Kapal Perintis di Kaimana, Gratis Kemana-mana

Posted in features, lomba blog with tags , , , , , , , , on Agustus 21, 2016 by mr.f
IMG_1291

Tiga kapal perintis berlabuh di Pelabuhan Kaimana

Papua terkenal dengan sulitnya akses transportasi. Bentang alam pegunungan dan sebagian kepulauan yang semestinya menjadi penunjang pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal malah menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menikmati haknya sebagai warga negara.

Kenyataan getir ini nyata dialami oleh saudara-saudara kita di salah satu kabupaten di Papua Barat, di Kaimana. Kebanyakan masyarakat Kaimana berada di kawasan sulit akses transportasi. Tetapi begitulah Papua, bukan Papua namanya kalau tidak susah jalan daratnya. Di Kaimana, oleh sebab itu, laut menjadi media bagi masyarakat untuk mengunjungi kota. Kota Kaimana juga boleh dikata sebagai kota pelabuhan di Papua Barat. Dan satu lagi gelar apik yang begitu melekat dan populer saat menyebut kata Kaimana, apalagi kalau bukan Kota Senja Kaimana.

Kaimana, oleh pemerintah daerahnya enggan menyebut diri sebagai daerah terbelakang. Tetapi kenyataan bahwa beberapa distrik di Kaimana berada terpencil dan terisolir di gunung-gunung, jauh di dalam teluk, di seberang pulau, atau di titik-titik kampung yang tak mampu tersentuh infrastruktur mengisyaratkan bahwa Kabupaten Kaimana betul-betul membutuhkan aksi, kontribusi, dan kerja nyata siapa saja yang ingin terlibat, turun tangan baku bantu untuk maju bersama. Harus ada aksi pasti membenahi situasi yang semakin kompleks, dan itu tidak cukup hanya dengan menunggu jalan darat itu menjadi nyata. Tidak dengan hanya sekadar membuat angan-angan yang dibumbui dengan diplomasi janji-janji manis.

Kemauan untuk melipat jarak yang tanpa jalan darat itu, diwujudkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana lewat sebuah solusi dengan menyediakan fasilitas transportasi umum lewat beberapa kapal perintis sebagai transportasi umum yang digratiskan bagi masyarakat Kaimana kemana saja, sesuai rute yang dianggap strategis menyelesaikan persoalan jauh dan besarnya penghalang bagi masyarakat Kaimana membicarakan transportasi. Bayangkan saja, bila dikonversi le bentuk uang, sekali jalan menggunakan longboat pribadi dari salah satu distrik yang jauh disana menuju Kota Kaimana yang bercahaya lampu kota itu akan menghabiskan sekitar dua sampai tiga juta rupiah. Harga yang begitu mahal yang harus dibayar seorang warga untuk melihat peradaban.

Kapal perintis yang gratis ini dijadwal rutin  setiap dua minggu sekali. Bergerak dari Kota Kaimana ke distrik yang jauh di sana. Rata-rata durasi perjalanan sekitar 8 hingga 12 jam. Lalu kembali lagi dari distrik ke Kota Kaimana dengan mengangkut sebanyak-banyak warga dan semua hasil alam yang telah disiapkan untuk dibawa ke kota. Kapal perintis mampu mengangkut ratusan warga dan segala macam barang bawaannya

DCIM100MEDIA

jangan lupa bawa pinang kemana saja

Saya pernah mencoba dan menikmati transportasi gratis ini, dan berhasil merasakan betapa terbantunya masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada anak sekolah yang pulang mengunjungi orang tuanya di Kampung. Ada polisi pergi bertugas di distrik terpencil. Ada guru yang akan datang memulai pelajaran baru di sekolah dasar di sebuah kampung jauh di dalam teluk. Ada bapak-bapak yang baru saja dari kota menjual hasil melautnya. Ada ibu-ibu bersama anak-anaknya puas selepas berkunjung ke kota. Dan masih banyak jenis orang-orang dengan wajah bersyukur berada di atas kapal perintis gratis. Tentunya, menggunakan kapal perintis gratis ini jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan menggunakan kapal atau perahu longboat pribadi. inilah salah satu inovasi daerah yang ada di Kaimana dan mungkin layak diterapkan di tempat lain di Indonesia.

