapa berkualitasnya isi kepala kita memaknai keadaan. Bila ingin bahagia, itu bisa saja. Bila ingin tak puas, itu jauh lebih banyak dilakukan oleh manusia saat ini. Ambisi yang menggebu-gebu tidak sedikit yang mematahkan hati. Ada yang mampu tumbuh lagi dengan ambisi yang lebih besar, sebagiannya terkubur bersama bayangan mimpi-mimpi. Yang tidak pernah boleh hilang semestinya hanyalah arah. Cara bolehlah adalah hasil olah rasa dan raga juga cipta manusia.

Sekarang aku menoleh ke belakang sekali lagi, kulihat masih ada dia berdiri. Tetapi aku tidak mungkin mundur hanya karena ilusi ini. Aku juga berdiri dan harus tetap melangkah, sejauh dan segelap apapun jalan di depan. Aku mengulang ratusan kali tentang harapan, aku memulai dan berhenti dan melanjutkanya. Itu caraku yang sangat lemah. Suatu hari akan kukerahkan seluruh dayaku untuk memiliki. Dalam satu momentum yang tepat.

 

Gambar; sainsnesia.wordpress.com