Kabar baiknya, di Kaimana ada enam kapal perintis dengan fungsi mengantar warga menuju rutenya masing-masing. Dengan begitu siapa saja bisa mengunjungi pelosok Kaimana dengan gratis. Kesulitan memang ada di setiap jalan kebaikan, tetapi tidak berarti kesulitan itu menutup mata untuk mencari celah. Beginilah aksi Pemda Kaimana dalam melayani masyarakatnya. Untuk Papua. Untuk Indonesia.

Kaimana kota pelabuhan

Kaimana kota pelabuhan

Orang baik masih banyak dimana-mana tidak hanya di Kaimana. Tetapi orang susah sudah pasti banyak ada di sini, di Papua. Bila semakin banyak orang baik baku bantu untuk orang susah, maka satu persatu benang semrawut masalah bangsa ini pasti bisa diurai dan dirajut kembali. Idealisme belum genap tanpa kerja nyata. Juga visi untuk membangun negeri haruslah dimulia dari aksi saat ini pula. Mari bersinergi dan dukung langkah siapa saja yang ingin berkonttibusi untuk negeri. Dan teruslah memberi kabar baik dari dan untuk Indonesia. Salam dari Kota Senja Kaimana.

*Semua gambar yang ada di dalam postingan ada dokumentasi pribadi

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahkuhttps://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Sketsa Pendatang di Tanah Papua

Posted in Blogger Kampus, features, Opini, patriot energi, Petualangan with tags , , on Agustus 21, 2016 by mr.f

IMG_1352Mungkin ada di antara pembaca yang terbayang-bayang ingin tahu rasa jadi pendatang di tanah Papua. Tanah surga yang kaya, tetapi segalanya juga menjadi mahal untuk seorang pendatang. Saya sekarang mulai memahami situasi yang dulu jadi penasaran dengan segala macam fantasi di kepala. Benar saja, pengalaman tetaplah punya satu poin pembeda dari pengetahuan.

Lalu kini saya juga sedang membentuk imajinasi sendiri, tentang hal-hal bisa saja terjadi nanti. Di Papua, tidak mulus berbuat lurus. Orang-orang telah mengenal banyak trik, tipu-tipu, dan orientasi materialis. Tetapi itu bukanlah petunjuk bagi pendatang untuk membuat situasi semakin pragmatis. Hal-hal baik punya peluang yang sama dengan kejahatan yang suatu waktu bisa menimpa pendatang. Niat belum cukup untuk melukiskan gambaran peta sosial orang Papua, tindakan budi luhur yang tulus pasti mendapat balasan yang sama.

Hidup berhari-hari sebagai pendatang baru tidak susah, tetapi memang tidak lebih mudah di tanah negeri yang lain. Banyak orang baik, di mulutnya yang manis dan juga perlakuannya. Ada juga yang sulit dimengerti ucapan dan perbuatannya. Semua tempat terjadi seperti ini, dimana saja di dunia ini. Cuma kita membicarakan reaksi dari niatan dan tindakan yang kita beri.

Pendatang memiliki sketsa wajah tersendiri terhadap pribumi. Baik secara psikis terlebih lagi memang tampilan fisik yang sangat mudah teridentifikasi. Ada mental blok untuk tidak terjajah oleh siapa saja di tanah mereka. Tetapi terlambat memahami, bahwa Papua butuh bantuan untuk mewujudkan kesetaraan, keadilan dan kemajuan bila mengambil pembanding dari pulau lain di negeri ini. Papua terlanjur menyadari bahwa mereka harus cerdas menggunakan kesempatan, namun juga sudah terlanjur terjadi kontrak berskala internasional bahwa mereka sedang dijajah pendatang. Memang tidak perlu disangkal nuansa kebangkitan untuk maju ke pentas nasional orang-orang Papua. Ada menteri, ada gubernur, bupati dari orang Papua sendiri. Tetapi itu belum cukup. Kesadaran untuk cerdas secara totalitas dari segala lapis masyarakat mutlak membutuhkan katalisator. Butuh percepatan untuk mengimbangi laju kemajuan zaman yang kini dikuasai teknologi dan orang-orang serakah menunmpuk harta setinggi langit. Pendekatan untuk melakukan ini memang sedikit banyak akan menjurus pada wacana invasi kaum pendatang di bumi cendrawasih. Mau tidak mau, kita semua sebagai Indonesia yang satu perlu baku bantu untuk Papua.

Mendatangkan pendatang tidaklah akan membuat situasi jadi lebih baik secepat mendatangkan pejabat pusat di Tanah Papua. Kemungkinannya tetap ada dua, kesetaraan-kemajuan bagi warga pribumi papua atau justru mendatangkan petaka-bencana di kemudian hari. Kita semua yang jadi pendatang tidak memiliki visi yang searah tentang hal ini. Orang datang mencari nafkah di Papua tanpa pikir itu adalah cara membuka kran pemikiran baru-maju bagi warga lokal. Orang-orang juga datang berniat baku bantu tidak lalu menampilkan tindakan yang begitu berbeda dengan pendatang yang bervisi mencari rezeki.

Tahapan kedatangan pendatang adalah satu periode penting dalam melahirkan peradaban baru di Papua. Cara pandang pendatang akan turut menciptakan bayangan masa depan Tanah Papua. Mari datang ke Papua dengan maksud baku bantu, bukan datang menumpuk batu kekayaan pribadi.

Kaimana, 19 Agustus 2016

Hubungan Tanpa Kita

Posted in Blogger Kampus, Sajak with tags , , on Agustus 21, 2016 by mr.f

IMG_1344Sulit sekali menyelesaikan tulisan ini. Berhari-hari tertahan di kepala dan berhenti di jari-jari. Aku mencari bentuk yang mungkin bisa mencipta bayangan. Sesuatu yang berada jauh di angan-angan dan bisa jadi itulah masa depan. Aku bertaruh pada segenggam keyakinan yang masih kumiliki. Aku tidak berani menghadapi kenyataan masa kini.

Tantangan hubungan ini terlihat mudah. Hanya pada satu poin, keyakinan. Keyakinan yang saling. Hubungan ini seperti keajaiban. Karena tidak pernah diawali juga belum pernah dijalani. Segala hal yang terjadi kelak masih tersimpan di dada. Belum pernah mulut ini mengucap satu janji, tapi hati ini bersaksi. Hubungan ini jauh melibatkan Tuhan.

Aku tidak semudah orang-orang membentuk ilusi sebuah ikatan. Keadaan hampa yang dipaksa berdimensi rasa. Aku bukan tidak jujur, kini dan nanti memang belumlah saatnya menyatakan semuanya. Masih ada banyak pertanyaan tentang kehidupan yang semoga ada dalam keadaan yang nyata, kelak. Hubungan ini bukanlah semata karena dipisah jarak. Tetapi masih ada resiko yang memberi celah untuk mengantarnya menjadi kejadiaan padu.

Biarlah semesta berjalan, dan tidak perlu ada risau yang berlebih, melebihi caraku menulisnya seperti ini. Sudah bermalam-malam, di sebelum tidurku, ada yang kurang bila tak kusentuh ranah yang mungkin bertema rindu. Tetapi selalu gagal aku mengira-ngira, kepada siapa akan kutuju seluruhnya. Maka itulah aku tak mengerti hubungan ini. Tetapi aku yakin ada temali doa yang saling terhubung di langit yang sedang purnama. Sebab purnama, selalu datang tepat pada siapa yang mendongak di jagat raya angkasa malam.

Aku tidak memaksa siapa yang akan paham dengan apa yang terjadi pada alam acak pikiran seseorang. Aku menulis, supaya aku tahu ada harapan yang boleh aku perjuangkan. Untuk aku sendiri dan juga untuk hubungan doa-doa yang diyakini. Aku tidak sendiri seperti ini. Aku tahu Tuhan sedang menimbang kuatnya daya dan upaya yang sedang kubuat.

Lihat tulisan ini, tanpa subjek ‘kita’. Aku berusaha menegaskan, segalanya harus dicoba tanpa harus bersama. Omong kosong kejombloan itu tidak penting sama sekali. Kehidupan dibangun berdasarkan realita dan keyakinan-keyakinan. Bukan hubungan yang belum tepat waktunya. Bukan hal-hal buta yang tidak patut dijalani seorang manusia dewasa. Bila ingin terus menikmati napas, tidak juga musti bertindak bebas. Sederhana, kita usaha susuri garis, suatu hari akan terjadi perjumpaan itu.

Dan akan kuakhirkan dengan kutipan postingan status facebook dua tahun lalu, mungkin bisa jadi petunjuk;

Hubungan itu memang begitu ajaib. Pernah ada mimpi-mimpi, rayuan, senyum kebahagiaan. Ada pula pengkhianatan, pertengkaran, kemarahan, kecemburuan, pengingkaran. Ada kebanggaan, ada pula kehinaan yang dipendam. Tapi sudahlah, “kita” sedang saling melupakan.

Kaimana, 18 Agustus 2016

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.105 pengikut lainnya